Counter-intuitive Obedience

Pdt. Yolanda Pantou,

Ada hal-hal dalam hidup yang bersifat counter-intuitive, atau berlawanan dengan yang tampaknya alami. Misalnya, orang berpikir bahwa semakin banyak belajar, orang seharusnya lebih banyak tahu, tapi kenyataannya orang yang semakin banyak belajar, akan menyadari bahwa ia tidak tahu apa-apa. Justru orang yang tahu sedikit yang lebih sering banyak bicara.

Hal yang berlawanan dengan intuisi manusia ini terjadi dalam berbagai bidang kehidupan, mulai dari kebahagiaan hidup sampai hal bisnis dan relasi, juga termasuk dalam kehidupan beriman.

Dalam hal bisnis yang tujuan utamanya adalah menghasilkan uang, maka logika umum yang segera muncul adalah berpikir untuk menyimpan uang sebanyak mungkin. Tapi pada kenyataannya, sebagian besar orang yang berhasil dalam bisnis dan keuangan adalah ketika mereka (berani) membelanjakan uang sebelum bisa menghasilkan. Mulai dari modal usaha, biaya pemasaran, dan sebagainya.

Demikian juga dalam hal relasi antar manusia. Ketika anda berusaha keras untuk membuat orang lain terkesan pada diri anda (dengan menunjukkan kehebatan, kekayaan, dsb), yang terjadi malah orang lain jadi kurang menyukai anda. Sebaliknya, ketika anda mau mengakui kekurangan dan kesalahan anda, orang malah jadi menghargai dan mempercayai anda.

Lalu bagaimana dengan kehidupan beriman? Sama, kalau bukan bahkan kehidupan berimanlah yang menginspirasi prinsip kehidupan ini. Dalam beriman lebih sering lagi kita diminta untuk melakukan hal-hal yang berlawanan dengan intuisi kita. Mengasihi musuh: bukankah yang namanya musuh adalah untuk dibenci? Berdoa bagi dan memberkati mereka yang menganiaya kita: kalaupun berdoa, apakah bisa mengucap berkat bagi mereka? Namun itulah yang berulang kali diperintahkan dan diingatkan kepada kita di dalam Firman Tuhan. Ketika dunia berlomba mengagungkan diri, kita diminta untuk menyangkal diri. Ketika dunia menuntut balas mata ganti mata, kita diminta untuk memberi pipi yang sebelah lagi. Ketika dunia dipenuhi teror kebencian, kita diminta untuk jangan takut dan terus mengasihi.

Namun kabar baiknya adalah, bukan hanya kepatuhan yang berlawanan dengan intuisi manusia yang diminta dari kita, tapi ada janji penyertaan Tuhan. Seperti kisah bangsa Israel ketika harus menyeberangi sungai Yordan untuk memasuki tanah perjanjian, dikisahkan para imam harus terlebih dulu masuk ke sungai sampai sepinggang, sebelum air sungai Yordan terbelah dan ada dataran kering untuk umat Israel menyeberang dengan aman. Kadang kita harus melangkah dalam kepatuhan dan rasa percaya dulu, sekalipun berlawanan dengan intuisi kita, dan ternyata cara Tuhan bekerja jauh lebih hebat daripada yang bisa kita perhitungkan.

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *