HIDUP KONTEMPLATIF

HIDUP KONTEMPLATIF

 

(1 Tesalonika 5:16-18)

Sahabat GKI, apakah Anda menyukai burger? Dua jenis makanan ini mungkin sering mengatasi rasa lapar di tengah-tengah kesibukan kita. Anda biasa memilih burger rasa apa? Keju? Daging? Atau hanya sayur-sayuran : tomat, slada, dan sedikit bawang bombay..

Oya, berapa harga burger? Tergantung isinya, bukan? Bagaimana dengan rasanya? Tergantung isinya. Mau manis, sedikit pedas, atau gurih, semua tergantung isinya. Nah, saya mengajak Anda membayangkan 1 Tesalonika 5:16-18, dan membandingkan dengan burger kesukaan Anda.

Seperti burger, yang menentukan rasa dan harga adalah isinya. Jika membaca tiga ayat ini, manakah isinya? Apakah ayat 16, “Bersukacitalah senantiasa.” Atau ayat 17, “Tetaplah berdoa.” Atau, ayat 18. “Mengucap syukurlah dalam segala hal” ?

Ayat 17, “Tetaplah berdoa,”  tepat berada di tengah. Inilah yang memberikan nafas atau kita umpamakan seperti “isi” dalam burger. Dengan kata lain, seberapa besar saya dapat mengucap syukur dan bersukacita, bergantung seberapa besar saya berdoa. Mengapa demikian?

Kita pahami doa sebagai komunikasi kita dengan Tuhan. Betul. Ini berarti, bukan hanya saya yang berbicara kepada Tuhan, tetapi saya juga mendengarkan Dia. Doa membuat saya semakin mengerti Dia.

Doa membuat cakrawala yang sempit ini menjadi lebih luas. Doa mengubah cara pandang saya terhadap banyak hal. Bukankah ini yang membuat kita dapat senantiasa bersukacita atau tetap bersyukur?

Ada banyak orang mengalami pengalaman yang buruk, namun dapat bersyukur, karena rahasia ini: mereka berdoa. Doa bukan hanya berbicara kepada Tuhan, karena jika ini yang Anda lakukan, Anda dapat menjadi lelah, merasa seolah-olah berbicara di ruang hampa. Doa adalah saat kita mengambil waktu hening, agar kita dapat mendengarkan Tuhan.

Ambillah waktu dan tempat yang tenang. Seiring dengan tarikan dan hembusan nafas Anda, ucapkanlah nama “Yesus.” Lakukanlah berulang kali. Anda akan menemukan meski tidak sedang memejamkan mata, di hati ini berkumandang nama Yesus. Anda menjabat-tangan orang lain, di hati ini bergema nama Yesus. Anda mengemudikan kendaraan, di hati ini juga bergema nama itu. Jika ini terus menjadi hidup kita, kita akan takjub melihat bagaimana kita menjadi jauh lebih sabar, lebih bijak, lebih peka akan Tuhan, dan yang pasti, kita dapat menemukan alasan untuk bersyukur, bahkan untuk keadaan yang tak kita sukai. Inilah rahasia hidup rohani yang dikenal dengan nama hidup kontemplatif atau hidup di hadirat Allah.

Pdt. Lindawati Mismanto – GKI Manyar Surabaya

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *