Laporan Ibadah Malam Natal GKI

Malam Natal, 24 Desember 2015 merupakan saat-saat yang sangat dirindukan oleh seluruh umat kristiani, begitu juga dengan jemaat Gereja Kristen Indonesia. Ibadah Natal dikemas dengan begitu rupa sehingga memberikan kesan tersendiri bagi jemaat yang hadir. Selain itu pesan-pesan Natal khusus pun disampaikan dengan unik menambah lengkapnya sukacita malam Natal.

Pohon Natal di GKI Sunter Mas tahun ini terbuat dari kertas koran. Pdt. Benny mengatakan bahwa natal harus menjadi seperti koran, mendorong kita menjadi terus terpaut dan butuh berita dari Allah. Natal harus membuat kita tahu dan kenal kasih Allah. Dari situlah kita mengenal Allah, merasakan apa yang Allah rasakan, yaitu Kasih Allah. Caranya adalah dengan mengasah nurani untuk terus merasakan Natal.

Ibadah Kedua Malam Natal di GKI Maulana Yusuf Bandung dilayani oleh Pdt. Albertus Patty dan mengambil tema:  Hidup benar dalam belarasa Allah. Dalam pesan Natalnya Pdt. Patty mengatakan salah satu penghalang besar untuk mewujudkan hidup berbelarasa adalah konsep kita tentang kebenaran. Apalagi, jika yang dimaksudkan adalah konsep kebenaran dalam beragama. Tidak sedikit orang yang jatuh dalam kebencian karena memaksakan kebenarannya kepada yang lain. Saat hal itu terjadi, agama hanya akan menjadi penghalang. Sebagai wujud nyata dari belarasa, pada ibadah tersebut juga diundang beberapa rekan dari NU untuk berbagi pengalaman dan pengertian antara satu dengan yang lainnya.

Sementara itu“Masih adakah Kasih Bagiku” menjadi tema kebaktian Malam Natal di GKI Gading Serpong, yang diselenggarakan dalam dua kali kebaktian pk. 16.30 dan pk. 20.30. Pelayanan Firman disampaikan oleh Pdt. Agus W. Maryanto (dari GKMI Cempaka Putih). Sedangkan Penyalaan Lilin Natal (Candlelight) dipimpin oleh Pdt. Andreas Loanka dan Pdt. Santoni. Dalam khotbahnya Pdt. Agus W. Maryanto menyampaikan : Tidak ada hal yang paling menyakitkan selain ketika kita ditolak. Karena perasaan ditolak menyebabkan orang kehilangan daya hidup dan hidup  terancam dalam ketakutan. Apalagi kalau kita ditolak oleh Allah, kehilangan Allah karena dosa dan pelanggaran kita. Ada rasa terhilang, terhalau dan tersembunyi dari Allah, sehingga kita sebagai manusia menangis dan berseru, “Masih Adakah Kasih Bagiku?”Jawabnya YA. Ada. Kasihnya nyata. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, dalam diri Yesus. (Yohanes 3:16) Peristiwa yang disebut Natal ini membawa pengharapan, bukan sekadar hiburan yang membuat orang senang, tetapi menjawab kebutuhan dasar manusia akan Tuhan bagi hidupnya. Hal ini memampukan kita berjalan dalam damai sejahtera Allah karena kita telah melihat keselamatan yang dari Allah.  Inilah makna Peristiwa Natal yaitu :
·        –  ketika Tuhan Yang Mahakuasa itu hadir menyelamatkan kita.
·        –  ketika Tuhan Yang Mahakuasa itu datang dan ada bersama kita (Imanuel)
·         – kemuliaan bagi Allah, damai sejahtera bagi bumi.
Ibadah Malam Natal serasa menghadirkan Nuansa yang berbeda di setiap jemaat GKI dan tentunya memberikan kesan tersendiri bagi setiap anggota jemaat yang hadir. Selamat Natal.
(Berita: Jenny K, Claudia, dkk)