MERENUNG PERJALANAN SETAHUN (Mazmur 77)

Pdt. Arliyanus Larosa

Hari ini kita berada di awal tahun 2018, setelah kita melewati tahun 2017. Ada banyak hal telah kita alami di tahun 2017 lalu. Ada hal-hal yang menyenangkan, seperti: memiliki rumah baru yang lebih menyenangkan, menikah dengan gadis atau pria idaman, usaha yang dijalani mengalami kemajuan pesat; berhasil dalam studi, dan lain-lain dan sebagainya; ada juga hal-hal yang menyedihkan dan menjengkelkan, seperti: ditinggalkan secara tiba-tiba oleh orang yang sangat kita cintai, mengalami penyakit yang berbahaya dan membuat tak berdaya, dikhianati oleh suami atau istri atau pacar, usaha yang dibangun bertahun-tahun hancur berantakan karena ditipu orang, dan lain-lain dan sebagainya.

Kalau kita mengalami hal-hal yang baik, yang menyenangkan, maka sikap kita di akhir tahun ini secara relatif lebih mudah ditebak. Sekarang ini kita tentu dapat bersyukur dan harus bersyukur. Tapi bagaimana kalau mengalami hal yang sebaliknya? Kalau ini yang terjadi, kita rasanya patut mengakui bahwa kita kadang-kadang menggerutu. Kita mungkin pernah bertanya: “Tuhan mengapa ini terjadi? Mengapa hal-hal yang tidak menyenangkan ini meliputi kehidupan saya?” Atau barangkali kita malah pernah berucap: “Tuhan, daripada mengalami hal-hal yang buruk seperti ini, lebih baik Engkau ambil saja nyawaku!” Dan ketika pertanyaan-pertanyaan dan teriakan-teriakan seperti ini tidak kunjung mendapatkan jawabannya maka kita mungkin mulai mencari-cari kesalahan pada diri kita sendiri. “Andaikan aku tidak begini atau begitu mungkin aku tidak mengalami perkara-perkara semacam ini.” Dan kalau akhirnya kita toh tidak menemukan kekeliruan dalam diri kita sendiri, maka kita mungkin mulai menyalahkan orang lain, bahkan mungkin menyalahkan Tuhan sendiri.

Hal yang terakhir inilah yang terlihat dalam diri Pemazmur  (Mazmur 77:2-11). Ia telah berseru kepada Tuhan atas seluruh beban berat yang menindihnya,  namun tak ada jawaban. Ia minta pertolongan dan ia merasa Tuhan tak memberi sedikit pun perhatian. Bahkan, ia menduga bahwa telah terjadi perubahan radikal dalam diri Tuhan: Tuhan kini tidak bermurah hati, lupa untuk mengasihi, dan lain-lain.

Namun, bila kita terus membaca Mazmur 77 ini, maka kita segera menemukan hal yang sangat menakjubkan. Segera setelah keresahan dan kejengkelan menguasainya, karena segala pengalaman yang pahit itu, sang Pemazmur tiba-tiba dapat mengatakan: “Ya Allah, jalan-Mu adalah kudus! Allah manakah yang begitu besar seperti Allah kami? (ayat 14). Apa yang membuat Pemazmur dapat berubah secara radikal? Bagaimana mungkin terjadi bahwa pengalaman yang sama, pada suatu ketika dimurkai dan pada waktu yang lain dapat disyukuri?

Jawabannya ternyata sangat sederhana: cara pandang! Sikap dan suasana batin terhadap pengalaman tertentu ternyata tidak pertama-tama bergantung pada realitas pengalaman itu sendiri, melainkan pada cara pandang kita terhadap realitas pengalaman itu. Pengalaman yang buruk bisa tidak menjengkelkan dan menimbulkan stress kalau mata kita arahkan pada pengalaman-pengalaman lain di mana kebaikan Allah, anugerah Allah, kemurahan Allah kita alami. Itulah yang dilakukan oleh Pemazmur sehingga pada akahirnya ia dapat mengungkapkan kekagumannya atas keluarbiasaan Allah. Dalam Mazmur 77:12,13 dicatat: “Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala. Aku hendak menyebut-nyebut segala pekerjaan-Mu, dan merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu.”

Ada tiga kata kerja yang menggambarkan apa yang dilakukan oleh Pemazmur. Yang pertama adalah mengingat-ingat. Pemazmur di sini mengingat-ingat perbuatan Tuhan dalam hidupnya. Mengingat-ingat ini penting, sebab pengalaman-pengalaman yang indah bersama Tuhan terkadang terlupakan begitu saja, segera setelah peristiwa itu berlalu. Pada saat kita mengalaminya, kita mungkin merasakan indahnya pengalaman bersama Tuhan, namun segera setelah peristiwa itu terjadi, kita dapat segera melupakannya, karena kita kini (mungkin) mengalami peristiwa yang buruk. Karena itu penting bagi kita sekarang ini, ketika kita segera meninggalkan tahun 2017 ini, untuk mengingat-ingat dan terus mengingat perbuatan Tuhan dalam hidup kita, di sepanjang tahun 2017. Dengan ini kita berharap dapat melihat betapa di balik pengalaman buruk yang kita alami, ada tangan Tuhan yang terus-menerus menopang. Atau seperti Pemazmur kita dapat berkata: “ya Allah, jalan-Mu adalah kudus! Allah manakah yang begitu besar seperti Allah kami?”

Namun, mengingat-ingat saja tidak cukup, karena daya ingat itu sangat dekat dengan kecenderungan melupakan. Karena itu kita perlu menyebut, mengungkapkan secara terus-menerus apa yang kita ingat itu. Dan itulah hal kedua yang dilakukan oleh pemazmur. Hal ketiga yang dilakukan Pemazmur adalah merenungkan perbuatan-perbuatan ajaib yang Tuhan lakukan. Merenungkan di sini berarti membuat segala yang kita ingat dan kita sebut sebagai perbuatan Tuhan yang ajaib itu menyatu dengan seluruh hidup kita. Sehingga  karya ajaib Tuhan yang pernah dialami itu mengilhami dan menyemangati kita dalam perjalanan ke depan.

Dengan melakukan ketiga hal ini, yaitu mengingat, menyebut dan merenungkan perbuatan-perbuatan Allah yang ajaib dalam hidup kita, kita dapat memahami pengalaman-pengalam yang tidak menyenangkan itu sebagai bagian yang wajar, yang dapat dialami siapa pun. Dan dalam semuanya itu Tuhan toh tidak meninggalkan kita. Sehingga kita didorong untuk menyerahkan dan memercayakan diri sepenuhnya kepada Tuhan, dalam pengalaman atau keadaan yang paling buruk sekalipun.

Dengan semua hal di atas, pekenankan saya mengucapkan: Selamat tahun baru 2018. Tuhan memberkati kita semua.

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *