Dimuliakan dalam Kemuliaan Kristus

II Raja-raja 2:1-12; Mazmur 50:1-6; II Korintus 4:3-6; Markus 9:2-9

Mungkin kita masih ingat dengan nama-nama penginjil Indonesia yang terkenal pada masanya seperti Ade Manuhutu, berlatar belakang seorang penyanyi. Atau M. Yusuf Roni yang kotbah-kotbahnya dikasetkan dan bahasanya membumi, mudah dicerna orang. Atau Stephen Tong, yang hingga kini masih eksis dalam pengabaran Injil – meski usianya lanjut, namun pendengar dan jangkauan Injilnya adalah kelompok usia remaja-pemuda. Terlepas dari pengajaran yang disampaikan, kesaksian hidup mereka saat berkenalan dengan Firman Tuhan memang perlu diwartakan. Pilihan nama-nama di atas, karena mereka hingga kini masih menjaga spiritualitas kehidupan di tengah ancaman harta-tahta-orientasi seksual. Kesanggupan mereka untuk menjaga nama diri tentu tak lepas dari usaha menjaga nama Tuhan yang mereka kabarkan. Memuliakan nama Kristus yang nantinya membawa manusia dimuliakan.

Bagaimana dengan kondisi kekristenan masa kini? Apakah para pengkotbah masih memiliki wibawa rohani dalam menyampaikan Firman Tuhan, sehingga pengkotbah mampu mengkomunikasikan kotbah dengan baik kepada para pendengar dan pemirsanya, termasuk mendukung umat melakukan Firman dalam hidup sesehari? Sebagaimana wibawa rohani yang diberikan oleh Tuhan atas nabi Elia? Bahkan Elisa sebagai pengganti Elia juga merasa tak akan sanggup menggantikan Elia untuk memberitakan Firman Tuhan tanpa wibawa rohani Elia. Sehingga Elisa terus menempel Elia, dan tentunya tidak ingin apa yang dinubuatkan tentang kenaikan Elia ke sorga, benar-benar terjadi. Bukan karena Elisa tidak percaya kuasa Tuhan, namun rasa khawatir ditinggalkan Elia dan wibawa rohaninya, membuatnya tergantung pada sosok Elia, bukan pada Tuhan yang telah memilih Elia maupun Elisa. Namun Tuhan tidak bisa dibatasi, sebagai God an sich (Allah pada diriNya sendiri), Allah punya kuasa pada diriNya sendiri, yang tidak bisa dibatasi oleh Elia – yang adalah manusia. Meski para nabi di Betel dan Yerikho sebanyak 50 orang mencoba untuk mengingatkan Elisa, namun ia tetap memilih pemikirannya sendiri, ‘kuasa Tuhan ada’ tapi berharap tak terjadi untuk Elia. Hal ini nampak pada jawaban Elisa saat mereka sampai seberang sungai Yordan, ketika Elia memberi kesempatan meminta, Elisa langsung meminta 2 bagian dari roh Elisa. Meski Elia sadar, dirinya memiliki wibawa rohani dari Tuhan, namun tidak serta merta membuatnya berhak menjawab permohonan Elisa. Wibawa rohani dari Tuhan, dan Elia menempatkan Tuhan sebagai pemberi wibawa rohani pada tempatnya. Sikap kerendahan hati dari penerima wibawa rohani, menunjukkan bahwa kemuliaan adalah milik Tuhan semata, kalau manusia diberi kemuliaan dengan memiliki wibawa rohani, itu karena kehendak bebas Tuhan.

Dalam Markus, penampakan Tuhan Yesus di hadapan Petrus, Yakobus dan Yohanes di atas gunung menunjukkan penegasan Allah bahwa Yesus adalah Anak yang Allah kasihi, maka “Dengarkanlah Dia”. Tugas para pengikut Kristus adalah mendengarkan Yesus, Anak Allah. Bagi Petrus, penampakan kemuliaan diharapkan akan selalu ada bagi manusia, dengan keinginan mendirikan kemah, agar kemuliaan Tuhan menetap disana. Namun bukan ini yang dikehendaki Yesus, karena kemuliaan ada bersama Yesus “bukan dikemahkan”. Dalam Korintus, orang-orang yang menerima Injil-Kabar Baik adalah orang-orang yang percaya Yesus, sehingga mereka dapat melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah.

Dengan demikian, barangsiapa hidup dalam Yesus yang berarti mendengarkan suara Yesus, maka kemuliaan itu pun ada bersamanya. Selanjutnya, bagaimana kemuliaan itu diwujudkan oleh pengikut Kristus, orang-orang percaya dalam kehidupan sehari-hari? Dalam satu hari minggu ini, kita diajak untuk merenungkan dan melakukan Firman Tuhan dengan fokus menghargai nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai manusia, tubuh kita memiliki batas kekuatan. Ada rasa lapar, ada rasa haus, ada rasa kepanasan dan selanjutnya. Saat kita lapar tentu kita akan mencari makan dan makan. Ingatkah kita pada saat yang sama, orang yang menjadi bawahan kita atau bekerja bersama kita juga punya rasa lapar dan perlu makan? Kita perlu makan, maka orang di sekitar kita pun perlu hal yang sama. Atau ketika kita perlu istirahat, maka orang di sekitar kita, yang bekerja bersama kita juga merasakan hal sama. Sense of Christianity dalam wujud penghargaan nilai-nilai kemanusiaan perlu diwujudkan dalam hidup sehari-hari yang dimulai dari hal-hal sederhana seperti di atas (memenuhi rasa lapar diri dengan menghiraukan rasa lapar sesama).

 

Pdt. Untari Setyowati

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *