Orang Pandai Perlu Kearifan

Orang Pandai Perlu Kearifan

Hampir di setiap zaman muncul orang-orang yang sangat piawai mengurai ide-ide, mengemas aneka gagasan sedemikian hebatnya sehingga tampak selalu segar dan memukau. Karena kehebatan ini mereka memiliki banyak pengikut yang sedemikian rupa takjub sehingga kehilangan daya kritis. Yang dikatakan sang idola selalu ditelan utuh, didukung penuh, dipuja selangit. Tanpa sadar sang idola terpenjara oleh kehebatannya sendiri, menjadi jumawa, menempatkan diri sebagai yang paling pintar, sedangkan semua yang berbeda pendapat atau yang tak sejalan adalah orang-orang bodoh yang tak pernah berpikir dan karena itu pantas dipermalukan. Ia melempar bom di mana-mana, menebar keresahan, permusuhan, bahkan perpecahan.

Sang pandai yang memegahkan diri ini dapat dimasukan dalam kategori orang yang ditunjuk Paulus dalam tulisannya berikut ini: “ia adalah seorang yang berlagak tahu padahal tidak tahu apa-apa. Penyakitnya ialah mencari-cari soal dan bersilat kata, yang menyebabkan dengki, cidera, fitnah, curiga, percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan yang kehilangan kebenaran…”(1 Tim. 6:4,5).

Orang pandai memang memerlukan kearifan agar menjadi berkat dan bukan kutuk. Sedangkan kepiawaian mengurai ide yang menyebabkan resah, konflik, dan permusuhan, sesungguhnya adalah kebodohan. Jangan terperdaya.

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *