Dewan Gereja Sedunia mendorong kesepakatan Hak Paten sebagai langkah meningkatkan penanganan HIV

Kesepakatan tentang Hak Paten sebagai langkah meningkatkan penanganan HIV

30 November 2015

Dalam rangka memperingati hari AIDS sedunia 2015, Aliansi Advokasi Oikumene Dewan Gereja Sedunia menyambut kesepakatan antara Medicine Patent Pool (MPP) dan Bristol Myers Squibb (BMS) untuk daclatasyir, sebuah antiviral penting untuk membantu menyembuhkan berbagai tipe virus hepatitis C (HCV).

Kira-kira 4-5 juta orang terinfeksi HIV dan HCV, dan 12 persennya hidup dengan HIV. Para penyandang HIV 11 kali lebih riskan terinfeksi dengan HCV dibanding dengan mereka yang tidak terinfeksi HIV. Penyandang HIV akan menderita morbilitas dan mortalitas tertinggi terhadap penyakit liver. Infeksi Hepatitis yang mengancam penanganan terhadap HIV dalam bentuk penyakit liver kini telah menjadi penyebab kematian penderita AIDS di seluruh dunia. Tiap tahunnya lebih dari 700 ribu orang meninggal disebabkan HCV.

“Ini merupakan baik para penderita HCV, khususnya bagi mereka yang juga sekaligus terinfeksi HIV. Setelah mendorong BMS untuk mematenkan Atazanavair (Antiretroviral) untuk MPP, kami juga mengucapkan selemat kepada BMS yang telah berada di garda depan sebagai perusahaan pertama yang mematenkan MPP untuk HCV.,” ungkap David Deakin, Direktur eksekutif dari Chasing Zero dan pimpinan Access to Treatment, grup kerjasama DGD dan EAA.

Alasan mengapa paten ini merupakan sebuah berita baik, karena ia akan menghasilkan versi generic dari daclatasvir, termasuk kombinasi-kombinasinya, untuk bisa diproduksi, dan memfasilitasi akses lebih luas terhadap penanganan. Hak memakai diberikan gratis kepada 112 negara miskin dan menengah, 75 diantaranya oleh Bank Dunia dimasukkan ke dalam negera dengan pemasukan menengah. Hampir dua pertiga penduduk dunia hidup dengan hepatitis C di Negara-negara ini.

Memang masih harus menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan akses penuh, Astrid Berner Rodoreda, penasehat kebijakan tentang HIV dan AIDS untuk Brot fur die dan anggota dari grup DGD dan EAA mengatakan, “Paten ini merupakan langkah awal yang baik, dan kami menyambut baik inisiatif BMS dan berharap bahwa perusahaan lainnya akan mengikuti langkah ini. Seperti paten untuk antiretroviral yang pertama, bagaimanapun, wilayah demografi perlu dijangkau secara luas, karena paten ini belum bisa menjangkau seluruh penderita HCV.”

Paten baru datang mengikuti pengumuman dari Unitaid Board bahwa mandat untuk MPP dapat diperluas meliputi HCV, setelah MPP secara ekstensif berkonsultasi dengan civil society dan kelompok-kelompok lainnya.

“Ini adalah langkah penting untuk penanganan bagi penderita HIV dan HVC yang banyak mengalami penderitaan akibat kedua virus ini. Kami berharap perusahaan lain akan mengikuti langkah BMS dan menambahkan paten baru untuk obat-obat yang dibutuhkan,” ungkap Robert Villo, penasihat khusus Caritas Internationalis untuk HIV dan AIDS.

Latar Belakang Informasi

Daclatasvir, obat minum sati kali sehari, untuk penanganan HVC yang memfokuskan pada protein kunci, NS5A, terlibat dalam replikasi virus. Daclatasvir, dikombinasikan dengan sofobuvir, menghasilkan angka kesembuhan setelah 12 minggu penanganan, bahkan untuk pasien HIV/HCV. Penelitian terakhir bahkan menunjukkan bahwa Daclatasvir bisa menyembuhkan hingga 100 persen penderita HCV, tergantung pada tipe dan tingkatan penyakit liver.

Paten Daclatasvir memberikan keleluasaan perusahaan membuat obat ini dimana saja, versi generic obat ini dapat dibuat dimana saja di 112 negera yang tergolong dalam perjanjian. Yang lebih penting, paten ini akan memberikan ijin kepada perusahaan obat untuk mengembangkan dosis tetap dikombinasikan dengan antiviral lainnya untuk menciptakan obat dalam rangka penyembuhan bagi penderita HCV.

Sumber : www.oikumene.org