Mencari dan Menjadi Sahabat bagi Bumi

Abu Krakatau dan Tikus di Meja Makan

Kuliah privat perdana tentang beberapa hal mendasar Ekoteologi sudah selesai. Clive Pearson, dekan United Theological College mengunjukkan Ekoteologi begitu penting untuk dikenali dan didalami. Saya lalu ke perpustakaan untuk mencari dan membuat catatan dari beberapa buku rujukan ekoteologi yang tadi dibahas bersamanya. Langit semakin cerah terlihat dari jendela di ruang baca dalam Camden Theological LibraryCentre for Ministry, North Parramatta, New South Wales, Australia. Hari sudah siang. David Reichardt, kawan baik sekaligus pembimbing selama saya melewati cuti sabat di Sydney, menawarkan bekalnya kepada saya. Daripada membuang waktu keluar, lebih baik berbagi menyantap bekal yang ada sembari bercakap-cakap dengan kawan-kawan lain di ruang tunggu yang cukup luas di depan perpustakaan. Ada banyak meja dengan masing-masing sekitar 4-6 kursi. Beberapa orang terlihat mulai duduk dan membuka kotak makanannya. Kami duduk menempati sebuah sofa yang diatur untuk empat orang. Di situ seorang laki-laki dan perempuan terlihat asyik dalam percakapan. Laki-laki itu adalah George Emeleus, seorang ilmuwan yang justru pada usia pensiunnya sedang mengambil program studi teologi doktoral. “I am looking for the Enlightenment,” ucapnya jenaka.

Saya menyantap setengah potong pisang dan setengah potong roti selai keju. Perlahan-lahan kursi di sekitar kami bertambah. Lima orang lain bergabung juga. Semua datang dari lingkungan yang berbeda. Alumni. Mahasiswa tingkat doktoral. Pegawai perpustakaan. Ada warga negara Australia dari rupa-rupa wilayah, Libanon dan Indonesia. Lingkaran percakapan semakin melebar. Rupa-rupa topik tersaji menghiasi jam makan siang kami.

Saya menceritakan tujuan utama berlibur yakni mengekplorasi ekoteologi dan ide demi gereja, gaya hidup, pendidikan yang karib bumi. George menceritakan bahwa anaknya berlatar belakang pendidikan technic engineering dan sedang studi tentang Indonesia dan banyak bekerja di Indonesia. Ada pula kisah perjalanan dinas George dulu selama tugasnya selaku volcanologist di Jayapura, Papua. Kisah tentang meletusnya gunung Krakatau. Abunya tebal beterbangan meluas. Lalu, beberapa dari kami memuji bahwa Dianne sering terlihat membawa dan mengonsumsi makanan kaya nutrisi dari buah dan sayuran segar. David mengisahkan pengalamannya kala menjalani sebuah misi kemanusiaan tentang penyakit kusta. Suatu hari ia membawa banyak tikus dalam kandang di India. Banyak orang India kala itu heran dan memandang jijik. Cerita ini memancing ingatan Ranette juga kala ia mesti melakukan sebuah percobaan. Ranette cenderung selalu bergidik dahulu menyentuh tikus. Akhirnya ia dan seorang kawan berkebangsaan Cina bekerjasama. Ia menyuntik si tikus. Sang kawan memegang badannya.

Perjumpaan pada waktu makan siang bersama itu menjadi satu bukti bahwa sesungguhnya kita semua selalu dapat menemukan hal yang sama. masing-masing kami selalu punya pengalaman yang unik bahkan tidak nyaman dengan gejala alam Dari hal apa yang dirasa jijik, sampai pada kebutuhan untuk bersosialisasi. Apapun warna kulitnya, fasih ataukah tidak dalam berbahasa Inggris sebagai bahasa pergaulan, ternyata makan menjadi sebuah kebutuhan yang tidak dapat terelakkan. Kami sama-sama menyesuaikan waktu agar dapat makan siang bersama. Roti sebagai menu yang mendominasi pilihan bekal di siang hari itu. Udara dingin. Perlu minuman hangat sebagai kawan kala bekerja atau membaca di ruang perpustakaan. Perlahan-lahan kita semua beradaptasi dengan apa yang menjadi alam di tempat kita berada. Oleh sebab itu kita memerlukan alam perlu sebagai daya dukung kegiatan kita.

 

Mencari Sahabat bagi Bumi

Pemaparan di atas bermaksud sebagai ajakan bahwa kita semua perlu mengenali mengapa kita mau mencari dan menjadi sahabat bagi bumi. Barangkali kita bertanya-tanya, adakah gunanya? Bukankah Allah sudah menetapkan jalan alam, binatang dan jalan manusia? Ketika ada bencana, bukankah itu sebagai gejala bumi yang menua seiring dengan usianya? Untuk apakah berbicara tentang alam? Bukankah tugas kita untuk memperhatikan keselamatan, mengajari anak kita supaya pandai berdoa serta hidup dalam pengharapan?

Harus diakui bahwa kekristenan mula-mula cenderung bertumbuh dalam tradisi dualistis dalam budaya yang mengakar dalam pemikiran dan bahasa. Di satu sisi, kekristenan merendahkan nilai benda (matter). Alam serta dunia tidak bernilai di mata orang-orang Kristen. Misalnya pada era hellenistik, budaya Yunani cukup mendominasi dunia Mediterrania. Dalam pemikiran Plato, dunia adalah semacam bayangan dari dunia yang kekal. Dalam tubuh manusia, ada semacam roh abadi yang terjerat yang mendesak untuk membebaskan diri dari tubuh duniawi dan kembali pada asalnya di surga. Tidak heran ada ungkapan: Nature, the world, has no value, no interest for Christians. The Christian thinks of himself and the salvation of his soul (Ludwig Feuerbach)

Selain itu, dalam menyebut istilah “bumi”, “tanah” dan “debu” kita cenderung memandangnya sebelah mata. Ungkapan “jangan main tanah, nanti kotor!”. Atau ungkapannya dalam bahasa Inggris pun demikian, “Dirt” dan “dirty” menjelaskan sesuatu yang jijik secara fisik, atau merujuk pada sebuah candaan yang tidak berkelas. Saya jadi teringat pada sebuah pengalaman perayaan Hari Bumi tahun 2010 di sebuah kelompok bersama di sekolah berkurikulum nasional plus di Rancamaya, Bogor.

Kala itu, saya mengajak anak-anak memakan buah jeruk. Kulitnya dikumpulkan dan dibagi rata untuk ditanam dalam sebuah pot mini yang kemudian ditutup tanah. Saya ingin mereka belajar memilah samah organik dan membuat kompos dengan cara sederhana, Satu per satu anak bergantian maju untuk menanam kulit jeruknya. Ada yang tidak ragu-ragu memegang tanah. Ada yang sekedar menyentuh perlahan-lahan. Ada pula yang maju tetapi menolak untuk mendekat. Pengalaman ini menyiratkan bahwa tanah cenderung dipandang jorok. Tanah sering identik dengan bau dan becek padahal peladang dan pengelola kebun menggunakan kata “bumi” dan “tanah” sebagai citra kesuburan dan kemakmuran.

Di sisi lain, kekristenan juga mempunyai tradisi yang memuliakan pekerjaan Allah. Betapa manusia dapat menikmati bumi dan kepenuhannya, menghargainya sebagaimana Allah menciptanya. Banyak teks Alkitab mengatakan betapa alam dapat bertepuk tangan. Mereka turut memuliakan Allah. Allah pun langsung berelasi dengan mereka. Allah yang memberi minum segala binatang di padang melalui mata air di dalam lembah-lembah yang Ia cipta (Mzm 104:10-11). Allah yang menciptakan keindahan burung-burung serta menanam dan menumbuhkan pohon-pohon aras di Libanon sebagai sarang mereka (16,17).

Bersahabat bagi bumi bukanlah sebuah hal yang baru bagi gereja. Sedari semula Allah menempatkan segala ciptaan-Nya secara tertata, saling mendukung dan melengkapi. Masing-masing ciptaan memiliki keintiman dengan Allah.

 

‘Tselem’ dan ‘Demut’: Menjadi Sahabat bagi Bumi

Persahabatan terjadi di mana saja. Sahabat diidamkan oleh siapa saja. Di rumah tempat saya menumpang selama tinggal di Sydney, Oscar, si kucing manja hidup baik dengan Scout, si anjing kecil (tetapi badannya besar) yang gagah dan periang sekali. Memang mereka hidup terpisah. Oscar di dalam rumah ataupun kadang berkeliaran di halaman depan dan samping kanan rumah. Scout bermukim di area belakang rumah. Keduanya memang jarang dipertemukan sebab tampaknya gaya canda Scout tidak sebanding dengan berat tubuh Oscar. Namun mereka tidak pernah saling melukai apalagi mematikan.

Scout mulai memahami bahwa tidak selalu ia boleh melompat ke tubuh saya. “No! Sit down!” Ia duduk dengan patuh. Oscar juga mulai tahu bahwa ia boleh tidur di ranjang saya bahkan berputar-putar manja di dekat kaki, lalu berlari mengajak saya keluar kamar dan memberinya makan. Hewan pun memahami arti persahabatan.

Jelas, bumi bersahabat karena Allah-lah Penciptanya. Segala makhluk bersahabat dan takluk kepada Allah. Bayangkan bagaimana jenakanya situasi yang digambar dalam Kejadian 2:19b. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya. Rupa-rupa binatang purba dibawa ke hadapan manusia padahal bukankah biasanya gambaran binatang purbakala itu seram dan ganas. Namun semua itu berada dalam kendali Allah. Ada kekariban yang begitu istimewa.

Anggapan bahwa manusia itu mahkota ciptaan bukan berarti ia puncak ciptaan seolah-olah ada jenjang dari yang paling jelek sampai kepada yang paling istimewa apalagi karena kita dicipta pada hari terakhir Allah bekerja. Lihat pemakaian kata ‘tselem’ dan ‘demut’, misalnya dalam Kejadian 1:26 dan 5:3. Tselem berarti gambar (image) dan bukan representasi bentuk konkret visual; sebuah penanda karena sesuatu atau seseorang tidak hadir. Demutberarti kemiripan (likeness) atau keserupaan fisik dan genetik antara ayah dan anak. Jikalau kata ‘tselem’ dipakai dalam arti manusia segambar dan serupa Allah, artinya lebih kuat ketimbang dalam arti ‘anak laki-laki segambar dan serupa ayahnya’.

Namun ketika ‘demut’ dipakai dalam kaitan manusia terhadap Allah, maka pemahaman ‘segambar dan serupa’ itu lebih lemah dibandingkan dalam kaitan anak laki-laki terhadap ayahnya.

Dengan kata lain, manusia diciptakan bukan sebagai makhluk yang istimewa karena rupanya seperti Allah, melainkan karena ia menjadi serupa dengan gambar dan rupa Allah pada saat dirinya memperlakukan bumi dan segala makhluk hidup seperti Allah memperlakukannya. Manusia menjadi mulia kala ia pun melakukan apa yang mulia di mata Allah. Manusia dianugerahkan tanggungjawab untuk ikut menjaga keseimbangan alam di bumi, di antara semua makhluk hidup yang menghuninya. Manusia diberikan kepercayaan untuk menjadi sahabat bagi bumi.

Minggu setelah ikut latihan paduan suara di Randwick Presbyterian Church, saya, Yolanda (seorang kawan sesama penggiat pelatihan kepemimpinan perubahan iklim) dan anaknya berjalan-jalan naik monorail. Kami singgah di pasar ikan (Sydney Fish Market). Banyak burung camar berkeliaran di sana. Ada satu yang terlihat asyik lama berdiri tetapi satu kakinya diangkat. Setelah didekati, rupanya kakinya itu terlilit benang kusut. Tidak ada jalan bagi saya untuk menolongnya. Ternyata sampah terutama yang ringan dan tipis sekalipun dapat mencelakakan ciptaan Tuhan yang lainnya.

 

Menjaga Sampah, Menyukuri Pemberian Allah

Menjadi sahabat bumi tidak mesti membuat kita masuk menjadi bagian dalam organisasi pembela lingkungan. Tidak perlu membuat kita ekstrem mengenakan atribut yang menandai kita penggiat bumi yang sejati. Namun jelas, menjadi sahabat bagi sang burung camar tadi adalah dengan berhenti melakukan secara sengaja atau tidak sengaja hal-hal dapat menjadi batu sandungan bagi yang lain. Janganlah kita menjadi benang jeratan bagi binatang. Pastikan bahwa sekecil apapun sampah, harus ditaruh benar dan baik. Sampah ringan mudah terbawa angin, masuk selokan, hanyut ke lautan. Atau, terbang dan membelit makhluk kecil yang tidak berdaya membebaskan dirinya.

Sebuah plastik tergeletak di lantai sanggup membuat seseorang jatuh dan cedera berat. Seonggok rambut di lubang saluran air mampu membuat seseorang kelimpungan, mencari tukang pipa, ataupun jatuh karena genangan air meluap dari bak cucian piring. Sepotong besar daging setiap makan, juga dapat mempercepat penyumbatan saluran darah dalam tubuh kita. Less meat, less heat. Kurangi makan daging, kurangi pemakaian gas untuk kompor. Mengurangi pemakaian gas alam sama dengan menekan laju konsentrasi gas karbondioksida di atmosfer kita. Ingatlah, semua yang baik kita perbuat karena Kristus membawa keselamatan bagi seisi dunia!

Selamat mencari dan menjadi sahabat bagi bumi.

 

Bahan Bacaan

  • Conradie, Ernst. Christianity and Ecological Theology: Resources for Further Research. (Study Guides in Religion and Theology/ Publications of the University of the Western Cape). SUN PReSS, 2006.
  • Leal, Robert Barry. The Environment and Christian Faith: An Introduction to Ecotheology. Strathfield, NSW: St Pauls Publications, 2004.

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *