Merayakan Reformasi Gereja Abad ke-16

Akhir Oktober tahun depan, di seluruh dunia akan diperingati 500 tahun Reformasi Luther yang melahirkan gereja-gereja Protestan. Apa yang melatari gerakan reformasi itu dan apa maknanya bagi masa mendatang?

SINODEGKI.ORG – Tanggal 31 Oktober 2017 tahun depan puncak perayaan Yubileum 500 Tahun Reformasi Gereja di Wittenberg, Jerman, merayakan Reformasi Gereja di Eropa pada abad ke-16. Reformasi dimulai oleh Martin Luther, seorang rahib muda Katolik dan dosen Biblika di Universitas Wittenberg.

Berawal dari pergumulan rohani pribadi yang panjang dan mendalam mengenai bagaimana seorang berdosa beroleh keselamatan, Luther menemukan jawaban dalam Roma 1:7. Dengan rahmat-Nya Allah membenarkan orang berdosa melalui iman kepada Kristus. Dengan pandangan baru mengenai pembenaran ini  Martin Luther mempertanyakan sejumlah ajaran dan praktIk gereja, khususnya penjualan surat penghapusan dosa untuk menyelamatkan jiwa dari api pencucian.

Pada akhir bulan Oktober 1517 Luther menulis pandangan-pandangannya dalam serangkaian dalil dalam bahasa Latin berjudul “Perdebatan mengenai Kuasa Surat Penghapusan Dosa” (dikenal sebaga1-lucas-cranach-the-elder-portrait-of-martin-lutheri “95 Dalil Luther”), untuk didiskusikan di Universitas Wittenberg. Tujuan utama Luther adalah mengoreksi ajaran-ajaran gereja yang tidak Alkitabiah, khususnya penjualan surat penghapusan dosa, dan otoritas Paus. Tetapi dalil-dalil itu diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman, diperbanyak dengan bantuan mesin cetak Gutenberg, dan dibagikan kepada tokoh-tokoh gereja dan kalangan kaum terpelajar di berbagai tempat. Tetapi reaksi negatif pimpinan Gereja Katolik, campur tangan Kaisar, dan dukungan positif para penguasa politik lokal akhirnya menimbulkan Reformasi Gereja yang akhirnya memecah kesatuan Gereja Katolik dengan berdirinya Gereja Lutheran dan gereja-gereja Protestan lainnya.

Setelah beberapa kali diperiksa oleh pimpinan Gereja Katolik, ditemukan bahwa dalam tulisan-tulisan Luther terkandung ajaran-ajaran yang dianggap sesat dan tidak sesuai dengan ajaran resmi gereja. Dia diminta menarik pandangan-pandangannya itu dan diancam akan dikucilkan gereja. Tetapi Luther menolak, bahkan dia membakar surat ancaman Paus.

Luther terus menulis gagasan-gagasannya. Akhirnya Luther dikucilkan pada bulan Januari 1521 sebelum menghadap sidang kekaisaran (diet) di Worms.  Di depan sidang itu Luther menegaskan keteguhannya mempertahankan pandangan-pandangannya. Setelah meninggalkan sidang ia dijatuhi hukuman sebagai penjahat, buronan negara, melalui maklumat (edict) kekaisaran. Edict Worms tahun 1521 ini berlaku juga bagi para pengikut Luther. Luther disembunyikan Raja Frederik di kastil Wartburg, dekat Eisenach, selama beberapa bulan (Mei 1521 – Maret 1522), di mana dia terus menulis dan sempat menerjemahkan Perjanjian Baru dari teks bahasa Yunani ke dalam bahasa Jerman.

Reformasi Luther menyebar ke berbagai tempat. Di Zurich Ulrich Zwingli memulai  reformasi bersama pemerintah kota pada tahun 1522. Beberapa tahun kemudian muncul gerakan radikal kaum Anabaptis dikota itu, tetapi kelompok ini ditindas dengan bengis sehingga mereka mengungsi ke tempat lain. Pada tahun 1524-25 sekelompok kaum reformator radikal di Jerman, antara lain di bawah pimpinan Thomas Müntzer (c. 1489-1525), menggerakkan perlawanan bersenjata kaum petani, yang kemudian ditumpas dengan kejam oleh para penguasa.

Sidang Kekaisaran
Perkembangan selanjutnya adalah campur tangan penguasa, baik di fihak Reformasi , maupun di pihak Gerja Katolik, sesuai kenyataan kesatuan negara dan agama di Eropa masa itu. Beberapa sidang kekaisaran digelar membahas Reformasi.

Pada tahun 1526 berlangsung Diet Speyer I, yang akhirnya menangguhkan Edict Worms 1521, dan membolehkan masing-masing pemerintah lokal memilih mendukung atau menolak Reformasi, sampai ada persidangan lagi. Pengikut Reformasi menganggap ini jaminan kebebasan beragama untuk mendirikan gereja Reformasi, sehingga peristiwa tahun 1526 ini mungkin dapat diterima sebagai saat lahirnya Gereja Lutheran secara resmi, walaupun sebelumnya pada tahun 1525 ibadah dan penahbisan pendeta secara Lutheran sudah berlangsung.

Diet Speyer II tahun 1529 membatalkan keputusan Diet Speyer I mengenai kebebasan beragama, dan memberlakukan kembali Edict Worms 1521. Kalangan Reformasi menentang dengan mengajukan surat pernyataan protes (“Letter of Protestation”) kepada persidangan pada tanggal 19 April 1529. Sejak itulah mereka disebut kaum Protestan.

Pada persidangan berikutnya tahun 1530 di Augsburg, kalangan Reformasi mengajukan ringkasan iman Lutheran, yang dikenal sebagai Pengakuan Augsburg (Confessio Augustana), karya Philip Melanchton (1497 – 1560). Pengakuan ini menjadi dokumen kelembagaan Gereja Lutheran. Baru kemudian, setelah melalui konflik dan peperangan, Gereja Lutheran diakui Kaisar dalam Perdamaian Augsburg pada tanggal 25 September 1555.

Pemahaman Bersama
Martin Luther mulai Reformasi dengan mempersoalkan keabsahan surat penghapusan dosa yang berlaku atas kuasa Paus, dengan mengedepankan ajaran pembenaran semata-mata karena iman. Pada hari Reformasi, 31 Oktober 1999, fihak Gereja Roma Katolik dan Federasi Lutheran Sedunia menandatangani Pernyataan Bersama tentang Ajaran Pembenaran (JDDJ, Joint Declaration on the Doctrine of Justification). Deklarasi bersama ini — yang juga diterima Dewan Metodis Sedunia dan Dewan Konsultatif Anglican, serta akan resmi diterima oleh Persekutuan Sedunia Gereja-gereja Reform (WCRC) — merupakan salah satu kemajuan menuju perayaan Yubelium 500 tahun Reformasi pada tahun 2017.

Memang belum semua hal dapat disepakati bersama, tetapi ini salah satu kemajuan penting dalam gerakan ekumene. Sejak tahun 1965 sejumlah teolog Katolik terlibat dalam Komisi Iman dan Tata Gereja (Faith and Order) Dewan Gereja-gereja Sedunia, dan turut bersama wakil-wakil Gereja-gereja Protestan dan Gereja Ortodoks merumuskan dokumen Baptism, Eucharist and Ministry (BEM) pada tahun 1982. Dokumen ini berisi pokok-pokok kesefahaman antar-denominasi tanpa menghilangkan perbedaan-perbedaannya. Pemaknaan Perjamuan Kudus dan keabsahan jabatan gereja dalam kaitan suksesi rasuli dan sifat sakramental penahbisan jabatan merupakan pokok perbedaan, bahkan merupakan alasan Gereja Roma Katolik menolak mengakui gereja-gereja Protestan sebagai “gereja yang sesungguhnya”.

Pada tahun 2012 Komisi Iman dan Tata Gereja melanjutkan informasi perkembangan pokok-pokok kesefaham antar-gereja dengan menerbitkan The Church, Towards a Common Vision (WCC, 2012), yang juga dimaksudkan menjadi acuan dalam mengarahkan gereja-gereja pada keesaan antar-gereja yang nyata. Semua perkembangan dalam gerakan ekumene ini menunjuk pada kesefahaman bahwa perpecahan gereja tidak sesuai dengan hakekat keesaan gereja sebagai karunia dan kehendak Allah. Namun juga penghargaan kepada para reformator yang menemukan kembali kebenaran Injil dan menghidupkan kebenaran gereja.

Maka Yubileum 500 Tahun Reformasi perlu dirayakan dalam semangat rekonsiliasi dan pembaruan gereja. Ecclesia reformata, semper reformanda …(satuharapan.com)

Dr. Zakaria Ngelow, Penulis adalah pemerhati Sejarah, tinggal di Makassar

 

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *