Iri Hati

Iri Hati

“Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang” (Amsal 14:30 ).

Sahabat GKI,

Iri hati di dalam teks Yunani disebut dengan kata zelos. Dari kata ini kemudian muncul kata jealous. Kata dasar zelos menunjuk kepada semangat, hasrat, antusias dan keinginan yang begitu kuat dalam diri seseorang untuk mendapatkan atau merangkul sesuatu bagi dirinya. Iri hati pada dasarnya bukan tentang rasa tidak suka atas kelebihan orang lain, namun sedang menunjuk pada ‘keinginan yang begitu kuat dalam diri” untuk memiliki apa yang dimiliki oleh orang lain. Misalnya saja seseorang bisa iri karena temannya mendapatkan beasiswa studi lanjut, tetapi ia tidak iri ketika saat yang sama temannya naik jabatan. Seorang tetangga bisa iri karena tetangganya membeli rumah baru, tetapi dia tidak iri ketika tetangganya berlibur ke nusa dua Bali. Studi lanjut dan rumah baru adalah keinginan yang tersembunyi di dalam diri.

Keberhasilan orang lain bukanlah fokus dari pada persoalan iri hati. Itu hanyalah sarana untuk memperlihatkan apa sebenarnya keinginan hati kita yang terpendam. Karena itu, ketika seseorang berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan, otomatis rasa iri hatinya hilang. Oleh sebab itu, dengan memahami pengertian iri hati ini, kita menjadi sadar bahwa iri hati bukanlah persoalan tentang kecemburuan pada keberhasilan orang lain, tetapi pada hasrat diri yang besar akan sesuatu. Dari pengertian tersebut maka ada dua hal yang patut kita renungkan berkaitan iri hati.

Pertama, iri hati adalah kunci yang menyingkapkan hasrat dan antusiasme diri yang terpendam tanpa sadar. Kedua, cara untuk melepaskan diri dari iri hati bukanlah dengan tidak memiliki keinginan atau hasrat, tetapi mengontrol kestabilan keinginan itu sebaik-baiknya. Selama keinginan ini dapat dikendalikan maka ia akan menjadi pendorong kemajuan dalam diri seseorang. Tetapi jika keinginan itu lepas dari kontrol maka disitulah “iri hati akan membusukkan tulang” seperti yang dikatakan di dalam Amsal 14:30.

Telisiklah diri saudara, kenalilah dalam hal apa saja saudara bisa merasa iri, gunakanlah perasaan iri saudara untuk mengenali apa saja keinginan-keinginan saudara yamg tersembunyi. Kontrollah keinginan itu sehingga ia tidak membusukkan tulang saudara tetapi memicu saudara untuk menjadi lebih berkembang secara positif.

Pdt. Rinto Tampubolon

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *