Cinta

C I N T A

Oleh: Arliyanus Larosa

 

Saya kira tidak ada kata lain yang lebih populer dan sering diucapkan di dunia ini oleh kebanyakan orang, kecuali kata cinta. Para politisi, negarawati/wan, rohaniwati/wan, penyair, pemusik, tukang batu, dan lain-lain, pasti pernah –bahkan mungkin sering– mengucapkannya, paling tidak, senang mendengarnya. Buktinya? Sederhana saja! Coba masuk ke toko CD, dan lihatlah betapa sejak zaman baheula sampai sekarang lagu tentang cinta terus memenuhi pasar. Dan lagu itu selalu laris manis, bagai pisang goreng. Sehingga pisang goreng, cinta dan warung kopi, memang kadang tidak berbeda lagi, kata penyanyi Kembar Group.

Tapi, apa itu cinta?

Cinta biasanya didukung oleh perasaan yang menyenangkan. Orang-orang muda dan orang-orang yang pernah muda pasti membenarkan pernyataan ini. Namun, cinta bukanlah perasaan. Andaikan cinta adalah perasaan maka ia akan menjadi sangat labil. Sebab perasaan itu labil, tergantung pada rangsangan dari luar. Kalau rangsangannya menjengkelkan, maka perasaan jadi kacau-balau; kalau menyenangkan, maka perasaan berbung-bunga. Maka, cinta pasti bukanlah perasaan, sebab cinta itu stabil. Cinta lebih merupakan suatu keputusan untuk terlibat dalam kehidupan seseorang (atau sekelompok orang) untuk mengusahakan kebaikan tertinggi baginya (mereka). Itu berarti setiap kali kita mengucapkan kata cinta, di dalamnya harus terkandung kesediaan untuk memberi apapun dan menjadi apapun demi kebahagiaan dan pertumbuhan yang dicinta itu.

Kata cinta dalam pengertian seperti di atas, tersebar dalam Alkitab. Dalam Perjanjian Lama kita dapat menyebutkan Ulangan 7:7,8 sebagai salah satu contoh. Dalam nas ini kita mendapat kesaksian bahwa karena Allah mencintai Israel, maka Ia membebaskan mereka dari perbudakan Mesir. Dari Perjanjian Baru, kita dapat menyebut Yohanes 3:16 sebagai nas pamungkas. Melalui nas ini kita mendapat kesaksian bahwa karena begitu besarnya kasih Allah kepada seluruh dunia ini, Ia memutuskan untuk terlibat dalam kehidupan manusia secara lebih fundamental dengan mengirimkan Tuhan Yesus. Dan tujuannya adalah mendatangkan kebaikan tertinggi bagi dunia ini, yaitu kehidupan kekal.

Cinta dalam pengertian semacam ini memang terkesan serem, menakutkan. Sebab bila cinta adalah keputusan untuk terlibat dalam kehidupan seseorang (atau sekelompok orang) guna mendatangkan kebaikan tertinggi, maka itu berarti dalam cinta tidak dikenal kata meminta (perhatian, kepuasan, dll) melainkan memberi, memberi dan memberi. Seseorang yang mencinta harus mau memberi apapun, melakukan apapun, menjadi apapun, demi orang yang dicinta. Nah, di sinilah ada kesan seremnya. Sebab kalau mencinta hanya memberi melulu, lalu kapan yang mencinta kebagian?

Lagi pula, apa ada orang yang layak menerima cinta yang tulus seperti ini? Bukankah kebanyakan orang akan ngelunjak kalau diberi hati apalagi kalau dicinta begitu rupa dalam cara seperti ini? Bukankah banyak orang cenderung menjadi seperti kucing, kalau punggungnya dielus ekornya malah bisa menampar muka si pengelus? Karena itu mesti ada batasnya. Mesti ada syaratnya.

Keberatan-keberatan seperti ini memang dapat dimengerti. Tapi kalau kita ingin mencinta secara benar, maka itulah cinta. Kalau kita mengamati nas Alkitab yang kita sebut di atas, maka sangatlah jelas bahwa dalam cinta semacam ini memang terkandung ketidak-bersyaratan. Cinta yang sejati adalah cinta yang tidak bersyarat. Allah membebaskan Israel dari tanah perbudakan dari Mesir bukan karena Israel baik, sebaliknya mereka degil. Allah mengutus Tuhan Yesus untuk memberi hidup yang kekal bukan karena manusia itu baik, sebaliknya manusia itu berdosa. Allah mencinta tanpa syarat. Dan dalam cintanya itu, Ia memberikan apa saja demi yang dicintai. Namun yang diberikan itu adalah demi kebaikan. Andaikan manusia meminta yang mencelakakannya, maka Allah, karena cinta-Nya, pasti tidak akan memberikannya. Dalam artian yang demikian inilah ketidakbersyaratan cinta itu harus kita fahami.

Karena cinta itu tidak bersyarat, maka andaikan kita mencintai seseorang, entah itu anak, orang tua, istri, suami, menantu, mertua, cucu, opa, oma, pacar, teman, karena mereka itu pernah menyenangkan kita atau karena mereka berbuat baik kepada kita; sesungguhnya kita tidak pernah mencintai mereka. Kita hanya memperalat mereka demi kesenangan kita. Dan demikian juga sebaliknya. Kalau karena cinta kita memberi apa saja, padahal kita mengetahui hal itu akan mencelakakannya, maka kita pun sebenarnya tidak sungguh-sungguh mencinta.

Mencintai sesungguhnya berarti menerima diri orang yang dicinta dan memberi diri sendiri apa adanya, tanpa syarat, demi kebaikan dan pertumbuhan. Barangkali dalam jalinan cinta semacam ini kadang-kadang muncul ketidakcocokan atau mungkin emosi yang mengganggu. Atau barangkali juga terbentang jarak psikologis, fisik, sosial, atau ekonomi yang begitu jauh. Biarkan itu apa adanya. Cinta harus dapat menerima itu apa adanya.

Kahlil Gibran dalam bukunya Sang Nabi mengatakan: “mencintai tanpa syarat tak boleh dimengerti sebagai membuat dua buah pulau menjadi satu daratan yang utuh. Hubungan cinta tanpa syarat lebih mirip dua buah pulau yang tetap berbeda, tetapi pantai-pantainya tetap dibasahi oleh air cinta yang sama.” Mencintai seseorang, dengan demikian, tidak berarti berhenti mencintai diri sendiri. Sebaliknya kita tidak mungkin mencintai seseorang tanpa terlebih dahulu mencintai diri sendiri (Matius 22:39).

Cinta memang membutuhkan pengorbanan. Yang mencinta perlu bahkan harus berkorban, memberi, dan melakukan apa saja demi yang dicinta. Tapi ingat! Jangan pernah mengingkari diri sendiri. Semua pemberian itu harus tetap terikat pada suatu hubungan yang jujur dan terbuka. Katakan ya jika ya, dan tidak jika tidak. Sebab mencintai berarti pula membenci segala sesuatu yang bertentangan dengan cinta.

 

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *