Gereja Anti Hoax

SINODEGKI.ORG – Profesor Muhammad Alwi Dahlan, Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia, sebagaimana dikutip dari SATUHARAPAN.COM, mengatakan bahwa “hoax” atau kabar bohong merupakan kabar yang sudah direncanakan oleh penyebarnya.

Hoax adalah manipulasi berita yang sengaja dilakukan dan bertujuan untuk memberikan pengakuan atau pemahaman yang salah. Pada “hoax” ada penyelewengan fakta sehingga menjadi perhatian khalayak. “Hoax” sengaja disebarkan untuk mengarahkan orang ke arah yang tidak benar. Semakin canggih teknologi, juga memberikan kemungkinan terjadi penyesatan informasi yang serius menjadi semakin banyak.” Ujar Alwi Dahlan.

Belakangan ini masyarakat Indonesia sedang disibukkan dengan berita-berita yang bersifat “hoax” tadi, bahkan tidak sedikit

sumber:bisnis.com

yang mempercayai berita-berita tersebut. Pemerintah Indonesia sendiri menganggap bahaya “hoax” ini sebagai hal yang serius, sampai presiden Joko Widodo memerintahkan untuk membentuk sebuah badan yang disebut Badan Siber Nasional (BSN). Badan ini dibentuk untuk menangkal berita-berita “hoax” yang dinilai pemerintah dapat menganggu stabilitas nasional.

“Media sosial yang sering digunakan untuk menyebarkan berita “hoax” merupakan produk jaman, tidak dapat dihindarkan manfaat dan mudaratnya. Bukan pelarangan yang dibutuhkan namun bagaimana menggunakannya dengan bertanggungjawab. Dan juga bukan sekedar penggunaannya, namun yang paling penting adalah bagaimana mengisi media sosial dengan hal-hal yang dapat dipertanggungjawabkan, serta berkualitas.” Ujar Pdt. Wahyu Pramudya dari GKI Ngagel, Surabaya.

“Bahaya yang ditimbulkan serius, khususnya bagi mereka yang malas untuk melakukan cek dan ricek. Pada era ini kecepatan share jauh lebih tinggi daripada kecepatan untuk berhati-hati,” tambah Pramudya.

“Tipe pengguna media sosial itu paling tidak ada tiga, mereka yang baru menggunakan media sosial sehingga aktif sekali menggunakannya. Kedua, mereka yang sudah memahami dampak media sosial. Kemudian mereka yang sudah kapok atau trauma dengan media sosial. Penyebar “hoax” mengincar para pengguna baru sehingga para pengguna baru ini perlu disadarkan sehingga mereka menjadi teliti,” ujar Pdt. Essy Eisen dari GKI Halimun, Jakarta.

“Pemerintah memang wajib menginisiasi, namun pertisipasi masyarakat sipil menjadi lebih penting agar control dan kendali tidak disalahgunakan untuk kepentingan kekuasaaan belaka. Keluarga-keluarga pun juga punya tanggungjawab menjaga informasi yang masuk ke ruang pribadinya,” ujar Pdt. Wahyu Pramudya.

“Penanganannya mesti utuh, meliputi pencegahan, dalam hal ini edukasi internet sehat sangat penting. Kedua, pemeliharaan, seperti edukasi kegunaan internet sehat bagi peningkatan kualitas hidup. Dan ketiga penindakan untuk memberantas kejahatan melalui internet. Namun disisi lain kreativitas dan kebebasan berpendapat yang kritis tetap harus dihargai seiring dengan upaya tegas terhadap kejahatan melalui internet,” tambah Pdt. Essy Eisen.

“Masyarakat, dalam hal ini juga termasuk jemaat GKI harus belajar prinsip yang sederhana, yaitu think before share (berpikir sebelum membagikan), dan care before share (Peduli sebelum membagikan). Repotnya, jemaat merasa bahwa semua berita layak dibagikan dengan alasan untuk berjaga-jaga. Untuk itu perlu juga diadakan percakapan mengenai pengendalian diri, termasuk bermedsos, sebagai materi khotbah di gereja,” kata Pdt. Wahyu Pramudya.

“Gereja dan umat harus belajar secara serius, mulai menyimak peraturan-peraturan terkait penggunaan internet (UU ITE). Berita-berita “hoax” harus dilawan dengan berita-berita yang baik, yang mendidik. Dalam hal ini gereja khususnya, berperan untuk menyajikan berita-berita yang positif melalui media-media organisasi atau personal jemaat,” ujar Pdt. Essy Eisen. (spw)

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *