Bijak memaknai perbedaan

Pdt. Essy Eisen,

Proyek konstruksi terbesar yang pernah dibangun manusia ialah Tembok Cina. Pembangunannya memakan waktu 1700 tahun dan memakan banyak biaya dan nyawa manusia. Tujuan tembok itu untuk menangkis serangan musuh. Malang, kejatuhan kaisar justru bukan karena serangan dari luar, tetapi karena perseteruan yang ada di dalam wilayah kekaisarannya.

Manusia memiliki kecenderungan buruk, dengan membangun mental yang mirip bangunan tembok. Jika “mental tembok” ini menjadi tameng dan pembatas dalam melakukan kasih yang seharusnya dapat kita lakukan untuk orang lain, kita perlu mengganti cara pandang hidup yang sebenarnya “mematikan” itu.

Perempuan Samaria ini kaget sewaktu Yesus meminta air kepadanya. Hubungan orang Samaria dengan orang Yahudi kebanyakan pada waktu itu tidak begitu harmonis. Orang Samaria dianggap sebagai orang yang tidak murni lagi rasnya karena kawin campur dengan bangsa lain. Apalagi mereka memilki tempat ibadah tersendiri jauh dari Yerusalem.

Yesus mendobrak ruang sempit ini. Bagi Yesus, kabar baik itu untuk semua orang. Apapun jenis kelamin, ras, kedudukan sosial, dosa masa lalu seseorang, tidak boleh membatasi kasih Allah yang berlimpah untuk orang itu. Yesus adalah sumber air yang memberi kehidupan bagi jiwa yang haus akan kasih Allah.

Sebagai pengikut Kristus, tindakan Yesus yang mendobrak “ruang sempit” yang dibatasi oleh sekat prasangka dan penghakiman kepada orang yang berbeda dari diri sendiri ini penting. Dalam kepelbagaian, kita ditantang untuk berbagi ruang bersama dalam hidup ini. Tindakan kongkrit yang dapat dilakukan ialah dengan menerima perbedaan yang ada di tengah bangsa ini.

Selama ini bagaimana sikap Anda dalam melihat perbedaan?

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *