Harga Sebuah Perjalanan Ekumenis

Pdt. Cordelia Gunawan

Gerakan Ekumenis adalah sebuah gerakan yang mahal harganya. Ditinjau dari segi ekonomis, menghadiri sebuah sidang ekumenis membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Penyelenggaraan sebuah persidangan ekumenis juga bukanlah sebuah hal yang murah. Menghadiri sebuah persidangan ekumenis tentu membawa nuansa tersendiri, saya tidak hanya pergi ke sebuah negara lain namun saya mengalami perjumpaan bahkan mau tidak mau mengalami kehidupan ekumenis selama beberapa hari.

Sebelum saya berangkat ke Jerman, saya sudah mengetahui bahwa ternyata teman sekamar saya adalah seorang perempuan dari Afrika. Sekamar dengan seorang yang tidak kita kenal untuk seminggu lebih tentu tidak lah nyaman. Apalagi seorang ini tidak berasal dari budaya yang sama. Yang pasti saya akan kehilangan kenyaman saya. Berbagi kamar dengan seorang yang tidak saya kenal sebelumnya tentu mengharuskan saya untuk keluar dari zona nyaman saya. Saya harus sabar berbagi meja belajar yang hanya satu, saya harus bersabar juga berbagi kamar mandi yang hanya satu dan saya juga harus bersabar berbagi giliran conference call dengan keluarga.

Memang ini hanyalah peristiwa berbagi kamar namun saya merefleksikan berbagi kamar saja sudah susah apalagi berbagi kehidupan. Kehidupan ekumenis adalah sebuah kehidupan berbagi, berbagi berarti melangkah keluar dari zona nyaman dan memasuki sebuah kehidupan bersama yang pasti membutuhkan pengorbanan.

Selama ini kita tidak cukup berani bayar harga untuk sebuah kehidupan ekumenis. Kita enggan berbagi, kita bahkan tidak mampu melangkah keluar dari kenyamanan kita. Kehidupan ekumenis menjadi sebuah kehidupan di awang-awang yang hanya tercermin dalam sebuah persidangan ekumenis. Kehidupan ekumenis menjadi sesuatu yang tidak mampu kita upayakan dalam kehidupan bergereja sehari-hari.

Memasuki sebuah kehidupan ekumenis berarti meninggalkan prasangka dan memberikan kesempatan. Memasuki sebuah kehidupan ekumenis berarti mau berbagi bahkan merugi karena mereka bukan orang lain, mereka dan kita adalah satu Tubuh Kristus. Hidup dalam kehidupan ekumenis berarti siap merasa tidak nyaman. Jika selama ini kita tidak pernah merasa terganggu dan tetap merasa nyaman maka saya rasa kita belum membumikan kehidupan ekumenis.

Kehidupan ekumenis itu masih menjadi sebuah negeri di awan yang kita lagukan namun tidak sanggup kita daratkan. Kiranya Tuhan menolong kita untuk mau keluar dari zona nyoman kita dan berupaya hidup sebagai satu Tubuh Kristus.

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *