Dewan Gereja Se-Dunia dan UNICEF memulai melaksanakan kesepakatan untuk memberikan “Suara bagi hak anak-anak”

26 November 2015

“Anak-anak perlu mengerti tempat mereka didalam gereja. Dan tempat itu di depan bukan di belakang”, ungkap Bishop Raphael Opoko dari Gereja Metodis di Nigeria, ketika ia berbicara alam diskusi yang mempromosikan hak anak-anak yang diadakan pada 19 November di Ecumenical Centre di Genewa.

“Anak-anak seharusnya bernyanyi di depan gereja, membaca liturgi dan bahkan berkhotbah,” ungkap Bishop Opoko, yang juga melayani sebagai Komite Eksekutif Dewan Gereja se-Dunia sekaligus di Komite Pusat.

Pemimpin Gereja di Nigeria itu menyampaikan pesannya dalam sebuah acara untuk memperjuangkan hak anak-anak yang digagas oleh Dewan Gereja Se-Dunia bersama UNICEF.

Pertemuan ini adalah yang pertama kali sejak Dewan Gereja se-Dunia dan UNICEF menandatangani kesepakatan bersama pada bulan September.

Pertemuan bulan November merupakan sebuah seminar yang diadakan sehari setelah perayaan Konvensi tentang hak anak pada 20 November yang dihadiri Dewan Gereja se-Dunia, UNICEF, para mitra dan para pemimpin dari seluruh dunia.

Pada seminar tersebut, para peserta memuji inisiatif dan mengungkapkan apresiasi mereka akan pertemuan tersebut, juga dengan kemitraan bersama UNICEF.

Sekretaris Jenderal Dewan Gereja se-Dunia, Pdt. Dr. Olav Fykse Tveit menyatakan, “Beberapa minggu lalu Liza Barrie dari UNICEF dan saya menandatangani sebuah kesepakatan. Ini adalah hal yang baru bagi usaha kita terhadap anak-anak dan untuk kehidupan mereka saat ini. Anak-anak bukanlah orang asing. Kita memiliki seorang anak dalam kita”.

“Anak-anak adalah hidup kita, sebagian kita adalah juga orang tua dan kakek nenek,” tambah Tveit,

Liza Barrie, Ketua UNICEF bidang kemitraan Civil Society, menyebutkan ada jutaan anak yang dirampas haknya dan tertangkap dalam perang, baik sebagai pengamat maupun target, dan bagaimana perubahan iklim di dunia yang tidak bisa diprediksi.

Barrie menjelaskan bahwa UNICEF untuk beberapa waktu telah menilai perlu bermitra dengan kelompok-kelompok keagamaan, dan menekankan juga perlunya relasi dengan gereja-gereja, melihat kesepakatan tersebut sebagai hal yang strategis.

“Komunitas keagamaan sangat berperan aktif. Gereja-gereja mengetahui apa yang sedang terjadi dalam wilayah yang jaringan lain ada. Mereka membentuk kelompok-kelompok untuk wanita. Mereka juga membentuk kelompok-kelompok untuk anak-anak. Gereja selalu menjadi bagian dari komunitas,” ungkap Barrie.

“Kami adalah mitra sejati,” tambah Barrie, mengarahkan pekerjaan yang diselesaikan melalui relasi UNICEF dengan komunitas agama, didukung oleh Caterina Tino, seorang spesial kemitraan dengan komunitas keagamaan UNICEF.

Menuju Kestabilan Tujuan Pembangunan

Dewan Gereja se-Dunia bersama UNICEF bekerja sama untuk menngusahakan pembangunan yang stabil (SDGs) untuk mengakhiri kemiskinan, melawan ketidaksamaan dan ketidakadilan, serta perubahan iklam 2030.

Kesepakatan DGD dan UNICEF berfokus pada dua isu besar, yaitu kekerasan terhadap anak dan perubahan iklim, dan Nigeria terpilih menjadi negara yang menjadi percontohan.

Bishop Opoko mengatakan,” I senang memiliki anak-anak ini dan bisa mendengarkan mereka”.

“Sangat penting bagi kita untuk mendengar langsung dari anak-anak ini. Anak-anak ini perlu di dengarkan dan perlu dilihat untuk didengarkan,” dan organisasi-organisasi keimanan perlu mencatat bahwa anak-anak memiliki sesuatu yang dapat diberikan kepada kemanusiaan.

“We must have a stronger voice for children rights and a stronger voice for children for their rights” Bishop Opoko concluded.

“kita harus memiliki suara yang vokal untuk hak anak-anak dan menjadi suara yang vokal demi hak anak-anak” ucap Bisho Opoko

Kekerasan Terhadap anak-anak

Chris Dodd, koordinator anti kekerasan dari gereja-gereja di Inggris mengatakan ,”Organisasi kami fokus kepada mengakhiri hukuman-hukuman bagi anak-anak, karena kami percaya itu merupakan kunci untuk menyelesaikan kekerasan terhadap anak-anak itu sendiri.”

Frederique Seidel, penasehat khusus DGD untuk hak-hak anak menyatakan,” Gereja adalah sumber harapan bagi banyak anak di dunia.”

“Following a five-day ecumenical conversation on child rights at Busan in November 2015, the objective is to present principles on promoting child rights and to encourage WCC member churches to implement these. The principles will be accompanied by tools and good practices,” Seidel added.

“melanjutkan pembicaraan oikumenis tentang hak-hak anak di Busan pada November 2015, tujuannya adalah untuk mempresentasikan prinsip-prinsip dalam mengangkat hak-hak anak dan mendorong anggota DGD untuk mengimplementasikan hal ini.” Ujar Seidel

Prof. Dr. Isabel Phiri, wakil Sekretaris Jenderal DGD, mengungkapkan bahwa DGD akan mengadakan konferensi mengenai SGDs bersama seluruh anggotanya pada April 2016. Itu merupakan kesempatan mempromosikan SGDs khususnya hak-hak anak.

“Gereja sangat terlibat. Kita harus melihat bagaimana kita bisa mengangkat Firman Tuhan yang berhubungan dengan anak-anak”.

https://www.oikoumene.org/en/press-centre/news/wcc-and-unicef-start-implementing-agreement-giving-a-201cvoice-for-children2019s-rights201d