Penuhilah Bumi dan Taklukkanlah Itu

Setiap kali menyebutkan jumlah saudara kandung ayah maupun ibu saya, banyak orang terheran. Ayah bersaudara 16 orang sedangkan ibu, 10 orang. Masing-masing mereka memiliki satu ayah dan satu ibu. Keheranan tersebut mungkin karena jaman sekarang banyak pergeseran terjadi. Dulu mungkin banyak anak bukan lagi banyak rejeki. Anak dipandang menjadi pembawa kehormatan keluarga. Anak laki-laki turut dibanggakan karena ia membawa nama marga. Jadi wajarlah bila pada jaman kakek dan nenek kita kebanyakan keluarga memiliki jumlah anak yang banyak. Mereka belum memahami penuh tentang kesehatan ibu. Penyebaran penduduk pun masih cukup merata, tidak bertumpu banyak di Pulau Jawa khususnya Jakarta atau Bekasi, tempat saya bermukim.

Kini, memiliki satu anak saja dipandang cukup. Banyak hal berpengaruh pada kesehatan reproduksi laki-laki dan perempuan. Satu anak sama dengan ujian kesiapan orangtuanya untuk memenuhi kebutuhan pendidikan yang cukup serta dana kesehatan yang memadai. Satu anak bahkan perlu pendampingan yang bersahabat dan penuh kasih dari lingkungan sekitarnya terutama orangtuanya. Bagaimana pandangan Alkitab sendiri tentang hakekat hidup seorang manusia? Tidakkah ia berhak untuk beranak cucu sebanyak-banyaknya? Bukankah Allah berjanji untuk selalu memenuhi kebutuhannya?

Kala Allah Mencipta

Manakala berbicara tentang keinginan dan kebutuhan, kisah Penciptaan sering menjadi rujukan. Benar bahwa Allah-lah yang menciptakan dunia dan segala isinya. Allah mencukupkan setiap kebutuhan mereka termasuk manusia. Allah bukan berhala atau dewa asing yang perlu diberi sesajen untuk tertarik dan mendengar jeritan manusia. Allah YHWH adalah Allah yang berdaulat penuh dan memastikan bahwa setiap ciptaan memiliki rantai yang saling menguntungkan. Namun kuasa yang Allah berikan kepada manusia seringkali disalahtafsirkan. Kekristenan pun tidak luput dari kelalaian itu. Lynn White dalam tulisannya yang mula-mula dipublikasikan dalam majalah Science (1967) “The Historical Roots of Our Ecological Crisis” mencermati bahwa apa yang manusia lakukan terhadap ekologi bergantung pada bagaimana manusia berpikir tentang dirinya dalam relasi dengan lingkungannya. Kekristenan pernah menjadi agama yang begitu antroponsetris. Tubuh manusia yang dicipta dari debu dan tanah, bukan semata-mata bagian dari alam belaka, melainkan juga ia diciptakan seturut dengan gambar dan rupa Allah. Pada awal abad ke-2 Tertullianus dan Ireneus menekankan bahwa ketika Allah membentuk Adam, ia mencitrakan Kristus yang berinkarnasi, Adam Kedua. Inilah yang perlahan-lahan saat itu turut memperkuat dasar bagi kekristenan untuk mengeksploitasi alam demi tujuan-tujuan manusia.

Mari kita simak pula Kejadian 1:28.

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

Kata “taklukkanlah” (subdue) berasal dari kata Ibrani, kabash. Sesungguhnya ini berlaku manakala pihak yang ditaklukkan itu sudah berada dalam kondisi buruk atau jahat (hostile). Taklukkan apabila bumi  sudah menjadi ancaman. Ini menandai bahwa alam sepatutnya diupayakan sebagai lingkungan yang memberi daya dukung. Namun pemahaman ini justru dimanfaatkan oleh kita (manusia) untuk menyalahgunakan kebaikan dan kesuburan alam pula.

Lalu, kata “berkuasalah” (dominion atau rule) dari kata radah. Suatu kata kerajaan, pemerintahan yang bertahta dari seorang raja. Kata yang sama dipakai pula dalam Mazmur 72:8, “Kiranya ia memerintah dari laut ke laut, dari sungai Efrat sampai ke ujung bumi” serta dalam ayat 12-14. “Sebab ia akan melepaskan orang miskin yang berteriak minta tolong, orang yang tertindas, dan orang yang tidak punya penolong; ia akan sayang kepada orang lemah dan miskin, ia akan menyelamatkan nyawa orang miskin. Ia akan menebus nyawa mereka dari penindasan dan kekerasan, darah mereka mahal di matanya”. Jadi kata radahjelas menunjukkan pola pemerintahan yang adil dari sang raja. Sebagai orang Kristen, Raja yang sempurna hadir di dalam Kristus. Keselamatan yang diberlakukannya adalah meliputi dunia dan seluruh isinya. Teks ini jelas mengajak kita untuk memeriksa kembali pemahaman kita tentang siapa Allah Sang Pencipta.

a. Allah Empunya dunia dan segala isinya
b. Semua ciptaan mesti memuliakan dan menceritakan perbuatan Allah
c. Manusia dicipta serupa dengan citra-Nya namun tetap punya batasan dalam kuasa yang diberikan-Nya
d. Manusia adalah bagian dari bumi sebab ia dititipkan tanggungjawab untuk mengelolanya
e. Manusia dipanggil untuk menaklukkan bumi agar bumi tetap dalam keadaan baik dan menjadi daya dukung pada kegiatan manusia
f. Manusia tidak dibenarkan mengeksploitasi bumi apalagi demi keuntungan dan kenyamanan bagi dirinya sendiri
g. Lingkungan yang sehat, tanah yang makmur, masyarakat yang adil menjadi salah satu penanda kehadiran Allah dan kesungguhan sang manusia untuk taat kepada Sang Pencipta

Manusia: Makhluk, Penakluk yang Takluk

Selaku makhluk ciptaan Tuhan Khalik langit dan bumi, maka ada beberapa langkah yang kiranya dapat dilanjutkan sebagai cara meresponi panggilan mula-mula ini.

  1. Kajilah Alkitab khususnya teks-teks yang berbicara tentang bagaimana alam berelasi dengan Allah.
  2. Pelajari dan jemaatkanlah nyanyian atau himne gereja yang syairnya menolong kita untuk memuji Tuhan bersama alam semesta.
  3. Berikanlah edukasi kepada jemaat tentang tanggungjawab dalam kelahiran dan pendidikan anak, bahwa ini bukan semata-mata demi kecerdasan intelektualitas anak melainkan juga kematangan emosi, sikap terhadap alam (green parenting) dan spiritualitas selaku keluarga yang takut akan Tuhan.
  4. Bekerjasamalah dengan sesama lembaga gereja yang turut memperjuangkan tanggungjawah gereja terhadap bumi sebagai tanda bahwa gerakan ini bukan semata-mata urusan kemanusiaan melainkan juga moral sebagai orang beriman.
  5. Bekerjasamalah dengan lembaga/ komunitas lintas iman nir-laba yang mengajak partisipasi masyarakat untuk menjadi bagian solusi krisis lingkungan. Ini pun menjadi satu bukti nyata bahwa upaya memandang kerusakan lingkungan sebagai bagian tanggungjawab gereja menjadi panggilan bersama sebagai sesama manusia apapun latar belakang kita.
  6. Himpun dan jemaatkanlah hasil kerja di atas agar jemaat merayakan ini sebagai suatu bentuk pembebasan dan perjuangan demi keadilan ekologis pada semua usia, lintas gereja, lintas iman, lintas ciptaan.

Kiranya kita selalu mampu menaklukkan keinginan demi terpenuhinya kebutuhan kita dan semua ciptaan Tuhan.

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *