Pdt. Najla Kassab dari Libanon: Presiden Baru WCRC

Pdt. Najla Kassab berbicara di mimbar Mathin Luther

SINODEGKI.ORG, LEIPZIG – “Saya berada disini, sebagai seorang wanita dari Asia Timur, di mimbarnya Luther.” Itu adalah kalimat awal khotbah Pdt. Najla Kassab di ibadah Dewan Umum di Wittenberg, 5 Juli lalu. Kassab terpilih menjadi presiden WCRC wanita pertama.

Kassab menyelesaikan sarjana dalam Pendidikan Kristen di Near East School of Theology dan Master of Divinity di Princeton Theological Seminary. Karirnya dimulai dari Pendidikan Kristen dalam lingkup sinode, melalui seminar dan pelatihan, ia telah banyak menguatkan kaum perempuan dalam pelayanan selama 24 tahun. Sinode Gereja Injili di Siria dan Libanon memberikan ijin berkhotbah kepada Kassab sejak 1993 dan pada Maret tahun ini ia ditahbiskan menjadi pendeta. Kassab telah melayani di kepengurusan WCRC sejak 2007. Dia menjadi Komite Eksekutif pada pertemuan di Libanon, 2015.

Pemilihan dirinya sebagai presiden WCRC merupakan perkara yang tidak mudah bagi Kassab, karena selama ini ia telah banyak mendorong para perempuan untuk masuk dalam pelayanan gerejawi. Ini merupakan bagian dari sebuah perjuangan yang telah lama ditempuhnya.”Kita tentu tidak dapat berpikir bahwa seekor burung dapat terbang hanya dengan satu sayap.”

Kassab berdiri di mimbar yang pernah digunakan Marthin Luther sambil berkata: “martin Luther adalah symbol untuk bersuara, menyuareakan pikiran dalam kebebasan, ini adalah hal yang penting. Itu mengapa saya mengatakan bahwa mungkin ini pertanyaan ke-96 Marthin Luther. Bukan mengapa ada wanita di mimbar? Tapi mengapa butuh waktu lama untuk mewujudkannya? Ini bukan sebuah perjuangan tentang persamaan, tetapi ini sebuah perjuangan keadilan,” ujar Kassab.

Kassab, yang berasal dari Libanon, meyakini bahwa kualifikasi penting dalam jabatannya sebagai presiden WCRC adalah kebangsaannya. “WCRC telah banyak berbicara mengenai keadilan, saya berasal dari Asia Timur, saya tahu betul apa itu ketidakadilan.”

Tugas sering membawa kassab masuk ke wilayah Siria. Ini merupakan sebuah panggilan yang sarat dengan bahaya. Namun Kassab yakin bahwa sebagai gereja dan anggota WCRC resiko tersebut memang sudah menjadi bagian.

“Pada saat saya harus hadir, saya sama dengan anda. Sebagai gereja kita harus secara fisik hadir dimana ada penderitaan. Kita harus hadir di tempat kita memperjuangkan keadilan,” ujar Kassab.

Pada akhir khotbahnya, Kassab mengatakan: “Perubahan bukanlah tetang dokumen, perubahan membutuhkan kehadiran secara fisik. Dan kalau kita tidak mau hadir, sebaiknya kita berhenti berbicara tentang keadilan.” (wcrc.ch/spw)

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *