Faktor Pendorong

Pdt. Yolanda Pantou,

Dalam menjalani hidup, semua manusia memiliki faktor pendorong (driving forces). Faktor pendorong ini bermacam-macam tapi dapat digolongkan sebagai berikut: kesenangan (hedonism), materi, dan ideologi. Orang yang hidupnya digerakkan oleh kesenangan bisa bekerja keras sepanjang hari asal kemudian dapat menikmati kenikmatan jasmaniah.

Golongan kedua, yaitu orang yang hidupnya digerakkan oleh materi, tidak mengutamakan kesenangan jasmaniah, tetapi lebih pada penumpukan harta dan persaingan gengsi. Mereka bisa bekerja keras, berhemat, menabung dan berinvestasi, tapi bisa juga menghalalkan segala cara, korupsi, mengeksploitasi alam, memeras tenaga buruh, demi menumpuk kekayaan.

Sedangkan golongan ketiga adalah orang yang hidupnya digerakkan oleh ideologi, yang memang terkesan lebih mulia, tetapi bisa sama buruknya atau bahkan lebih berbahaya daripada kedua golongan terdahulu. Memang ada orang yang idealis dan mulia menjalani hidup demi keyakinannya, tetapi ada juga yang demi keyakinannya menganggap membunuh dan menghancurkan sebagai hal yang mulia; para teroris yang mengatasnamakan agama, misalnya.

Pada dasarnya ketiga faktor pendorong tersebut dapat digolongkan sebagai ‘kedagingan’ atau ‘keduniawian’. Faktor-faktor tersebut berkaitan dengan kepuasan daging, kebanggaan duniawi, dan kepentingan kelompok.

Namun masih ada faktor pendorong satu lagi: spiritualitas. Tentu spiritualitas ini dapat dipahami dengan sangat kaya dan memiliki beragam rupa dan warna. Bentuk spiritualitas pun cair sehingga dapat menyelusup pada hal-hal yang ‘tidak spiritual’. Orang yang menikmati hidup, berbisnis atau memiliki ideologi juga bisa menjadi orang yang spiritual.

Yang membedakannya adalah orang yang didorong oleh faktor spiritual berorientasi pada Tuhan dan apa yang menjadi kehendak-Nya. Bukan diri sendiri atau golongan tertentu. Ia akan berusaha untuk memulakan Allah dan melakukan kehendak-Nya dalam segala hal yang ia lakukan.

Maka dalam cara ia memperlakukan orang lain, dalam ia mencari uang, dalam ia memutuskan perkara, dalam ia menghadapi kehilangan, dukacita, kegembiraan, dan sebagainya, ia menghadirkan kasih dan kehendak Allah.  Juga dalam keyakinannya, ia tidak mencari kebenaran sendiri yang angkuh dan kaku, tapi mau terus belajar dan diperkaya dalam perjumpaan dengan sesamanya manusia.

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *