MELEKAT PADA TUHAN

MELEKAT PADA TUHAN

(MARKUS 10:17-31)

Di dalam kehidupan yang kita jalani, setiap kita selalu diperhadapkan pada pilihan. Baik dalam hal yang sederhana maupun yang rumit. Saat ini kita mau mengingat tentang pilihan yang diambil oleh seorang yang kaya sebagaimana diceritakan dalam Injil Markus 10:17-31. Pilihan yang harus ditentukan dalam kesadaran penuh berkaitan dengan harta yang dimilikinya sebagai orang kaya. Pilihan yang seharusnya diambil dengan mengingat apa yang pernah Yesus kotbahkan di atas bukit dalam Injil Matius 6: 19-21. “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana harta mu berada, di situ juga hati mu berada.” Bagian yang mengingatkan setiap orang supaya jangan diperhamba oleh harta, sehingga dapat mengambil pilihan yang tepat berkaitan dengan harta yang dianugerahkan Tuhan dalam hidup ini.

Pilihan yang ternyata tetap tidak mudah bagi orang kaya tersebut ketika Yesus memandang dia dengan penuh kasih dan berkata, “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kau miliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.” Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab hartanya banyak (Ayat 21-22). Jawaban yang diberikan oleh Yesus menjawab pertanyaan orang kaya tentang apa yang harus diperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal (ayat 17). Jawaban yang sesungguhnya mau menyatakan bahwa tidak ada satu perbuatan baik pun yang dapat dilakukan manusia dengan sempurna untuk beroleh hidup yang kekal. Hanya Allah yang mampu melakukan segala sesuatu dengan sempurna. Dalam kesempurnaan Allah yang mampu membawa manusia kepada hidup kekal. Seseorang perlu menyadari ketidaksempurnaannya termasuk dalam hal cara memandang harta berkaitan dengan hidup kekal. Penting sekali dalam kesadaran yang penuh, manusia melekatkan hati hanya kepada Tuhan dan bukan pada harta.

Kita ingin kembali menghayati dalam kesadaran penuh untuk melekat hanya pada Tuhan bukan pada harta yang fana. Pada dirinya sendiri harta bersifat netral karena harta hanyalah benda atau alat. Sikap kitalah sebagai manusia yang harus terus melekat pada Allah Sang Sumber Berkat, sehingga kita tidak melekat pada harta.

Pdt. Woro Indyas Tobing

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *