Refleksi Mingguan

renungan yang diterbitkan mingguan

Hiduplah Sebagai Orang Arif…

Bacaan 1: 1 Raja-raja 2:10-12, 3:3-14 Antar Bacaan: Mazmur 111 Bacaan I1: Efesus 5:15-21 Bacaan III: Yohanes 6:51-58 Hidup ini seringkali harus memilih; baik pilihan mudah maupun pilihan yang sulit. Untuk pilihan yang mudah (warna baju ke gereja, model baju,setelah ibadah kita akan ke mana) tentu diputuskan dengan.mudah dan tanpa mengandung resiko yang besar. Perlu […]

Refleksi Minggu, 28 Juni 2015

Kasih: Kekayaan yang Mempersatukan II Sam.1:1; 17-27; Mzm.130; II Kor.8:7-15; Mark.5:21-43 Kematian Saul mustinya menjadi moment yang membahagiakan bagi Daud. Betapa tidak, orang yang selama ini memusuhi dirinya bahkan selalu mencari cara untuk membunuhnya, akhirnya mendapat hukuman Tuhan. Yang memilih Daud menjadi raja Israel adalah Tuhan sendiri, namun atas pilihan Tuhan tersebut, Daud mendadak mengalami […]

Refleksi Mingguan, 14 Juni 2015

Pikiran dan hati yang jernih dan seimbang Yeh. 17:22-24; Mzm. 92:2-5, 13-16; 2Kor. 5:6-10, (11-13), 14-17; Mrk. 4:26-34 Kejernihan pikiran dan hati untuk menyadari bahwa Allah baik dan kuasa kasih-Nya akan menuntun langkah hidup dalam situasi yang pelik sekalipun adalah sebuah tindakan iman yang sehat. Sebab adakalanya cara pandang dalam beriman begitu mudahnya dibelokan oleh […]

Refleksi Mingguan 31 Mei 2015

Karya Trinitas Yang Membarui: Dari Atas, Ke Dalam. Bacaan: Yes.6:1-8; Mzm.29; Rm.8:12-17; Yoh. 3:1-17 Dua hal yang dialami manusia saat ini yg membelenggu: rutinitas dan kompetisi. Keduanya justru seringkali berpengaruh negatif kpd manusia. Apakah ini yg juga menjebak kita, orang beriman? Sehingga kita berlaku dosa? Yesaya menyadari; diapun ada dlm situasi yg tdk jauh beda. […]

Refleksi Mingguan – 17 Mei 2015

Tema : DIKUDUSKAN DALAM KEBENARAN FIRMAN Bacaan I : Kisah Para Rasul 1:15-17, 21-26 Antar Bacaan : Mazmur 1 Bacaan II : I Yohanes 5:9-13 Bacaan III : Yohanes 17:6-19 Dr. Ben Witherington III seorang pakar PB dari Amerika Serikat dalam sebuah bukunya menyatakan bahwa di Amerika orang hidup di tengah budaya yang kental dengan […]

Refleksi Mingguan 10 Mei 2015

Saling Mengasihi Yohanes 15:9-17 Saudara-saudara,…….. Kerajaan Allah adalah kerajaan cinta kasih, yang di dalamnya Allah menunjukkan cinta kasihNya dengan cara memberikan tubuhNya sendiri. Dia hadir di tengah-tengah ciptaanNya untuk memulihkan dan menyembuhkan. Dia hadir menjadi sesama di antara sesama – berkeliling dan menunjukkan tubuh manusiawiNya, menyapa banyak orang dalam pergumulannya masing-masing. Hingga pada puncaknya menghantar tubuh jasmaniahNya di palang salib – terkulai dan mati dalam kemuliaan. Dan setalah kematian dan kebangkitanNya maka tubuh jasmaniahNya tidak lagi hadir, tetapi bukan berarti kasihNya berakhir. KasihNya tetap nyata dan tidak berubah, dan para muridlah yang diminta untuk melanjutkanNya. Hadir di antara sesama dengan kasihNya. Hal itulah yang Yesus pesankan kepada para muridNya pada waktu itu dan kepada setiap kita para muridNya saat ini. “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikian juga Aku telah mengasihi kamu – tnggallah di dalam kasihKu itu…..menuruti perintah BapaKu dan tinggal di dalam kasihKu….Dan inilah perintahKu, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu” Melalui bagian itu Yesus hendak menegaskan kepada setiap kita bahwa sikap kasih kita kepada Kristus itu dinyatakan bukan lewat ritual dan ceremonial – tetapi lewat kasih kita kepada sesama. Jika kita bersungguh-sungguh mengasihi mengasihi Dia, maka kita juga diminta untuk bersungguh-sungguh mengasihi sesama. Saudara-saudara,……. Banyak orang begitu memberi perhatian pada palang salib tanda cinta kasih Allah. Begitu fokusnya mereka kepada simbol kasih itu, sampai-sampai mereka mengabaikan “objek” kasih yang ada di sekitar mereka. Pdahal sesungguhnya wajah Yesus ada di antara wajah sesama, tubuh Yesus ada di anatara tubuh sesama, hati dan perasaan Yesus juga ada di antara hati dan perasaan sesama. Di abad sekarang ini Yesus tidak lagi hadir dalam wajah Yahudi dengan jubahNya tetapi bisa jadi Dia hadir dalam wajah-wajah para miskin dengan pakaian lusuh, atau lewat para eksekutif dan pengusaha dengan kemeja putih dan dasinya. Yesus juga dapat hadir dalam diri perempuan korban kekerasan, atau anak-anak yang kehilangan kasih sayang. Yesus dapat hadir dalam diri siapa saja.   W.S. Rendara, dalam karyanya Mazmur Mawar, dalam kumpulan sajak-sajak sepatu tua mencoba menjelaskan Tuhan yang begitu dekat dengan manusia. Dia katakan demikian: “Kita muliakan nama Tuhan, kita muliakan dengan segenap mawar. Kita muliakan Tuhan yang manis, indah dan penuh kasih sayang. Tuhan adalah serdadu yang tertembak, Tuhan berjalan di sepanjang jalan becek sebagai orang miskin yang yua dan bijaksana, dengan baju compang-camping membelai kepala anak-anak yang lapar”.  Begitu dekatnya Rendra melukiskan tentang keberadaan Tuhan dalam kehidupan sesama, selanjutnya Rendra juga menuliskan: “Tuhan adalah bapa yang sakit batuk, dengan pandangan yang arif dan bijaksana membelai kepala pelacur. Tuhan berada di gang-gang gelap bersama para pencuri, para perampok dan pembunuh. Yuhan adalah teman sekamar para pezinah. Raja dari segala raja adalah cacing bagi bebek dan babi. Wajah Tuhan yang manis adalah meja perjudian yang berdebu dan di bantingi kartu-kartu”. Rendra juga bahkan melukiskan wajah Tuhan dalam wajah banyak orang yang di jauhi dan dihindari. Yang dianggap kotor dan penuh dengan dosa. Diakhir puisinya rendra juga berucap: “Wahai….Ia adalah teman kita yang akrab! Ia adalah teman kita semua: para musuh polisi, para perampok, pembunuh, penjudi, pelacur, penganggur dan peminta-minta. Marilah kita datang kepadaNya- kita tolong teman kita….” Saudara-saudara,……. Mengabaikan sesama berarti mengabaikan Tuhan, tidak memperdulikan sesama berarti tidak memperdulikan Tuhan. Hal ini menjadi sesuatu yang penting dan relefan karena dunia kita sekarang ini adalah dunia yang di dalamnya banyak orang menjadi semakin egois dan egosentris. Dunia yang di dalamnya setiap orang dibayangi dengan begitu banyak pertimbangan dan pikiran, hanya karena sekedar melakukan perbuatan kasih. Dunia kita adalah dunia yang membutuhkan kasih untuk diberlakukan. “Kamu adalah sahabatKu, jika kamu berbuat apa yang Aku perintahkan kepadamu – dam perintah itu adalah supaya kamu saling mengasihi”. Dengan demikian, hidup dalam sikap saling mengasihi itu bukan sekedar sebuah konsekuensi dari sebuah pengikutan – tetapi hidup di dalam kasih adalah sebuh panggilan atau tanggung jawab kita di hadapanNya. Penderitaan dan salib Kristus membuat kita tergetar saat melihatnya – tetapi penderitaan dan kesusahan sesaama seharusnya membuat kita tergerak. Karena kasih Allah dalam Yesus Kristus maka dunia kembali menjadi berpengharapan dimana yang lumpuh berjalan, yang buta di celikkan, yang bisu kembali bicara dan yang putus asa tanpa pengharapan kembali dapat berkarya. Tetapi Yesus harus kembali kepada Bapa dan meninggalkan kasih itu bagi kita. Dia yang memilih kita dan menetapkan kita untuk pergi dan menghasilkan buah, memberikan kepada kita tugas untuk menyatakan hidup dalam kasih dengan sesama. Pekerjaan dan karya Allah di tengah dunia ini tidak boleh berhenti – setiap kita (saudara dan saya) di panggil untuk melanjutkannya. Menghantar banyak orang untuk menghampiri, mengalami dan menikmati kasihNya. Dan hanya dengan cara itulah maka kita akan dapat terus menikmati cinta kasih Allah dalam hidup kita. Bagi mereka yang dengan sunghuh-sungguh menyatakan kasih kepada sesama, maka Dia pernah berkata: ….”supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam namaKu di berikanNya kepadamu”. Di dalamnya ada semacam janji, bagi mereka yang meberlakukan kasih kepada sesama sajalah yang pada akhirnya berhak mengajukan permohonan kepada Bapa dan Bapa memperdulikannya. Itu artinya, melalui kalimat tersebut kita juga di ingatkan bahwa kita telah dan akan terus menerus mendapatkan kemurahan Tuhan – namun kita juga diminta untuk terus menyatakan kemurahan itu lewat sikap kasih kita kepada sesama. Saudara- saudara yang di kasihi Kristus……… Kasih selalu melahirkan kasih, dan kasih tidak pernah akan berakhir. Kasih Allah akan semakin bertambah-tambah dalam hidup kita hanya ketika kita selalu punya waktu untuk mengasihi sesama. Semakin banyak kita mengasihi maka semakin bertambah-tambahlah kita merasakan keindahan kasih. Dan semakin bertambah-tambah kita menikmati kasih maka semakin bersungguh-sungguhlah kita menyatakan kasih. Pdt. Imanuel Kristo

Refleksi Minggu 3 Mei 2015

Melekat Pada Kristus Yohanes 15:1-8 Mengikut Kristus semestinya tidak berhenti pada status belaka, tetapi juga berlanjut dalam fungsi-fungsi yang dilakukan dengan nyata dan berkala di sepanjang hidup. Tentu ada proses yang sehat dan berkualitas yang harus terjadi dalam diri pengikut Kristus. Hubungan yang berkualitas dengan Kristus antara lain ditunjukkan melalui kesediaan mendalami makna Firman Allah […]

Refleksi Mingguan 26 April 2015

Tawaran Sang Gembala: Hidup Berkelimpahan Bersama Komunitas Bacaan: Kis. 4 : 5-12 Mazmur 23 I Yoh 3: 16-24 Yohanes 10: 11-18 Hidup berkelimpahan biasanya dipahami dengan banyaknya materi, uang dan harta. Hidup berkelimpahan biasanya dianggap sebagai pengumpulan harta benda untuk dirinya sendiri. Di masa Paska, kita diingatkan bahwa keselamatan dan hidup baru umat Tuhan semata-mata […]

Refleksi Minggu Paskah 5 April 2015

Bahan: Kis. 10:34-43; Mzm. 118:1-2, 14-24; I Kor.15:1-11; Yoh. 20:1-18. Kristus yang Bangkit tidak Membedakan Orang Primordialism, secara natural melekat pada kehidupan seseorang ketika belum mengenal kemajemukan dunia tempat ia tinggal. Tak dapat disalahkan sepenuhnya apabila Petrus pun memiliki konsep yang sama. Pengalaman hidup bersama Saudara satu suku dan satu agama agak menyulitkan Petrus untuk […]