Damai Sejahteralah Indonesiaku

Potret Indonesia yang Buram?

Bagaimana kita memaknai judul di atas? Apakah sebagai harapan? Sebagai doa? Sebagai keprihatinan? Sebagai dorongan untuk bersikap dan berbuat sesuatu? Rasa-rasanya semuanya ada dan bercampur aduk menjadi satu. Sedih, prihatin, geram itulah yang seringkali kita rasakan saat membaca atau mendengarkan berita-berita yang ‘menyesakkan’. Misalnya: harga kebutuhan pokok melonjak, tawuran antar pelajar, penyaluran dana BLSM (Bantuan Langsung Sementara Masyarakat) yang menimbulkan kericuhan, konflik pilkada, jalan berlubang yang menelan korban, kurikulum 2013 yang kontroversial, teror bom. Belum lagi kasus-kasus besar yang sepertinya tidak berdampak pada masyarakat, misalnya kasus bank Century, Hambalang (Padahal sangat berdampak bagi masyarakat. Coba kalau uang rakyat tidak dikorupsi, tapi dikembalikan untuk kesejahteraan masyarakat… wow… luar biasa sekali dampaknya!).

Melihat potret Indonesia yang buram seperti itu, menimbulkan pertanyaan bagi kita: masih adakah harapan untuk membuat potret Indonesia semakin jernih? Potret Indonesia yang jernih seperti diidam-idamkan para pendiri bangsa, yaitu: Indonesia yang berkeTuhanan, Indonesia yang berkemanusiaan, Indonesia yang bersatu, Indonesia yang demokratis, Indonesia yang adil dan makmur. Dengan kata lain: Indonesia yang damai sejahtera.

Damai Sejahtera: Dambaan bagi Semua

Menurut Alkitab, damai sejahtera (Ibrani: syalom, Yunani: eirene) adalah suatu keadaan yang baik secara utuh menyeluruh yang meliputi segi jasmani, jiwani, rohani, dan sosial (Yes 65:17-25, Kol 1:20, Ef 2:14, Ibr 12:14). Hal ini bisa terwujud bila terjadi pemulihan hubungan harmonis antara: manusia dengan Tuhan, manusia dengan dirinya sendiri, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam.

Pada awal pelayanan, Tuhan Yesus berkata: “Waktunya telah genap, Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (Mrk 1:15). Berita dan realita mengenai Kerajaan Allah merupakan hal utama yang dibawa Tuhan Yesus. Kerajaan Allah merupakan pemerintahan Allah sebagai Raja yang hendak dilaksanakan di sorga maupun di bumi. Pemerintahan Allah sebagai raja ini mewujudkan damai sejahtera. Dengan kedatangan Tuhan Yesus, Kerajaan Allah dinyatakan (Mat 11:4-6, 12:28, Luk 4:17-21, 17:21).

Namun pada pihak lain Tuhan Yesus mengajarkan “Datanglah KerajaanMu”, artinya Kerajaan Allah harus tetap dinanti dan diperjuangkan. Diperhadapkan dengan Allah yang datang memerintah sebagai Raja, maka manusia mau tidak mau harus mengambil sikap, yaitu: bertobat dan percaya kepada Injil. Artinya: mengubah hidup dengan mentaati kehendak Allah sebagai Raja secara total (Mat 7:21). Apa yang sudah dilakukan Tuhan Yesus dalam rangka mewujudkan Kerajaan Allah di bumi harus kita respons secara aktif. “Datanglah KerajaanMu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga” (Mat 6:10) mesti kita pahami sebagai suatu panggilan bagi gereja/orang Kristen untuk mewujudkan damai sejahtera bagi semua orang (tidak hanya orang kristen). Tapi, bagaimana kenyataannya?

Cuek, Menikmati, atau Mentransformasi?

CUEK. Selama kepentingan kita (pribadi atau gereja) tidak terganggu, pada umumnya kita bersikap masa bodoh dengan realita yang kontra-syalom. Kita cenderung merasa puas dan nyaman bila tidak ada yang mengganggu kepentingan kita. Banyak gereja/orang Kristen yang bermental ‘bahtera Nuh’, masa bodoh dengan keadaan di masyarakat, yang penting aku/kami aman dan nyaman.

MENIKMATI. Menikmati disini berarti gereja/orang Kristen baik secara sadar maupun tidak sadar lebih berpihak pada mereka yang lebih kuat. Baik kuat dalam arti ekonomi, sosial, maupun politik. Sehingga gereja/orang Kristen merasa aman dan nyaman karena ikut menikmati fasilitas-fasilitas tertentu. Gereja/orang Kristen ikut terjerumus dalam struktur ekonomi/sosial/politik yang menekan. Bila kita memperhatikan kehidupan dan pelayanan Tuhan Yesus, Dia lebih berpihak pada masyarakat yang menderita. Karena merekalah sebenarnya yang tak berdaya.

MENTRANSFORMASI. Mentransformasi artinya mengubah keadaan yang tidak baik menjadi lebih baik. Keadaan yang tidak damai sejahtera menjadi lebih damai sejahtera. Keadaan yang tidak manusiawi menjadi lebih manusiawi. Keadaan yang menyengsarakan menjadi lebih melegakan. Keadaan yang tidak berpengharapan menjadi lebih berpengharapan. Itulah sebetulnya maksud kedatangan Tuhan Yesus. Dia datang memberitakan Kerajaan Allah melalui kehidupanNya. Di mana Allah diakui dan ditaati sebagai Raja, di sanalah damai sejahtera diwujudkan. Bagaimana dengan kita? Bila kita memperhatikan program dan anggaran gereja pada umumnya, ada berapa persen program dan anggaran yang berorientasi pada pelayanan kepada masyarakat yang belum mengalami damai sejahtera (orang Kristen maupun non Kristen)? Kalaupun ada program dan anggaran yang mengarah ke sana, cukup berdampakkah/cukup signifikankah program tersebut? Apakah gereja mempunyai unit pelayanan yang sungguh-sungguh memikirkan, menganalisis, dan membuat program yang sesuai dengan masalah dan kebutuhan masyarakat? Berjejaring dengan kelompok/lembaga lain yang bersama-sama merindukan Indonesia yang lebih damai sejahtera?

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *