Geraja dan Kritik

Pdt. Essy Eisen,

..TUHAN berfirman kepadaku: Pergilah, bernubuatlah terhadap umat-Ku Israel.  (Am. 7:15)

”Gereja tidak boleh berpolitik, tetapi gereja harus melek politik”. Demikian disampaikan oleh seorang Pendeta Protestan yang terkenal aktif dalam menyuarakan isu-isu terkait dengan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pendapat Pendeta itu ada benarnya. Gereja berada di tengah dunia yang kadangkala belum sempurna yang membutuhkan koreksi dan arahan supaya terarah kepada kondisi ideal yang benar untuk kebaikan seluruh bangsa. Seperti seorang nabi yang berani menyuarakan kritiknya kepada raja yang tidak memperhatikan kebenaran dari Allah dan yang mengabaikan perhatian kasih kepada umat-Nya, Gereja juga diajak menyuarakan “suara kenabian”nya.

Amazia adalah imam besar di Betel. Ia mewakili lembaga keagamaan resmi Israel. Ia tidak peduli akan suara Allah. Ia hanya peduli pada posisinya saja. Mempertahankan posisi baginya jauh lebih penting daripada mendengarkan kebenaran. Amos sebaliknya. Ia taat mendengarkan kehendak Allah untuk mengatakan kebenaran yang berasal dari Allah untuk umat Israel. Ketaatan adalah tanda yang paling kentara dari setiap pelayan-pelayan Allah. Dengan berani Amos menyuarakan suara kenabian. Kritiknya kepada lembaga resmi adalah untuk kebaikan sesama. Tanpa kendali yang positif, lembaga resmi keagamaan pada zamannya hanya akan menghasilkan kejahatan di mata Allah.

Youth, Firman Allah yang dibacakan dan dihayati oleh gereja, tidak hanya berbicara tentang hal-hal rohani yang mengawang-awang, tetapi juga mendorong gereja untuk memiliki jiwa yang kritis terhadap situasi sosial di mana gereja berada. Gereja perlu menyuarakan kritiknya jika keadaan sosialnya dipenuhi dengan kejahatan dan kehilangan kasih kepada Allah dan sesama.

Apakah altar perjumpaan kita dengan Allah sebatas di gereja saja? Mengapa?

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *