Memaafkan atau dimaafkan?

Pdt. Yolanda Pantou,

Mana yang lebih mudah, memaafkan orang yang telah menyakiti kita atau mengharapkan maaf dari orang yang telah kita sakiti? Atau mungkin pertanyaannya harus diubah, mana yang lebih sulit dari kedua pilihan itu?

Bagi saya lebih sulit untuk mengharapkan maaf dari orang yang telah kita sakiti. Kalau kita yang disakiti, maka kartu maaf itu ada di tangan kita. Kita yang ‘menentukan’ apakah kita mau atau tidak mau untuk mengampuni. Sebaliknya, kalau kita yang bersalah terhadap seseorang dan orang itu sampai mati tidak mau mengampuni kita, apa yang dapat kita perbuat? Kita sama sekali tidak punya kendali untuk memaksanya mengampuni kita.

Walau demikian, aneh tapi nyata, kita lebih suka menyakiti daripada disakiti. Lebih baik kita yang mengelabui orang lain daripada bolak-balik ditipu orang. Lebih baik kita mendapat keuntungan besar dengan merugikan rekan kita daripada kita bankrut karena hasil jerih payah kita dibawa orang. Atau kalau kita disakiti, kita inginnya membalas menyakiti dengan lebih keras lagi.

Pertanyaan yang mungkin mudah dijawab, tapi bukan dengan jawaban yang penuh kasih dan kerendahan hati. Oh jelas, aku tidak mau disakiti karena aku punya harga diri, memangnya siapa orang tersebut sampai boleh memfitnahku, merugikanku, mengambil hasil jerih payahku? Tidakkah aku terlalu hebat untuk disakiti oleh orang semacam itu? Apalagi kalau kemudian kita diminta untuk mengampuni orang yang telah menyakiti kita itu. Ah, enak saja!

Namun marilah kita melihatnya dengan cara pandang yang baru; ketika kita disakiti kita memiliki kesempatan untuk menjadi pemenang. Karena kita yang akan memutuskan untuk mengampuni orang tersebut, sekalipun orang itu mungkin tidak pernah meminta maaf atau bahkan menunjukkan tanda-tanda penyesalan.

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *