Paska dan Rok Mini

Ada dua peristiwa besar di Bulan April. Pertama, umat Kristiani memperingati dan merayakan Paska atau kebangkitan Kristus. Kedua, bangsa kita memperingati dan merayakan Hari Kartini sebagai ingatan kita bagi perjuangan emansipasi kaum perempuan. Tulisan ini adalah buah refleksi dari dua peristiwa tersebut, sekaligus catatan kritis tentang tubuh perempuan dan karya Kristus yang membebaskan manusia.

Setahun yang lalu muncul berita-berita dari media yang melaporkan tentang Dewan Kehormatan DPR yang membuat hukum tentang pelarangan anggota perempuan dewan dan staf perempuan anggota dewan untuk menggunakan rok mini. Alasannya rok mini menjadi penyebab kasus pemerkosaan dan kasus kekerasan di kalangan perempuan. Bagi saya, alasan ini sungguh mengganggu. Alasan tersebut tidak hanya karena berita tentang aturan. Beberapa bulan sebelumnya dua pejabat daerah menanggapi kasus-kasus pemerkosaan terhadap beberapa perempuan di angkutan umum. Dua pejabat tersebut mengatakan di depan umum bahwa perempuan mengenakan rok mini menjadi penyebab perkosaan. Pernyataan ini mengganggu saya karena saya merasa hak asasi saya dan perempuan lain sebagai perempuan telah tertindas.

Pertama, pernyataan tersebut menindas kebebasan perempuan terhadap tubuhnya sendiri. Perempuan tidak bisa memakai pakaian apa yang mereka suka hanya karena pria tergoda gairah seksualnya melihat wanita yang memakai rok mini. Kedua, pernyataan ini menjadikan korban perkosaan “telah jatuh terimpa tangga.” Seolah pelaku pemerkosaan dimaklumi perbuatannya sementara korban disalahkan karena pakaiannya yang menggoda. Mariana Amiruddin, dalam Jurnal Perempuan, menyatakan bahwa laporan yang menyalahkan perempuan yang berpakaian seksi sebagai penyebab pemerkosaan adalah salah satu bentuk kekerasan terhadap perempuan.

Dalam masyarakat patriakhat, termasuk Indonesia, sering terjadi penindasan perempuan. Penindasan perempuan secara fisik dan mental bisa dilakukan oleh siapa saja bahkan oleh sistem masyarakat. Ketika penindasan terhadap perempuan terjadi berarti bahwa perempuan tidak menjadi subjek sebaliknya perempuan menjadi obyek untuk orang lain. Oleh karena itu siapa pun yang menganggap perempuan sebagai obyek, baik disadari atau tidak, dapat mendominasi dan memanipulasi perempuan. Saya mengutip Zarden Aris yang menulis tentang pikiran Simone de Beauvoir dalam salah satu media:

“Perempuan selalu di bawah pria, rendah, bawahan dan terasing. Beauvoir menyebut situasi perempuan itu sendiri sebagai “yang lain.” Gagasan perempuan sebagai “yang lain” timbul karena perempuan tidak pernah mendapatkan kedudukan yang sama dengan pria. Perempuan didefinisikan sebagai “Utero” atau rahim. Di mata budaya patriakat perempuan hanya fungsi sebagai rahim yang melahirkan, tidak lebih dari itu. Definisi ini ditemukan Beauvoir ketika ia bertanya “Siapakah perempuan itu?” Untuk Beauvoir ketika seorang perempuan hanya dipahami dan diartikan sebagai rahim, wanita itu ada objek yang berbeda. “

Paska selalu mengandung berita pembebasan manusia dari penindasan dosa. Allah sendiri melakukan pembebasan untuk manusia melalui kematian dan kebangkitan Kristus. Kebangkitan Kristus juga merupakan kabar baik bagi pembebasan perempuan tertindas. Kebangkitan Kristus pertama kali terlihat oleh perempuan seperti yang dilaporkan oleh keempat Injil. Kita bisa melihat bahwa perempuan memiliki posisi penting dalam kisah Paskah.

Injil Markus menulis Paskah dan cerita wanita dengan sangat menarik. Marie Sabin menafsirkan Markus 16: 1-8 dengan menggunakan bahasa simbol. Dalam ayat 5 tertulis bahwa ketiga perempuan itu “… melihat seorang muda yang memakai jubah putih duduk di sebelah kanan.” Sabin mengatakan bahwa “mengenakan jubah putih dan duduk di sisi kanan” merupakan ciri dari penulis Markus untuk menunjukkan transformasi yang dilakukan Kristus. Cerita-cerita tentang Yesus mengusir roh jahat dan transfigurasi Yesus selalu menggunakan simbol yang sama untuk menunjukkan transformasi.

Sabin menambahkan catatan tentang transformasi dengan mengeksplorasi perasaan ketiga perempuan setelah mendengar berita Paska. Dalam ayat 8 disebutkan, “Lalu mereka keluar dan lari meninggalkan kubur itu, sebab gentar dan dahsyat menimpa mereka. Mereka tidak mengatakan apa-apa kepada siapapun juga karena takut.” Sabin menafsirkan perasaan takut, gentar dan dasyat bukanlah perasaan takut biasa atau takut seperti melihat hantu atau takut disakiti. Sebaliknya merasa perasaan itu timbul sebagai akibat dari rasa kagum, takjub melihat transformasi yang Yesus lakukan bagi mereka. Dengan menarik Sadin mengganti kata-kata takut itu dengan rasa takut yang mengandung nilai ilahi atau transenden. Dia menggunakan kata-kata “numerous fear,” “ecstasy” dan “awe” untuk menggambarkan ketiga perasaan tersebut.

Perasaan-perasaan itu, menurut Sabin, menunjukkan bahwa para perempuan menyambut transformasi yang terjadi dalam hidup mereka melalui kebangkitan Kristus. Perasaan-perasaan tersebut adalah tanda hidup baru mereka sebagai murid Kristus pasca kebangkitan. Oleh karena itu penulis Markus melanjutkan kisahnya tentang para perempuan yang memberitakan kebangkitan Kristus kepada murid-murid yang lain dan Petrus.

Hari ini kembali kita merayakan Paskah. Paskah mengingatkan kita akan transformasi yang Yesus lakukan kepada seluruh makhluk. Yesus, menurut Markus, adalah Yesus yang menempatkan para perempuan sebagai subyek, bukan lagi obyek bagi sesamanya. Hal ini menunjukkan Yesus membawa transformasi bagi kaum perempuan maupun kaum lelaki.

Perempuan harus membebaskan dirinya dari perasaan sebagai objek. Beauvoir, seperti yang dikutip Zarden, melihat bahwa “ketika perempuan masih dalam keadaan tertindas maka ia akan tetap dan selalu menjadi objek. Menjadi objek dengan sendirinya menjadi budak dari laki-laki, teralienasi dan tidak akan mampu mentransendensi diri. Satu-satunya cara yang harus dilakukan perempuan adalah dengan membebaskan diri dari penindasan.” Beauvoir mengatakan bahwa perempuan menjadi subjek artinya dia harus menjadi pribadi yang sadar akan eksistensinya sebagai perempuan. Perempuan mengalami transformasi ketika dia menjadi pribadi yang bebas dan menghargai tubuhnya sendiri. Kesadaran inilah yang harus dibangkitkan dalam diri para perempuan. Yesus membangkitkan “kesadaran” tersebut melalui peristiwa Paska.

Yesus yang bangkit, menurut Markus, adalah Yesus yang “male feminist” – laki-laki yang berpihak dan menghargai para perempuan. Paska adalah transformasi bagi kaum pria untuk menjadi “male feminist,” panggilan untuk berpihak pada kaum perempuan yang tertindas, panggilan untuk menghargai kaum perempuan sebagai subjek, panggilan untuk melakukan perubahan untuk menghormati hak-hak perempuan. Dengan demikian tidak ada lagi laki-laki yang mengatakan bahwa rok mini adalah penyebab tindak perkosaan terhadap perempuan. Tidak ada lagi laki-laki yang melakukan kekerasan terhadap perempuan. Yang ada adalah para lelaki menaruh empati besar kepada para perempuan korban pemerkosaan.

Semoga Paska tahun ini mengajak kita untuk menyambut transformasi hidup melalui pembebasan bagi kaum perempuan yang tertindas. Paska memanggil kita untuk menyambut transformasi yang telah Yesus lakukan melalui kebangkitan-Nya. Selamat Paskah. Selamat Hari Kartini. Selamat Berjuang demi hak asasi manusia. Selamat menjadi agen perubahan hidup.

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *