Memikirkan Apa yang Dipikirkan Allah

(Kej. 17:1-7, 15-16; Mzm. 22:23-32; Rm. 4:13-32; Mark. 8:31-38)

Kita tidak memerlukan suatu penelitian yang jelimet untuk dapat menyimpulkan bahwa memang banyak orang yang berpikir bahwa iman kepada Allah dalam Yesus akan membuat segala sesuatu menjadi beres; dalam nama Yesus segala sesuatu pasti dapat diatasi; bersama Yesus apa pun dapat berubah menjadi indah. Pendek kata asal bersama Yesus segala sesuatu dengan mudah dapat diraih dan dimenangkan

Pikiran seperti ini dalam mengikut Yesus ternyata sudah ada sejak zaman dulu (Markus 8:31-32). Ketika Yesus memberitahukan bahwa Ia akan mengalami banyak penderitaan, bahkan akan mati dengan cara yang sangat mengenaskan, yaitu disalibkan, Petrus bereakasi dengan keras. Ia menegur Yesus. Isi teguran itu tak dicatat oleh Markus, namun kita dapat melihatnya dalam dalam Mat. 16:22. “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau!”

Inilah cara berpikir manusia. Manusia hampir selalu membayangkan kejayaan, kemenangan, kelimpahan, kesenangan yang diperoleh dengan cara mudah, dengan jalan pintas! Penderitaan, kesusahan sedapat mungkin dihindarkan. Sebab itu pasti tidak menyenangkan.

Reaksi Tuhan terhadap cara berpikir seperti ini ternyata tegas dan keras: “Enyahlah iblis, sebab engkau bukan memikirkan yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” (Mrk. 8:33). Cara berpikir seperti ini, yang menginginkan raihan kemenangan, kejayaan dan sejenisnya dengan cara mudah, dengan menghindari kesulitan, adalah cara berpikir iblis. Dengan member rekasi: “Enyahlah iblis!” maka Tuhan Yesus meminta, bahkan mendesak setiap pengikut-Nya untuk berhenti atau meninggalkan cara berpikir seperti ini, dan beralih untuk memikirkan yang dipikirkan Allah. Tuhan Yesus meminta orang-orang yang percaya kepada-Nya untuk meninggalkan cara berpikir yang egoistik, ego-centris, dan mulai memikirkan yang dipikirkan Allah, yaitu keselamatan bagi dunia, kebaikan bagi semua.

Apakah salah jika kita, sebagai orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus memikirkan kejayaan, kemewahan, kenyamanan?

Jelas tidak! Dalam bacaan pertama Allah menjanjikan hal itu kepada Abraham (Kej. 17:1,6,16). Allah menjanjikan kepada Abaraham bahwa dari keturunannyalah akan muncul raja-raja. Keturunannya akan memiliki kekuasaan, kejayaan, juga kelimpahan. Yang Yesus tolak adalah cara yang dipikirkan manusia dalam mencapai semuanya itu. Manusia menginginkan jalan mudah dan pintas. Ini tidak sesuai dengan cara pikir Allah.  Cara mencapai kejayaan, kemenangan yang diekehandaki Alllah adalah menyangkal diri dan memikul salib.

Ketika memikul salib kayu yang kasar itu, kita harus menyesuaikan pundak kita dengan bentuk salib agar kita tidak disakiti olehnya; bukan sebaliknya salib yang menyesuakan diri dengan pundak kita. Maka memikul salib berarti menyesuaikan diri dan kehendak kita pada kehendak Allah. Memikul salib berarti menyesuaikan diri bukan pada selera kita, melainkan pada selera Dia yang memanggil kita. Memikul salib berarti membiarkan diri dikendalikan sepenuhnya oleh Allah, dan bukan sebaliknya memakai Allah untuk mengendalikan sesama.

Dengan jalan seperti inilah Yesus telah mencapai kemenangan-Nya., yaitu membiarkan Allah mengendalikan diri-Nya sepenuhnya. Ketaatan-Nya pada pengendalian Allah itu bahkan telah menuntunnya ke jalan penderitan, mati dengan disalibkan. Dan justru dengan jalan itu Kristus memperoleh kemenangan-Nya.

Bila kita mau memikul salib dengan cara seperti ini, maka itu berarti kita telah memikirkan bahkan melakukan  yang dipikirkan Allah. Dan bila kita telah melakukan yang dipikirkan Allah, maka kejayaan, kemenangan sesungguhnya sedang kita alami .

Kedua, memikul salib berarti siap menanggung rasa malu dan ejekan karena ketaatan pada panggilan. Memikul salib itu memang tidak menyenangkan, tidak ngetrend, ditertawakan, diejek, dicemooh. Pergi kemana-mana dengan memikul kayu salib yang kasar itu tentu dapat menyebabkan cemoohan, hinaan. Dan ini telah dialami Yesus. Demi ketaatan-Nya kepada Bapa, Ia rela ditertawakan, dicemoohkan.

Menaati panggilan Tuhan tentu dapat menjadi bahan tertawaan. Konsisten jujur dalam lingkungan yang korup tentu dapat menimbulkan olok-olokan. Setia pada perkawinan di tengah lingkungan yang memandang perselingkuhan sebagai bumbu perkawinan, tentu dapat menimbulkan tertawaan. Tapi kita tidak punya pilihan lain, kecuali memikul salib. Artinya, kita rela ditertawakan demi ketaatan kepada Tuhan.

Bila kita mau memikul salib dengan cara seperti ini, maka itu berarti kita telah memikirkan bahkan melakukan  yang dipikirkan Allah. Dan bila kita telah melakukan yang dipikirkan Allah, maka kejayaan, kemenangan sesungguhnya sedang engkau alami

Dalam memikirkan apalagi melakukan yang dipikirkan Allah, kita tentu saja dapat menghadapi godaan dan tantangan. Dalam keadaan seperti itu kita harus terus mengingat janji Tuhan: “…tetapi barang siapa kehilangan nyawanya karena Aku dan kerena injil, ia akan menyelamatkannya.” (Mark. 8:35b). Dan bukan hanya mengingat, kita harus percaya pada janji itu, bahkan ketika seolah tidak ada alasan untuk percaya. Itulah yang diteladankan Abraham. “Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya….” (Roma 4:18)

Akhirnya, selamat belajar memikirkan bahkan melakukan yang dipikirkan Allah. Selamat belajar membiiarkan diri dikendalikan sepenuhnya oleh kehendak Allah. Selamat belajar menanggung rasa malu demi kesetiaan kepada Tuhan dan kehendak-Nya. (AL)

 

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *