Dendam dan Pengampunan

Pdt. Agus Wijaya,

Yeh. 36 : 22 – 32, Yoh. 7 : 53 – 8 : 11 

Pernahkah kita marah kepada seseorang sampai kemarahan itu demikian memuncak? Kemarahan yang tiada habisnya menjadikan kita menyimpan dendam. Dan dendam inilah yang mengakibatkan tindakan yang merusak dari diri kita.

Ketika Tuhan menolong orang Israel dari pembuangan, bukan berarti itu tanda pembelaan Tuhan kepada Israel karena Israel pun ketika dibuang oleh karena mereka memberontak kepada Tuhan. Tuhan tidak membalaskan sakit hati dan dendam Israel karena penjajahan bangsa lain. Kalau Tuhan bertindak karena nama-Nya yang kudus sudah dinajiskan oleh tindakan bangsa lain, dan dengan penyelamatan itupun Israel ditahirkan dari dosa dan kesalahan mereka.

Yehezkiel 36:22-23 (TB)  Oleh karena itu katakanlah kepada kaum Israel: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Bukan karena kamu Aku bertindak, hai kaum Israel, tetapi karena nama-Ku yang kudus yang kamu najiskan di tengah bangsa-bangsa di mana kamu datang.

Aku akan menguduskan nama-Ku yang besar yang sudah dinajiskan di tengah bangsa-bangsa, dan yang kamu najiskan di tengah-tengah mereka. Dan bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, demikianlah firman Tuhan ALLAH, manakala Aku menunjukkan kekudusan-Ku kepadamu di hadapan bangsa-bangsa. 

Jadi, tidak pada tempatnya kalau orang Israel bermegah, merasa bangga, merasa dendam mereka sudah terbalaskan oleh tindakan penyelamatan Allah.

Hukum-hukum adalah cara umat Israel mengatur dirinya, suatu tindakan supaya mereka takut kepada Tuhan. Namun sayangnya pelaksanaan hukum yang legalis mengakibatkan orang Israel hanya fokus kepada apa yang tertulis; apa yang tersurat. Israel lupa bahwa hukum itu adalah wujud kasih Allah kepada umat-Nya. Supaya dengan hukum mereka diingatkan tentang kasih Allah yang begitu besar, dan mereka diharapkan mengasihi dengan hukum itu.

Tapi apa yang terjadi ketika amarah dan dendam yang menguasai? 

Yohanes 8:3-5 (TB)  Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah

lalu berkata kepada Yesus: “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. 

Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?”  

Tindakan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang membawa perempuan berzinah di hadapan Yesus untuk menguji Yesus tentang hukum Taurat, sekaligus melampiaskan marah dan dendam.

Apa jawab Yesus?

Yohanes 8:7 (TB)  Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” 

Dengan demikian apakah Yesus membenarkan tindakan perempuan ini? Tentu tidak. Tuhan mengasihi dunia ini. Tuhan mengasihi orang berdosa tetapi Dia membenci dosa. Karena itu setelah semua pergi Yesus berkata:

Yohanes 8:11 (TB)  Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

Mengampuni. Itu tindakan Yesus, dan mengajaknya untuk bertobat. Sudahkah kita bisa mengampuni kesalahan orang? Kalau belum, ingatlah: Tuhan pertama-tama sudah mengampunimu.

Jadi, mengapa engkau masih marah?

Mengapa engkau masih dendam?

Tidakkah kau rasakan damai di hatimu karena pengampunannya?

Dan engkau akan merasa damai kalau engkau mengampuni.

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *