Hidup Bergairah dalam Sukacita dan Kegembiraan Tuhan

Hidup Bergairah dalam Sukacita dan Kegembiraan Tuhan

Kidung Agung 2:8-13; Mazmur 45:210; Yakobus 1:17-27; Markus 7:1-23

 

Gairah hidup dan sukacita merupakan realitas hidup yang bermakna sebagai pemberian dari atas, yaitu Tuhan. Surat Yakobus menyebutnya sebagai anugerah yang sempurna (Yak. 1:17). Namun hidup yang bermakna dan berlimpah sukacita tersebut akan bertahan abadi apabila kita senantiasa merawat dengan spiritualitas iman. Surat Yakobus memanggil setiap umat percaya mengalami proses pertumbuhan yang semakin matang, sehingga pada tingkat tertentu menjadi anak sulung di antara semua ciptaan-Nya (Yak. 1:18). Proses pertumbuhan rohani (spiritualitas) dimulai dari dalam keluar, bukan sebaliknya. Karena itu aspek internal yaitu hati manusia sangat vital. Tuhan Yesus berkata: “Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang” (Mark. 7:20-23). Senada dengan itu nasihat yang bijak dari Kitab Amsal menyatakan: “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” (Ams. 4:23). Bila hati kita dijaga dengan sikap iman, maka akan menghasilkan gairah hidup dan sukacita dari Tuhan.

Namun kita tahu bahwa menjaga hati adalah merawat bagian inti kepribadian yaitu kedirian kita. Padahal kedirian kita dibentuk oleh berbagai nilai yang tidak senantiasa membangun. Lebih dalam lagi hidup kita berada di bawah kuasa dosa. Karena itu kita sering gagal untuk melakukan yang baik dan benar. Hati kita dipenuhi oleh nilai-nilai duniawi. Itu sebabnya kita sering merespons dengan cara duniawi. Kita cepat bereaksi sebelum mendengarkan dengan utuh dan lengkap. Hasilnya hidup kita penuh dengan kemarahan. Di Yakbus 1:29, firman Tuhan berkata: “Hai saudara