Marilah Berpuasa!

Walaupun puasa bukan ibadah wajib dan komunal, melainkan suka rela dan personal, namun gereja membimbing umat berpuasa. Bimbingan tersebut didasarkan pada sifat personal itu, bahwa umat dibimbing bagaimana melakukan puasa bagi mereka yang terpanggil.

Bagaimana berpuasa? Marilah belajar dari sejarah gereja. Kitab Kristen yang digunakan oleh sebagian umat abad pertama dan kedua, yakni Didakhe pasal 8, menuliskan demikian: “Janganlah engkau melakukan puasamu seperti orang kafir (masudnya: orang Yahudi). Mereka berpuasa pada Senin dan Kamis, tetapi kamu harus berpuasa pada Rabu dan Jumat.”

Kedua hari tersebut dianggap berhubungan dengan peristiwa kematian Yesus, yakni ketika Yudas berkhianat untuk menjual Gurunya dan hari kematian-Nya. Gereja Timur dan beberapa tradisi kekristenan Barat tetap memberlakukan kedua hari tersebut sebagai waktu berpuasa sepanjang tahun di luar masa Prapaska. Pada masa Prapaska, lazimnya Gereja memberlakukan puasa lebih intensif selama dua pekan menjelang  Paska; semakin dekat kepada Paska, maka berpuasa semakin intens terutama pada Jumat Agung dan Sabtu Sunyi. Pada masa Prapaska selama empat puluh hari itu diberlakukan pula kepada para calon baptis.

“Angka 40 mengingatkan akan empat puluh tahun umat Israel menjelajah di gurun pasir sebelum memasuki Tanah Suci, empat puluh hari Musa berada di Gunung Sinai, dan terutama empat puluh hari lamanya Yesus berpuasa.”

Biasanya umat berpuasa pada Rabu Abu dan Jumat Agung dan berpantang makan daging atau jenis pantangan lain yang ditentukan sendiri oleh pribadi yang menjalankannya. Misalnya tidak merokok, pantang gula, pantang garam, pantang pesta, pantang hiburan, dsb. Dalam beberapa kesempatan pun, semisal: sebelum pembaptisan, sebelum perjamuan kudus, sebelum kebaktian, banyak orang Kristen berpuasa singkat. Oleh karena sifat puasa adalah suka rela dan personal, maka waktu dan bentuknya bisa tidak dimutlakkan. Namun tujuan puasa untuk berhemat dan menahan diri sangat bermanfaat bagi disiplin spiritualitas. Hasil penghematan itu dapat untuk derma. Uang rokok, pesta pora, hiburan, dapat diirit dan disumbangkan kepada orang miskin dan proyek-proyek kemanusiaan.

Bagi kebanyakan Gereja Protestan, praktek berpuasa sebagaimana dilakukan oleh Yesus, tidak terkalu ditekankan, apalagi diberlakukan sebagai liturgi umat. Namun Gereja tidak melarang ibadat personal puasa ini, apabila dilakukan dengan suka rela. Memang pada kenyataannya, tidak sedikit orang Kristen yang melakukan puasa. Kaum Injili, Gereja-gereja Pantekostal, kelompok Kharismatik, secara terbuka mengizinkan dan menganjurkan umat-Nya berpuasa. Gereja Katolik menyusun aturan berpuasa yakni: satu kali makan kenyang dan dua kali makan sedikit saja dalam sehari. Hal ini mengarahkan orang untuk berhemat dan menahan diri dari hawa nafsu. Bahkan tidak sedikit Gereja-gereja ekumenikal yang mempermaklumkan umat-Nya berpuasa. Jadi berpuasa adalah ibadat personal yang lazim dilakukan oleh orang Kristen secara suka rela.

Selain sebagai disiplin penyadaran akan lemahnya diri, puasa memiliki hikmah sebagai sarana pengendalian diri dari keserakahan dan ketergantungan pada jasmani. Semuanya dilakukan dalam rangka melatih hidup keagamaan yang lebih baik. Pengendalian diri bertujuan agar Gereja (atau “yang berpuasa”) tidak lepas kendali. Gereja harus mampu menahan diri dari nafsu jasmani dan keinginan daging. Itulah sebabnya puasa – baik di kalangan Kristen maupun dalam Islam – selalu diikuti dengan derma atau zakat, yang  atau puasa yang diikuti dengan pesta pora, dan puasa tanpa derma, adalah puasa yang tidak menjadi berkat.

One Comment

  1. salam sejahtera. Saya tak menerima penjelasan apakah komen yang lalu saya atas artikel ini bisa diterima dan dimuat atau tidak. Sehingga terkesan betapa sterilnya web GKI ini dari dulu sampai kini

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *