GKI Tentang Kabut Asap

Opini GKI tentang kabut asap,

Kabut asap merupakan momok yang sudah bertahun-tahun terjadi di Indonesia dan dampakanya bukan hanya dirasakan oleh masyarakat Indonesia sendiri. Negera – negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura sangat terdampak oleh bencana ini. Bahkan sebagai aksi protes Singapura menolak produk tissue buatan Indonesia. Dampak ini belum terhitung bertambahnya masyarakat yang sakit karena pekatnya asap. Satwa-satwa pun juga menjadi korban, ada spesies-spesies langka seperti orang utan yang mati karena kabut asap yang merusak habitat mereka.

Pendeta Evangeline Pua, dari GKI Kemang Pratama, menyatakan bahwa pembakaran hutan merupakan bentuk tindak kejahatan yang nyata terhadap lingkungan. Hutan di Indonesia biasanya berdekatan dengan daerah berpenduduk dan di dalamnya sudah terbentuk ekositem yang kaya dengan spesies-spesies hewan maupun tanaman. Pembakaran hutan merusak ekosistem tersebut apalagi tambah pdt. Evang, pembakaran hutan sudah terjadi menahun dan sistemik. Penanganan kabut asap harus melibatkan semua pihak, dalam hal ini pemerintah, penegak hukum dan bekerjasama dengan masyarakat adat setempat. Ahli lingkungan, pebisnis serta masyarakat umum pun harus dilibatkan, baik jauh maupun dekat. Evangeline menyatakan ini harus dilakukan karena bumi adalah rumah bersama, ‘oikos’ created by God, ruled by God, sustained by God sehingga hutan pun adalah juga milik bersama.

Hutan, menurut Avangeline, bukanlah semata-mata alat untuk dieksploitasi karena hutan merupakan paru-paru dunia. Hutan menghasilkan oksigen, dan cerdas dalam menyerap karbondioksida. Hutan juga merupakan rumah bagi banyak binatang dan tanaman. Satu binatang mati karena keracunan kabut asap sudah menjadi sebuah kejahatan. Bagaimana Gereja dalam situasi ini ? Pdt. Evangeline mengharapkan agar gereja mengenali dan memahami bahwa rantai yang ada di sekilingnya bukan hanya apa yang terlihat. Kursi yang digunakan, dulunya adalah sebuah tanaman. Tas kulit yang digunakan, dulunya adalah reptil. Jam tangan dan gawai yang selalu menemani bukanlah sekedar mengenai harga diri. Selagi kita bisa bernafas dan dapat membaca urutan huruf ini maka kita semua punya harapan dan peran yang sangat berarti. Gereja harus meneruskan dan melakukan pesan ini dengan penuh kesadaran, memulainya dari diri sendiri dan mengambil peran dalam sebuah perubahan yang sistemik.

Pdt. Arliyanus Larosa, Sekretaris Umum Sinode GKI menyampaikan bahwa dalam hal ini GKI sudah menawarkan bantuan kepada masyarakat di Pekanbaru. Pada 13 Oktober lalu, Sinode GKI sudah mengirimkan 3220 masker berbagai  jenis, termasuk jenis N95 bekerjasama dengan Sinode GKE di Kalimantan. Masker ini akan didistribusikan kepada masyarakat korban kabut asap di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Kebutuhan akan masker jenis khusus meningkat karena masker yang biasa digunakan dinilai sudah tidak lagi dapat membantu masyarakat untuk menahan dampak kabut asap. GKI sebagai bagian dari masyarakat Indonesia turut berupaya membantu warga masyarakat lain yang terdampak langsung oleh bencana kabut asap ini. GKI berharap bahwa bencana kabut asap ini tidak lagi berulang ditahun-tahun mendatang.