CCA Tegaskan Martabat dan Hak-hak Penyandang Kebutuhan Khusus dan HIV/AIDS

SINODEGKI.ORG -“Gereja-gereja di Asia harus memperkuat anggota mereka agar memahami martabat dan identitas dari orang yang berkebutuhan khusus (PWD) dan Brothers and Sisters Living with HIV/AIDS (BROSLIH) untuk membebaskan diri mereka dari stigma-stigam,” ucap Rev. Dr. Stephen Arulambalan, saat menyampaikan materi di seminar teologis tentang ‘People with Disabilities and HIV/AIDS’.

Seminar ini dilakukan oleh Christian Conference of Asia (CCA) di International House of the Payap University, Chiang Mai, Thailand, sejak 11-14 November 2016.

Dalam penyampaiannya mengenai tema, ‘Biblical and Theological Perspective on HIV/AIDS and Disability Issues’, Rev. Dr. Stephen Arulambalan, seorang pendeta Anglikan dari gereja Ceylon dan anggota dari Faculty of the Theological College of Lanka, menceritakan pengalamannya sebagai seorang pendeta, serta orang yang dengan kebutaan, tetapi menikmati berkat Tuhan dengan cara yang bermacam-macam.

“Satu cara utama untuk menyingkirkan stigma terhadap seseorang yang berkebutuhan khusus dan BROSLIH adalah membaca alkitab dan memahami esensi pesan dari Alkitab dalam konteks sosial dan kultural. Sebagai seorang Kristen, kita harus dapat memperlakukan setiap orang dengan penuh martabat dan kerendahan hati mengakui kelebihan yang mereka miliki,” katanya.

Menurut Stephen, banyak konsep yang salah di sekitar orang Kristen terhadap BROSLIH dan PWD yang dihubungkan dengan dosa atau mereka yang menerima hukuman dari Tuhan. Ide-ide kesempurnaan dan keindahan tertanam dalam ingatan kita, dan disetujui oleh budaya kita untuk menegasikan segala bentuk kecacatan.

Sementara itu, Dr. Matthew George Chunakara, Sekjen CCA, dalam sambutan pembuka mengatakan, “Kita hidup dalam budaya tabu di lingkungan dan gereja kita dalam mengenali martabat orang yang hidup dengan kebutuhan khusus dan juga dengan HIV/AIDS, hal ini merupakan tanggung jawab kita untuk menantang nilai-nilai yang ada. Konsultasi CCA bertujuan untuk memberikan kesempatan untuk meningkatkan kepekaan gereja mengenai diskriminasi terhada PWD, terlebih lagi kepada BROSLIH.”

Dia juga berbicara mengenai inisiatif terbaru CCA untuk pembentukan Asian Ecumenical Disability Advocacy Network (AEDAN) untuk mengerakkan gereja-gereja Asia dalam menanggapi kebutuhan orang-orang yang berkebutuhan khusus dalam masyarakat dan mengangkat martabat mereka.

Prof. Irwanto dari Universitas Atma Jaya di Indonesia dalam presentasinya mengenai ‘Socipsycho-cultural Perspective on HIV/AIDS and Disability Issues’ mengembangkan kelompok dengan melihat organisasi yang berdasarkan solusi bantuan.

“Kita harus melihat permasalahan ini dalam pandangan yang baru jika kita mendekatkan cca-2016mereka, menemukan nama yang baik untuk BROSLIH dan PWD. Kita harus mengubah labeling, kita butuh mendefinisikan ulang masalah, dan serta konsepsi ulang sebagai solusi,” tambah Prof. Irwanto.

Dalam seminar ini, beberapa fitur sesi interaktif yang dipimpin oleh ahli dalam ‘Biblical and Theological perspectives on HIV/AIDS and Disabilities’, ‘Sociopsycho-cultural Perspective on HIV/AIDS and Disabilities’, ‘Medico-clinical Perspectives on HIV/AIDS and Disabilities’, dan‘Strengthening full participation of Persons with Disability in Asia’.

Koordinator Program CCA HIV/AIDS, Dr. Alphinus Kambodji mengatakan, “Kami menyadari bahwa gereja dipanggil untuk melakukan pelayanan penyembuhan, dan kami mengakui gereja-gereja kita, dengan struktur dan kultur, membutuhkan penyembuhan sendiri.

Seminar diikuti  25 orang peserta yang terdiri dari para teolog, pekerja gereja, aktivis sosial dari berbagai negara di Asia. (pgi.or.id/spw)

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *