Kesalehan yang Dikehendaki Tuhan

Di tepi sebuah sungai, seorang yang berpenampilan sengat alim melihat dua orang: laki-laki dan perempuan, sedang duduk bersama dengan membawa sebotol minuman. Dalam benak orang saleh itu berpikir, “Alangkah bejatnya orang itu, dan alangkah lebih baik kalau dia menjadi seperti aku!”

Sejurus kemudian, pemandangan segera berubah. Tiba-tiba ada sebuah perahu tenggelam tidak jauh dari tempat itu. Tujuh orang yang berada di dalamnya terancam tidak akan selamat. Laki-laki yang duduk bersama seorang perempuan itu kemudian segera terjun ke sungai guna menolong mereka. Namun, ia hanya berhasil menolong enam orang. Kemudian, laki-laki itu mendekati  orang alim itu dan berteriak, “Jika saja engkau lebih mulia dariku, maka seharusnya bersama Tuhanmu, selamatkanlah seorang lagi yang belum dapat kuselamatkan. Anda diminta untuk menyelamatkan hanya satu orang saja, sedangkan aku telah melakukannya untuk enam orang.”

Namun, orang saleh itu bergeming, ia enggan melangkahkan kakinya apalagi menyeburkan diri untuk menyelamatkan seorang yang sedang bergulat dengan maut. Kemudian, laki-laki yang menyelamatkan enam orang itu berkata kepadanya, “Tuan, perempuan yang duduk di sampingku bukanlah wanita jalang, ia adalah ibuku. Dan botol minuman itu, bukan arak melainkan air putih!” Mendengar hal itu, orang alim itu tertegun, lalu berkata, “Sebagaimana Anda telah menyelamatkan enam orang itu, maka selamatkanlah aku dari kebanggaan dan kesombongan kesalehan yang sia-sia ini!”

Baju kesalehan dapat dipakai siapa pun. Namun, karakter kesalehan sejati tidak bisa diam manakala di dekatnya ada tuntutan moral yang memanggilnya melakukan sebuah tindakan. Sekalipun tindakannya itu akan membahayakan dirinya. Tampaknya berulang kali Tuhan kecewa terhadap umat-Nya. Mereka sangat gemar memakai baju kesalehan. Yesaya 58 setidaknya mengambarkan itu. Tuhan sangat kecewa terhadap umat-Nya oleh karena ucapan bibir dan pemberlakuan syareat ibadah bagaikan sebuah baju. Tidak tembus sampai nurani yang menciptakan karakter kesalehan murni. “Memang setiap hari mereka mencari Aku dan suka untuk mengenal segala jalan-Ku. Seperti bangsa yang melakukan yang benar dan yang tidak meninggalkan hukum Allahnya, mereka menanyakan AKu tentang hukum-hukum yang benar, mereka suka menghadap Allah, tanyanya, “Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?” Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu. Sesunggguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan terdengar di tempat tinggi.” (Yesaya 58: 2-4)

Umat Tuhan itu bukan hanya memakai baju kesalehan untuk kebanggaannya melainkan menggunakannya juga untuk memikat hati Allah. Mereka mengira dengan cara demikian, Tuhan dapat dikelabuhi. Tidak! Tuhan mampu melihat kedalaman hati manusia, Tuhan mampu melihat seutuhnya kehidupan manusia itu. Dengan tegas Tuhan mencampakkan baju kesalehan itu. Tuhan menelanjangi kesalehan munafik manusia, “Sungguh-sungguh inikah berpuasa yang Kukehendaki, dan mengadkan hari merendahkan diri, jika engkau menundukan kepala seperti gelagah dan membentangkan kain karung dan abu sebagai lapik tidur? Sunguh-sungguhkah itukah yang kausebutkan berpuasa, mengadakan hari yang berkenan kepada TUHAN? Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecahkan rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!” (Yesaya 58: 5-7).

Tuhan tidak menginginkan kemunafikan dipelihara. Namun, nyatanya umat tidak belajar dari kesalahan masa lalu. Buktinya, hampir enam ratus tahun kemudian, yakni pada zaman Yesus, manusia masih gemar memungut kembali baju kesalehan yang telah dicampakkan Tuhan. Setidaknya, Matius 6 merekam tiga rukun agama (sedekah, doa dan puasa) sebagai baju kesalehan itu. Mereka menggunakannya untuk kebanggaan diri agar orang disekitar mengagumi sebagai orang saleh. Sama seperti dalam zaman Yesaya, Yesus pun menelanjangi kesalehan seperti ini. Bagi-Nya, jauh lebih terpuji di hadapan Allah apabila manusia melakukan tindakan kesalehan itu tersembunyi.

Bila Allah tidak menyukai bahkan mencampakkan baju kesalehan munafik dan hal yang sama juga dilakukan Yesus, apakah hari ini kita mau memungut dan mengenakannya lagi? Hanya orang dungu yang tidak pernah mau belajar yang terus memakai kesalehan munafik! Bila hari ini (Rabu Abu) kita mengenakan abu pada dahi kita jadikanlah itu bukan sekedar tanda kesalehan bahwa kita bertobat. Pertobatan yang sesungguhnya akan terbukti dalam prilaku kita. Kini, marilah kita tumbuhkan dalam hati akan kecintaan kepada Tuhan yang sesungguhnya karena dari sana akan tumbuh benih-benih karakter kesalehan yang sejati!

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *