Kepemimpinan Pelayan demi Pemerdekaan dan Pemberdayaan Jemaat yang Peduli

Yahya Wijaya

 

Ketika menjabat sebagai presiden Republik Indonesia, Gus Dur melontarkan guyonan tentang perbedaan antara dirinya dengan para presiden pendahulunya. Katanya: “Presiden pertama gila wanita, presiden kedua gila harta, presiden ketiga gila teknologi, dan presiden keempat (yaitu dirinya sendiri) gila beneran.” Memang hanya satu dari banyak anekdot yang ada tentang pemimpin negeri ini, tetapi guyonan itu menjadi menarik karena keluar dari mulut seorang presiden. Sebenarnya justru kesukaan melontarkan guyonan cerdas adalah salah satu yang membedakan Gus Dur dari presiden-presiden lainnya. Sukar dibayangkan guyonan semacam itu diucapkan oleh Bung Karno, Suharto, ataupun Habibie, bahkan Megawati dan SBY sekali pun. Guyonan-guyonan Gus Dur menyatakan bukan sekadar selera humornya, tetapi juga konsepnya tentang kepemimpinan. Melalui guyonan-guyonan itu, Gus Dur mendesakralisasi kedudukan pemimpin yang sebelumnya dibuat terlalu angker dan elitis. Hal itu juga ditegaskan melalui caranya berkomunikasi dengan para wartawan yang dibuat merasa bebas mengajukan pertanyaan apa saja dalam kesempatan-kesempatan informal. Itulah cara praktis dan sederhana untuk memerkenalkan kepemimpinan demokratis kepada rakyat yang lama berada dalam cekaman kepemimpinan feodal dan otoriter.

Dalam Injil, Yesus Kristus juga menunjukkan konsep kepemimpinan yang menantang bagi para pemimpin resmi. Sedikitnya ada tiga pemimpin yang terusik dengan kehadiran Yesus yang menarik simpati orang banyak. Ketiga pemimpin itu, yaitu Pontius Pilatus, Herodes, dan Imam Besar Kayafas, terlibat dalam proses penghukuman atas diri Yesus. Sebenarnya, ketiga pemimpin itu juga mewakili tiga model kepemimpinan yang dapat dibandingkan dengan model kepemimpinan Yesus.

 

Pontius Pilatus: Pejabat pusat yang ditempatkan di daerah

Pontius Pilatus dikenal sebagai wakil kaisar. Jabatan Pilatus adalah “procurator” yang kira-kira sama dengan gubernur jenderal dalam pemerintahan kolonial. Menurut A. Sizoo (1972), seorang pocurator memiliki kewenangan untuk memerintah wilayah tertentu di bawah koordinasi seorang “legaat” yang merupakan wakil kaisar dengan wewenang lebih besar dan memerintah wilayah yang berdekatan. Masa jabatan procurator terbatas dan setiap kali ia harus melaporkan kinerjanya kepada kaisar, baik secara langsung maupun melalui legaat. Pontius Pilatus menjabat selama sepuluh tahun. Jabatannya berakhir ketika legaat di Syria memerintahkan ia untuk menghadap kaisar pada tahun 36 AD untuk memberikan laporan pertanggungjawaban, tetapi situasinya sedang tidak menentu karena saat itu kaisar meninggal dunia.

Sebagai wakil kaisar Romawi, Pontius Pilatus tidak pernah dapat menyatu dengan rakyat yang di bawah kekuasaannya. Terdapat kesan yang kuat bahwa ia tidak memahami alam pikiran dan keyakinan bangsa Yahudi, sehingga tindakan-tindakannya banyak mendapat perlawanan. Salah satu kelompok yang melancarkan perlawanan keras adalah kaum Zelot. Pilatus menghadapi kelompok-kelompok keras masyarakat Yahudi dengan pendekatan konfrontatif. Penyaliban adalah hukuman yang biasa dikenakan kepada “pemberontak” Zelot yang tertangkap. Dalam Lukas 13:1, disebutkan tindakan keji Pilatus terhadap orang-orang Galilea yang sedang menjalankan ibadah korban. Tindakan cuci tangan Pilatus dalam kasus penyaliban Yesus juga menunjukkan bahwa ia menempatkan diri di luar persoalan bangsa Yahudi yang sebenarnya di bawah kekuasaan dan tanggungjawabnya. Pilatus tidak punya kepedulian apa pun terhadap bangsa yang diperintahnya. Tugasnya hanyalah menjalankan perintah dan kepentingan kaisar di wilayah jajahan itu. Jadi, yang penting baginya adalah bagaimana membuat bangsa Yahudi menjalankan perintah dan kemauan kaisar. Pemimpin semacam itu menganggap penilaian atasan sebagai ukuran keberhasilan. Jika kaisar memuji dia, syukur-syukur menaikkan pangkatnya, ia merasa telah menjadi pemimpin yang berhasil. Adapun sikap dan perasaan rakyat sama sekali tidak diperhitungkan.

 

Herodes: penguasa lokal

Herodes (Antipas) dalam cerita penyaliban Yesus disebut sebagai “raja seperempat negeri.”  Atas persetujuan Kaisar, ia mendapat sebagian dari wilayah yang sebelumnya dikuasai oleh ayahnya yang juga bernama Herodes, yaitu wilayah Galilea dan Perea. Jika si ayah bergelar raja, jabatan Herodes Antipas adalah “penghulu rakyat.”  Namun, baik raja maupun penghulu rakyat pada dasarnya memiliki kewenangan yang sama yaitu sebagai penguasa lokal yang diberi otonomi dalam bidang-bidang tertentu oleh kaisar, misalnya bidang hukum. Sebagai penguasa lokal, Herodes mempunyai kebebasan untuk menjalankan berbagai kebijakan dengan gayanya sendiri. Dalam beberapa hal, ia tidak harus mengikuti protokol kekaisaran. Kebebasan itu dimanfaatkan betul oleh Herodes untuk memperkaya diri dan membangun popularitas. Dibandingkan dengan Pilatus, Herodes lebih terlibat dalam kehidupan sehari-hari rakyat. Meskipun demikian, ia tetap menjaga jarak dengan rakyat. Lagipula ia tidak kalah kejam dari Pilatus. Kita mengenal cerita tentang bagaimana Herodes (Antipas) memenggal kepala Yohanes Pembaptis (Mark 6:14-29) atas permintaan anak tirinya, meskipun ia sendiri sebenarnya bersimpati terhadap pemberitaan Yohanes. Yesus menyebut Herodes sebagai “si serigala” (Luk 13:32) karena kekejamananya. Maka Herodes juga dibenci oleh rakyat.  Ia dapat terus memerintah dengan mengandalkan ancaman dan kekerasan. Sama seperti Pilatus, ia tidak punya kepedulian terhadap nasib rakyat. Ia hanya memikirkan kepentingan dirinya. Bagi penguasa lokal semacam Herodes, rakyat adalah objek eksploitasi dan mainan untuk memuaskan seleranya.

 

 Imam besar Kayafas: penguasa sakral

Imam besar adalah kepala para imam yang memimpin Bait Allah. Kewenangan imam besar mencakup bukan hanya bidang peribadatan dan keagamaan tetapi juga politik dan manajemen Bait Allah. Pada masa Tuhan Yesus, kekuasaan imam besar dikontrol ketat oleh penguasa kolonial. Agar kedudukan mereka aman, para imam harus menerima kekuasaan penjajah sebagai kenyataan, meskipun secara ideologis mereka harus mengidealkan kemerdekaan bangsa Yahudi. Imam besar dan para imam di bawahnya mendasarkan kekuasaan mereka pada tradisi Yahudi dengan Taurat dan Bait Allah sebagai unsur-unsur penentunya. Karena itu, imam besar bersama imam-imam bawahannya cenderung menjadi benteng konservatisme agama. Berdasarkan tradisi, mereka mengklaim kedudukan mereka sakral dan karena itu berhak akan ketundukan dan penghormatan umat. Kesakralan itu diungkapkan melalui simbol-simbol yang terkesan agung dan berwibawa, termasuk pakaian keimaman dan ritus-ritus Bait Allah yang secara eksklusif hanya boleh dilakukan oleh mereka. Karena klaim kesakralan itu, para imam menjadi kelompok elite dari masyarakat, yang dalam kehidupan sehari-hari terpisah dari pergulatan nyata umat biasa.

Mengeksploitasi ketaatan rakyat yang lugu terhadap tradisi, imam besar dan imam-imam kepala kerap memainkan hukum agama dan aturan peribadatan demi kepentingan politis dan ekonomik mereka. Aksi teatrikal Yesus menjungkirbalikkan meja dan bangku pedagang di halaman Bait Allah (Mat 21:12-17) dimaksudkan sebagai protes terhadap praktik kolusi yang dilakukan imam-imam Bait Allah dengan para pedagang. Jelas imam-imam merasa terusik dengan penampilan Yesus yang kritis terhadap tradisionalisme, karena itu mereka mengatur strategi untuk dapat menyingkirkannya.  Pada akhirnya imam besar Kayafas lah yang menjatuhkan vonis mati terhadap Yesus dengan tuduhan penghujatan (Mat 26:65-66). Itu menunjukkan bahwa kepemimpinan berbasiskan tradisi bisa menjadi sangat manipulatif dan kejam. (bersambung…)

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *