Apa dan Bagaimana Puasa dalam Tradisi Kristen

Orang Kristen berpuasa? Bukankah puasa hanya ada dalam agama Islam, Hindu, dan Kejawen? Tapi, bukanlah orang Katolik juga berpuasa? Bukankah penulis-penulis Alkitab dan Yesus juga menyinggung tentang puasa? Bagaimana berpuasa dalam tradisi Alkitab dan gereja hingga menjadi sebuah pelatihan spiritualitas?

Puasa adalah praktek universal umat manusia ini; juga telah dikenal dalam tradisi Kristen sejak awal. Puasa di dalam kekristenan berakar dari tradisi Yudaisme (dan mempunyai kesejajaran dalam Islam), tetapi tidak sama. Perbedaan puasa dalam agama Kristen adalah praktek ibadah yang dijalankan secara suka rela dan personal. Walaupun ada beberapa Gereja yang menetapkan puasa secara resmi dan ada pula yang tidak menetapkannya secara resmi, tetapi praktek itu dengan segala tata caranya terdapat di dalam sejarah kekristenan, baik di biara maupun di gereja.

Puasa sebagai ibadah suka rela, artinya puasa memang tidak diharuskan atau diwajibkan. Lukas 5:33-35 mengisahkan ketika Yesus menjawab pertanyaan orang-orang Farisi tentang murid-murid-Nya yang tidak diajarkan berpuasa sebagaimana para murid Yohanes Pembaptis. Yesus menjawab: “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka? Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa.” Jawaban Yesus ini memberi kesan bahwa puasa tidak wajib dilakukan, terutama ketika Ia masih bersama para murid.

Puasa sebagai ibadah personal, artinya puasa dijalankan seorang pribadi, namun tidak serempak. Ibadah komunal, semisal ibadah hari Minggu, dijalankan serempak dalam sebuah jemaat. Puasa sebagai ibadah personal dijalankan di dalam kebersamaan, namun tidak seragam dan serempak, dan juga tidak berjalan sendiri – puasa bukan ibadah individual. Memang ada hari-hari tertentu seseorang berpuasa, yaitu: Jumat Agung, Rabu atau Jumat sepanjang tahun. Namun bagaimana seseorang berpuasa, tidak seragam. Dalam tradisi Kristen membuka keberbagaian bagaimana setiap orang berpuasa. Ada yang mengurangi makan, ada yang tidak memakan yang disukainya, ada yang menahan dari tidak merokok, ada yang tidak melakukan kegiatan kesukaan rutinnya, dsb. Bahkan Santo Benediktus mengajarkan tentang puasa hati, terutama bagi mereka yang lemah fisik. Puasa hati adalah menahan diri dari tutur kata, pikiran, dan perasaan yang sia-sia.

Jadi inti puasa adalah menahan diri dari perbuatan dan sikap yang menentang Tuhan. Seseorang yang berpuasa adalah seseorang rindu berada di dekat Tuhan.

2 Comments

  1. Tradisi Gereja Reformasi (Protestan) di Indonesia memang tidak menganjurkan puasa, bahkan bisa dikatakan tidak pro terhadap puasa. Bertolak dari pandangan bahwa puasa sebagaimana meditasi, tarak dan asketisme sampai menyiksa diri merupakan perbuatan-perbuatan amalan dengan tujuan ingin mendapatkan pahala. Hal-hal yang dipraktikkan Gereja Katolik setidaknya pada zaman di mana gerakan Reformasi Gereja timbul di Eropa. Sejarah Protestan yang memang mengkritisi ke Katolikan menyebabkan puasa, dipandang sebagai “bukan kami”. Ajaran ‘sola fide, sola gracia’ dalam Gereja Reformasi mengukuhkan pandangan untuk menolak puasa dalam Gereja-gereja Protestan. Ajaran yang dipercayai merupakan amanat ajaran rasul Paulus dan Perjanjian Baru, bahwa keselamatan semata-mata tergantung pada rahmat Allah di dalam Yesus Kristus dan bukan perbuatan manusia.
    Selanjutnya Buku “Sejarah Gereja”, oleh Dr. H. Berkhof dan Dr. I.H. Enklaar, diterbitkan BPK Gunung Mulia membahas bahwa, sejak permulaan abad ke 2 ajaran pokok di atas (dari PB mengenai keselamatan) sudah banyak diabaikan umat. Dikatakan Injil menjadi Taurat Baru supaya perbuatan-perbuatan amalan dan kebajikan manusia diganjar Tuhan.
    Gereja Protestan termasuk GKI perlu memertahankan identitas dan tak perlu menganjurkan kegiatan puasa ini. Sehingga Sola fide, sola gracia tak sekedar sebagai slogan.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *