500 Tahun Reformasi : Dari Wittenberg ke Tulang Bawang

Pdt. Em. Yosef Widyatmaja,

Konprensi internasional Radicalizing Reformation dalam rangka menyambut peringatan lima ratus Reformasi ( 1517- 2017) telah berlangsung di Wittenberg Jerman. Sekitar 90 peserta dari berbagai negara dan latar belakang hadir dalam konprensi tersebut.

Konprensi dimaksudkan untuk melakukan refleksi bersama lima ratus tahun perjalanan gereja setelah lima ratus tahun Reformasi yang dilakukan oleh Martin Luther dengan 95 dalil dirasakan kurang dan perlu di radicalizing. Lima buku dalam serie Radicalizing Reformation diedit oleh Karen Bloomquist dan Ulrich Duchrow sebagai bahan studi sebelum konprensi berlangsung. Ke lima buku itu adalah : 1. Liberation toward justice.2. Liberation from Mammon. 3.Politics and Economics of Liberation.4. Liberation from violence in peace. 5.Church-Liberated for Resistance and Transformation.

94 dalil Radicalizing Reformation ditulis dan diakhiri dengan ajakan : Marilah kita lanjutkan bersama dengan pihak lain dalam siarah keadilan dan perdamaian.
Reformasi tidak cukup
Sejak reformasi, orang Jerman mulai bisa membaca Alkitab dalam bahasa mereka dan dampaknya bisa dirasakan oleh semua orang sampai hari ini. Reformasi Martin Luther dianggap tidak cukup dan setengah hati oleh golongan petani yang menjadi korban pemerasan oleh pangeran dan bangsawan. Tuntutan Reformasi hanya memberi manfaat bagi kepentingan pendeta dan pangeran di Jerman dan tidak menyentuh dan memperbaiki nasib petani.

Kelompok petani dibawah pimpinan Thomas Muntzer menuntut agar semangat reformasi dan perintah Alkitab juga berlaku dalam kehidupan di masyarakat. Tuntutan para petani yang dikenal dengan 12 artikel antara lain menuntut: hak untuk memilih pastor dan pemimpin mereka, jaminan untuk mengawasi dana yang digunakan untuk pastor, orang miskin dan situasi yang dibutuhkan; hak untuk berburu dan memancing; hak untuk menebang pohon untuk kebutuhan keluarga; larangan kerja paksa; pengurangan pajak; penghapusan pajak warisan dan lain lain. Dalil itu juga menuntut agar semua peraturan harus berdasarkan Alkitab sesuai dengan semboyan sola scriptura. Soal penguasaan alam lingkungan Thomas Muntzer berkata Semua ciptaan telah diubah menjadi harta milik, semua ikan di air, semua burung di udara, semua tumbuhan di bumi, semua harus menjadi mahkluk bebas . Apa yang salah dengan tuntutan para petani?

Martin Luther gagal menjembatani konflik tanah antara petani dan bangsawan sehingga terjadi perang petani pada 1525. Sejarah adalah cerita para pemenang. Dalam sejarah gerakan petani pimpinan Thomas Muntzer di gilas oleh tentara dukungan gereja Katolik dan Luther. Mereka menyebut Thomas Muntzer sebagai seorang bidat ( ajaran sesat ) dan pelaku kekerasan. Martin Luther dan Thomas Muntzer keduanya merupakan tokoh reformasi. Keduanya bukan malekat maupun iblis. Masing masing ada kelebihan dan kekurangannya. Peasant war tidak berhenti di Jerman tapi menembus waktu dan tempat melalui kolonialisme di benua lain Amerika, Australia, Afrika dan Asia. Perlawanan petani atas ketidak adilan tanah tidak berhenti. Sekali lagi sering gereja tidak hadir dalam perjuangan petani tertindas..

Setelah 500 tahun Reformasi : Dari Wittenberg menuju Tulang Bawang.
Setibanya penulis kembali ke Solo dari konprensi Wittenberg, atas permintaan Gereja Kristen Sumatera Bagian Selatan ( GKSBS) dan di f fasilitasi PGI, penulis menjadi saksi ahli yang meringankan untuk tuduhan penghasutan yang di timpakan atas diri Pendeta Sugijanto ( Pak Gie) di pengadilan Manggala Tulang Bawang Lampung. Disebabkan pak Gie membela dan mendampingi petani yang menjadi korban perampasan lahan mereka oleh PT BNIL, kini ia harus menerima hukuman 18 bulan dari Pengadilan Tulang Bawang atas tuduhan menghasut rakyat. Tuduhan serupa yang dikenakan pada semua aktivis yang membela rakyat dari zaman ke zaman.
Kalau 500 tahun lalu di gereja Reformasi tidak hadir dalam perjuangan petani tidak demikian dengan yang terjadi di Tulang Bawang. GKSBS membuat surat pastoral soal keadilan agraria, membentuk Tim Advokasi Keadilan Agraria serta pendampingan dan dukungan pada petani dan pak Gie yang menjadi korban krimininalisasi. Pak Gie berkata bahwa ia rela menjalani hukuman 18 bulan asalkan hak petani atas tanah yang diduduki oleh PT BNIL dikembalikan pada rakyat.

Perjuangan GKSBS dan pak Gie merupakan simbol perlawanan gereja atas empire dan mammon di era globalisasi. Perjuangan mereka tidak sendiri. Ada puluhan juta petani Indonesia yang merindukan keadilan agraria. Semoga jeritan dan tangisan petani Tulang Bawang tidak berhenti di kantor Komnas HAM, KPA (Konsortium Pembaruan Agraria) dan Kepala Staff Presiden tapi sampai ke telinga Jokowi Presiden wong cilik. Inilah doa kita yamg tidak boleh di lupakan di tengah hiruk pikuk Pilkada DKI.

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *