Dibaptis dan Dicobai Agar Siap Memberitakan Injil

Markus 1:9-15

“By failing to prepare, you are preparing to fail.” Jika tidak bersiap diri, Anda sedang bersiap untuk gagal. Demikian kutipan kata-kata Benjamin Franklin. Oleh sebab itu jika kita menjumpai tiga rangkai peristiwa yang dialami Yesus dalam bacaan Injil hari ini, itu bukanlah sebuah kebetulan. Rangkaian peristiwa pembaptisan, pencobaan dan pemberitaan Injil yang ditempuh Yesus itu mengandung makna yang jelas bagi para pengikut Kristus tentang apa itu arti bersiap diri, apa itu bersedia untuk terlibat dan berkomitmen dalam melakukan apa yang benar dan memberi dampak bagi sesama ciptaan Allah.

Dengan memberi diri dibaptis oleh Yohanes, Yesus menyatakan kesediaan-Nya untuk masuk dalam ziarah pembaruan umat Allah. Kita tahu bahwa dalam khotbahnya, Yohanes Pembaptis mengajak umat untuk tetap terikat pada janji pemeliharaan Allah yang kekal dan meninggalkan kebodohan dosa. Yesus sepenanggungan berziarah bersama umat Allah. Kristus jauh-jauh menolak sikap para ahli agama pada zaman itu yang membangun sistem puritan tetapi enggan terjun dalam pergumulan umat. Yesus memilih untuk terlibat aktif dan nyata. Ingat ini, tentu kita ingat baptisan kita juga. Kita bersedia dihisabkan dalam ziarah umat Allah, dibentuk dan dibaharui oleh Allah. Kita sudah ditandai dengan tanda suci, untuk terus menerus disucikan-Nya.

Dengan menghadapi situasi keras padang gurun dengan segala godaan untuk memuaskan keinginan diri, Yesus tetap menunjukkan kesetiaan-Nya. Visi-Nya untuk membangun jalan kebenaran yang berujung pada kehidupan, tidak dapat dihentikan oleh terpaan kepenatan fisik dan mental bisikan kuasa jahat. Ini terjadi sesudah pembaptisan-Nya! Tuhan dan junjungan kita menunjukkan pesan yang jelas. Kita tidak imun terhadap kepenatan fisik, mental dan bisikan kuasa jahat setelah dibaptis. Godaan akan datang menerpa. Tetapi Tuhan kita menang! Kita yang percaya kepada-Nya beroleh hikmat kekuatan dari-Nya juga untuk menang! Ada pepatah Tiongkok 真金不怕火 (Zhēn jīn bùpà huǒ), “Emas tidak takut api”. Kristus terus maju melawan godaan, Ia sedang bersiap diri membarui dunia ini. Iman-Nya cemerlang bagai emas murni.

Bukan hanya itu. Pengalaman-pengalaman rohani pribadi yang dialami Yesus itu tidak berhenti menjadi kepuasan diri saja. Berhadapan dengan kebengisan dunia yang menolak pembaruan hidup, yang ditandai dengan pembunuhan Yohanes Pembaptis secara keji, Yesus menghadirkan diri sebagai kabar baik melalui segenap keberadaan diri-Nya berujung pada salib di Golgota dan Ia dibangkitkan Allah. Ini menjadi kabar baik bagi kita bahwa, pola yang dijalani Yesus tidak salah. Pola itu berujung pada kehidupan. Pola ini juga menjadi pola iman kita sampai sekarang. Setiap pengikut Kristus yang dibaptiskan, diajak Kristus untuk menyangkal diri, memikul salibnya setiap hari dan mengikuti cara Yesus dalam ziarah rohani bersama-Nya.

Memasuki Minggu Pra Paska 1, kita mengingat kembali baptisan kita. Kita memperbarui kembali komitmen kita. Juga kita tersadarkan bahwa perjuangan melawan godaan dosa adalah sebuah proses yang tidak dapat dihindari. Namun bersama kuasa Allah di dalam Yesus Kristus, Roh-Nya yang kudus akan memampukan kita. Bukan untuk menambah kabar buruk yang acap kali kita dengar dan lihat saban hari, tetapi menjadi kabar baik bagi dunia ini, dalam kekuatan hikmat-Nya, melalui segenap keberadaan diri kita menuju kebangkitan hidup bersama Kristus.

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *