Menguduskan Diri Dengan Menaati Firman Tuhan

Pra-paska III

Tajuk Rencana Harian Kompas hari ini (Kamis, 5 Maret 2015) berjudul “Jangan Korbankan Rakyat”, menyoroti kisruh Gubernur DKI Jakarta dan DPRD menyangkut Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah 2015. Proses yang berlarut bahkan berujung pada penggunaan hak angket oleh DPRD merupakan contoh tidak baik dalam penyusunan anggaran. Dibandingkan dengan provinsi lain, pengesahan APBD Jakarta sudah sangat terlambat! Jakarta seharusnya bisa menjadi contoh bagi daerah lain bagaimana proses demokrasi dalam penyusunan rencana anggaran. Seharusnya penyusunan APBD sudah rampung di bulan Oktober atau November 2014, dan bisa berjalan pada Januari 2015. Bulan Maret biasanya dibahas untuk RAPBD Perubahan. Namun, faktanya, penyusunan APBD Jakarta belum bisa disahkan sampai Maret 2015.

Kelambatan pengesahan APBD Jakarta 2015 tentunya bisa memengaruhi serapan anggaran tahun 2015. Kekisruhan pengesahan APBD semestinya tidak perlu terjadi. Hak angket yang merupakan hak DPRD seharusnya tak perlu digunakan jika memang ada komunikasi tulus antara Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dan DPRD. DPRD menggunakan hak angket dengan dalil Ahok telah melanggar prosedur dengan menyerahkan draf RAPBD yang belum disepakati oleh DPRD ke Kementerian Dalam Negeri. Langkah DPRD itu ditanggapi dengan pelaporan oleh Gubernur Jakarta ke Komisi Pemberantasan Korupsi lantaran Ahok menduga DPRD telah menyusun dan memasukkan “dana siluman” sejumlah Rp. 12 triliun. Yang perlu dipahami bahwa anggaran itu merupakan dana milik rakyat!

Konfrontasi terbuka telah berminggu-minggu menjadi tontonan publik. Ahok bergeming dengan keyakinan substansial bahwa ia tidak bisa menghianati rakyat yang memilihnya dengan begitu saja menyetujui anggaran siluman yang masuk APBD. Praktek seperti ini harus dilawan! DPRD punya senjata. Senjata itu bernama “prosedur” dan legitimasi. Sampai kapan pun konfrontasi ini sulit menemukan titik temu. Satu bicara substansi dan yang lain prosedur legitimasi. Mestinya, yang terjadi adalah prosedur melayani atau sebagai alat substansi. Bukan sebaliknya, demi prosedur semua bisa dikompromikan!

Konfrontasi terbuka di Bait Allah pernah terjadi. Bait Allah terletak di Yerusalem yang merupakan pusat geografis dan religius Palestina bahkan sampai sekarang. Yerusalem menjadi tempat konfrontasi Yesus berhadapan dengan “orang-orang Yahudi”. Orang-orang Yahudi tidaklah mesti ditafsirkan keseluruhan orang Yahudi sebab Yesus dan murid-murid-Nya pun orang Yahudi. Orang-orang Yahudi di sini adalah istilah yang merujuk kepada para pemimpin atau penguasa politik religius Yahudi yang berpusat di Yerusalem. Mereka adalah orang-orang yang sejak kemunculan Yesus tidak suka dengan-Nya. Orang-orang ini terus menentang Yesus, mencari-cari kesalahan dan nantinya membuat persekongkokalan membunuh Yesus. Artinya, Yesus berkonfrontasi dengan para pemimpin Yahudi. Dua kelompok dominan adalah ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi.

Di Yerusalem konfrontasi itu selalu terjadi. Peristiwa penyucian Bait Allah merupakan pemicu konfrontasi utama antara Yesus dengan para pemimpin Yahudi. Injil Yohanes (2:13-22) mencatat, peristiwa itu terjadi menjelang hari Raya Paskah. Hari Raya terbesar bagi umat Yahudi. Pada hari Raya itu, setiap laki-laki Yahudi yang berusia di atas 13 tahun wajib berziarah ke Yerusalem. Oleh karena itu, menjelang Paskah, Yerusalem menjadi kota yang dipenuhi oleh peziarah. Upacara utama hari Raya Paskah adalah korban anak domba dan perjamuan Paskah di dalam keluarga-keluarga. Menjelang Paskah itu wajarlah kalau di sekitar Bait Allah banyak yang memanfaatkan mencari keuntungan. Sangat tidak mungkin para peziarah yang berasal dari pelbagai wilayah yang cukup jauh membawa hewan kurbannya tanpa cacat dan luka. Maka banyak pedagang hewan kurban (lembu, kambing, domba, merpati) memanfaatkan situasi ini, tentu semua hewan kurban itu sudah bersertifikathalal. Namun, sayangnya harganya berkali lipat. Sebab para pedagang hewan ini juga harus membayar sejumlah besar uang kepada pengurus Bait Allah.

Para penukar uang untuk pajak dan persembahan Bait Allah juga mengeruk keuntungan yang berlipat ganda. Di Yesrusalem hanya mata uang Tyria yang berlaku maka para peziarah dari luar Yerusalem mau tidak mau harus menukarkan mata uang yang mereka bawa. Para pedagang valas ini  tentu saja harus membayar pajak kepada para penguasa Bait Allah. Di sinilah korupsi, kolusi, kongkalikong dan ketidakjujuran terjadi. Imam Besardan keluarganya juga menikmati praktik bisnis di sekitar Bait Allah!

Di sisi lain, mereka yang dengan tulus hendak beribadah di Bait Allah dijadikan sapi perah. Tentu saja ibadah mereka terhambat. Ibadah menjadi begitu sangat mahal dan untuk mengalami perjumpaan dengan Allah melalui ibadah merupakan barang mewah! Hal ini menjadi sangat tidak mungkin dinikmati oleh orang-orang miskin.

Kenyamanan dan kenikmatan dari hasil bisnis di Bait Allah ini terusik mana kala Yesus memasuki pelataran Bait Allah dengan cemeti di tangan. Ia memporakporandakan praktik bisnis. Pada waktu itu memang Yesus mengusir para pedagang. Namun, sebenarnya yang dihadapi Yesus bukan hanya para pedagang tetapi mereka yang ada di belakang para pedagang itu. Mereka yang menjadi bandar dan penguasa legitimasi Bait Allah. Dalam kisah ini para pedagang tidak melakukan perlawanan tetapi para penguasa dan pengusahan itu yang mengecam tindakan Yesus. Mereka bertanya dan mempersoalkan tindakan Yesus,“Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?” (Yohanes 2:18). Mereka bertanya soal legitimasi dan prosedur sementara Yesus bertindak substansial bahwa Rumah Bapa-Nya (Bait Allah) bukan tenpat penyamun melainkan tempat orang mengalami perjumpaan dengan Allah! Bagi para pemimpin Yahudi, legitimasi dan prosedur adalah alat atau celah mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Bagi Yesus legitimasi dan prosedur adalah alat yang memudahkan manusia mengalami perjumpaan dengan Allah. Yesus menjadi teladan bagi setiap orang percaya. Secara fisik memang benar ia menyucikan Bait Allah dengan memporak porandakan para pedagang yang ada di sana. Namun, substansinya ia mengembalikan kekudusan Bait Allah pada fungsi semula. Yesus rela menanggung resiko bahkan di kota ini juga, Yerusalem kelak ia akan difitnah, ditangkap, dianiaya dan dihukum mati.

Hakekat semula, Taurat yang Allah berikan kepada Musa untuk bangsa Israel di Gunung Sinai (Keluaran 20:1-17) adalah untuk menolong bangsa itu menjadi bangsa yang kudus, berbeda dari bangsa-bangsa lain. Namun, di kemudian hari Taurat itu telah menjadi sederetan peraturan yang membebani kehidupan umat manusia.  Ingatlah juga akan kritik Yesus tentang peraturan Sabat. Bagi-Nya, Sabat adalah untuk manusia bukan manusia untuk Sabat. Peraturan itu ada memang bukan untuk dilanggar tetapi peraturan itu diberikan agar menolong manusia untuk hidup kudus di hadapan Allah. Allah memberikan firman-Nya sama sekali bukan membebani manusia melainkan dengan jalan itulah manusia mengkhususkan diri agar berkenan kepada-Nya.

Firman Allah tidak pernah membelenggu manusia melainkan merangkul manusia agar dekat kepada-Nya dan membebaskan manusia dari belenggu dosa termasuk di dalamnya keserakahan dan kemunafikan. Temukanlah substansi dari firman Allah itu, bukan hanya urusan prosedur atau kulit luarnya saja, atau dalam bahasa Paulus temukanlah “hikmat Allah” dan bukan sekedar hikmat manusia (1 Korintus 1:18-25), maka kita akan dapat menaatinya dengan sukacita, bukan dengan keluh kesah dan beban berat. Hanya dengan menaati firman-Nya kita dapat menguduskan diri agar hidup berkenan kepada-Nya.

Pdt. Nanang

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *