Gereja bersatu mengusung tema diskriminasi, penganiayaan dan kesyahidan

Gereja bersatu mengusung tema diskriminasi, penganiayaan dan kesyahidan

5 November 2015

Tema “Diskriminasi, Penganiayaan dan Kesyahidan: Mengikut Yesus bersama” tetap menjadi fokus yang tajam di Forum Kristen Dunia yang diadakan di Albania. Kegiatan yang berlangsung pada 1 – 5 November di Tirana dihadiri oleh 150 peserta, termasuk di dalamnya perwakilan dari Dewan Gereja se-Dunia.

Gereja-gereja dan organisasi kristen yang datang dari berbagai macam denominasi, secara bersama-sama melakukan refleksi bagaimana mendampingi gereja-gereja yang menderita dalam penganiayaan, khususnya di Timur Tengah, Afrika dan Asia. Ekspresi solidaritas tercermin dalam relasi antara gereja-gereja yang mengalami tekanan dan gereja-gereja yang mendukung mereka.

Berbicara mengenai kekerasan yang dialami oleh orang-orang kristen, Sekretaris Jenderal Dewan Gereja se-Dunia, Pdt. Olav Fykse Tveit menyebut bahwa pertemuan ini sangat tepat waktunya. Ia menekankan bahwa orang kristen dari seluruh denominasi perlu bersatu untuk mendukung saudara-saudara yang sedang mengalami masa-masa yang penuh tantangan ini.

“Ada sebuah penambahan jumlah gereja dan orang-orang kristen yang melalui era gelap yang berbeda pada saat ini. Selama kunjungan saya ke berbagai gereja di Timur Tengah, Afrika, Asia, Amerika Latin, Amerika Tengah dan Amerika Utara. Juga sebagian Eropa, saya melihat dan mendengar banyak saudara-saudara kita yang tidak mendapat perlakuan yang semestinya. Saya sedih melihat realitas yang begitu keras, kekerasan dan penderitaan begitu banyak orang karena tekanan dan konflik yang terjadi pada era kita.” ujar Tveit.

”Sangat berarti bila kita mulai dengan mendengarkan gereja-gereja yang sedang mengalami masa-masa sulit saat ini. Semua kita perlu belajar dari suara-suara diantara kita bahwa pada saat ini masih terjadi realitas berupa diskriminasi dan penganiayaan. Kita perlu mendengar dari mereka yang mengerti bagaimana menjadi syahid, menjadi saksi dan kesyahudan merupakan hal yang saling berhubungan”, tambahnya.

Pentingnya pertemuan ini juga ditekankan oleh Pdt. Dr. Hielke Wolters, wakil Sekretaris Jenderal Dewan Gereja se-Dunia, yang terlibat dalam persiapan acara ini. “Pertemuan ini telah menjadi sebuah acara yang unik dimana orang-orang kristen dari berbagai tradisi yang berbeda berkumpul bersama dengan cara yang efektif untuk mendukung gereja-gereja yang sedang melalui masa-masa yang sulit”, ungkap Wolters.

Berbicara dari pengalaman pribadi mengenai penganiayaan terhadap orang-orang kristen dan agama-agama yag lain di Asia, dan terutama di negaranya sendiri, Pakistan, Dr. Farhana Anthony Nazir, seorang akademisi dan pengajar teologi di Sekolah Teologi Gujranwala, mengatakan bahwa “orang-orang kristen di Pakistan tidak sendirian dalam mencari keadilan, bersama mereka ada banyak komunitas lain yang berbagai”. Ia menyampaikan harapannya bahwa dengan mengangkat isu-isu ini dan dukungan dari gereja-gereja dunia seharusnya dapat menghasilkan pengakuan hak yang sama bagi semua orang.

Pertemuan ini juga disebut sangat signifikan oleh Pdt. Dr. Michael Ipgrave, mewakili Jaringan Antar Iman dari Komunitas Anglikan, karena pertemuan ini mengangkat dialog antar gereja. “Sangat mengesankan melihat bagaimana penderaitaan dan penganiayaan bisa menggerakkan kesatuan yang sedemikian rupa diantara gereja yang datang dari berbagai macam latar belakang. Penting bagi dari gereja Barat untuk belajar dari penderitaan yang dialami gereja-gereja sehingga memperkaya kami dalam bersaksi bagi dunia”.

Uskup Dr. Chibuzo Raphael Opoko dari gereja Metodis di Nigeria mengatakan bahwa pertemuan ini mengajak gereja-gereja untuk keluar dari zona nyaman dan berjuang bersama melawan diskriminasi, penganiayaan dan kesyahidan. “Kita telah datang berkumpul untuk mendengar suara-suara penderitaan gereja-gereja dan orang-orang kristen dari seluruh dunia, menguatkan kesatuan tubuh Kristus dan panggilan untuk bersatu” ungkap Opoko.

Pertemuan GCF ini membawa kesatuan gereja dan organisasi-organisasi di seluruh dunia. Ini merupakan ruang terbuka dimana semua orang kristen dapat bertemu, saling menguatkan dengan saling menghormati dalam menghadapi tantangan yang sama.

https://www.oikoumene.org/en/press-centre/news/churches-deliberate-on-concept-of-discrimination-persecution-martyrdom