Gereja, Sebuah Bejana Tanah Liat

Gereja, Sebuah Bejana Tanah Liat

II Korintus 4:7

Momen Adven menuju Natal ini merupakan waktu yang tepat bagi kita untuk tidak sekedar mengikuti euforia Natal, namun momen ini juga merupakan waktu yang tepat untuk merekonstruksi kembali identitas kita, gereja. James M. Gustafson dalam bukunya :Treasure in Earthen Vessels; The Church as a Human Community  mengemukakan sebuah konsep bahwa gereja adalah earthen (tanah liat) dan vessels (bejana). Earthen atau tanah liat menggambarkan sifat alamiah dan sisi sejarah dari gereja. Vessels atau bejana menggambarkan kefektifan gereja. Gereja sebagai bejana tanah liat digambarkan dalam kondisi :

  1. Fragile atau mudah pecah, gereja baik secara individu maupun komunitas tidaklah kebal terhadap tekanan, masalah, pergumulan, godaan, dosa dan lain-lain. Gereja bahkan sangat rentan terhadap hal-hal diatas. Ini mungkin yang menyebabkan sebelum meninggalkan murid-muridNya Yesus harus mengambil waktu secara pribadi untuk berdoa bagi gereja (Yoh. 17 : 9).
  2. Gereja hadir dalam rangkaian sejarah perkembangan kerajaan Allah di dunia. Sejak awal berdirinya gereja dipilih oleh Allah sendiri untuk menjadi pemeran utama dalam perkembangan kerajaan Allah didunia. Proses pemilihan itu sudah nampak sejak Yesus memilih keduabelas murid, termasuk Matias dan Paulus (Kis. 1 : 15 – 26).
  3. Gereja sebagai bejana, menggambarkan bahwa gereja memiliki fungsi yang sangat efektif dalam perannya sebagai representasi Allah dalam segala bidang baik sosial, politik, kemanusiaan, dan lainnya. Gereja adalah bejana yang Allah pakai untuk menjadi saksi akan keselamatan dalam Kristus kepada dunia (I Yoh. 5 : 13).

Selamat Adven…

TPG Sigit P Wibisono