Perayaan Natal di Panti Asuhan El Ministry Palangka Raya

foto bersama tim Pos Jemaat dan Panti Asuhan

SINODEGKI.ORG – Minggu 17 Desember 2017,  kira-kira pukul 15.00, kami berkumpul di rumah salah satu pengurus pos jemaat untuk bersiap-siap menuju Panti Asuhan El Ministry Palangka Raya. Panitia Natal GKI Ngagel Pos Jemaat Palangka Raya telah menyiapkan segala sesuatu, mulai dari survey lokasi dan tepat sasaran pelayanan, barang-barang yang dibutuhkan, dan tak lupa konsumsi untuk dimakan bersama penghuni panti Asuhan. Sore itu meski agak gerimis, cuaca lumayan terang, sehingga semuanya bisa dipersiapkan dengan baik. Udara terasa dingin, karena beberapa hari terakhir kota Palangka Raya sering diguyur hujan deras di sore hari. Setiba di Panti Asuhan, anak-anak sudah menunggu kami, dan yang luar biasa anak-anak sekolah minggu GKI dengan mudah bergabung dengan anak-anak panti, mereka duduk membaur tanpa ada rasa takut dan risih, berkenalan satu dengan lainnya.

Acarapun terus berlangsung dalam suasana yang penuh sukacita dan rasa kekeluargaan, pemimpin acara Kakak Shirley dan Kakak Amelia, berhasil membuat semua pengikut acara tertawa dan bermain bersama, meski diluar udara terasa dingin, sore itu ruangan menjadi hangat dan bahkan panas, karena semua peserta dengan senang hati bergerak dan bermain bersama. Anak sekolah minggu mempersembahkan pujian, demikian juga anak panti asuhan, mereka mempersembahkan pujian “Selamat Natal Papa Mama”, bagi kami yang mendengar lagu ini dinyanyikan, mendadak mengundang rasa haru, karena sebagian dari mereka tak mengenal siapa papa mamanya, sebagian lagi dititipkan di panti karena orang tuanya tak mampu menghidupi, dan ada juga yang orang tuanya tinggal di perkebunan sawit, sebagai buruh. Dipenghujung ibadah mereka diberikan bingkisan, dan mereka didoakan secara khusus lalu kami semua makan bersama nasi kotak yang telah disiapkan oleh panitia natal.

Setelah semua selesai, anak-anak sekolah minggu diajak untuk melihat kamar tidur para penghuni panti, mereka harus menaiki tangga yang terbuat dari kayu untuk menembus loteng yang dijadikan kamar. Kamar itu diberi cahaya lampu yang redup, sirkulasi udaranya tidak terlalu bagus, dan terasa pengap. Kasur yang terlihat sudah kusam, diletakkan di lantai dengan beralaskan tikar, kamar laki-laki dan perempuan dipisah, pakaian mereka bergantungan, tas sekolah masing-masing digantung berjejeran.

Di kamar itu, di atas kasur yang lusuh, ada seorang anak laki-laki bernama Niko yang terbaring lemas karena menderita campak. Saya mendoakannya, memohon kesembuhan dari Tuhan, dan anak-anak sekolah minggu yang tadinya ramai dan menyebar di kamar dan di lorong lantai dua itu, tiba-tiba diam dan ikut mendoakan teman mereka yang sakit. Tak takut ketularan, tak takut untuk mendekat, semua seolah ingin supaya Tuhan segera menjawab permohonan mereka, agar Niko mendapat kesembuhan. Niko adalah anak yang ditinggal oleh orang tuanya karena bercerai. Ia dan Sisko adiknya sudah tak mengenal lagi siapa mama papanya karena sejak kecil mereka ditaruh di panti asuhan.

Kesempatan ini secara tidak langsung mengajarkan pada anak-anak sekolah minggu untuk bersyukur dengan apa yang mereka punya, mereka melihat sendiri banyak anak-anak yang susah, dan karena itu mereka tidak boleh mengeluh dan protes pada orang tua. Karena mereka yang serba terbatas saja tak mengeluh dengan hidup mereka. Selain itu mereka dididik untuk memaknai natal, tidak dalam kemegahan tetapi dalam kesederhanaan. Tak ada lagi natal yang dilakukan di gereja, semua telah dilakukan bersama dengan anak-anak panti asuhan. Benarlah, setelah acara berlangsung, seorang anak sekolah minggu berkata pada mamanya, “kalau aku besar dan menjadi orang sukses, aku akan bangun panti asuhan, untuk menolong mereka yang miskin.”

Ketika acara selesai saya sempat bertanya pada seorang anak penghuni panti, “kamu ingin kado natal apa?” jawaban mengejutkan saya dapatkan “tidak ada bu..semua sudah ada” Ia tak meminta apapun, ia merasa cukup dan sudah ada semuanya. Masih jauh dari sederhana tapi ia merasa semua sudah cukup. Hal ini tentu diluar kebiasaan anak-anak pada umumnya, termasuk anak panti. Anak-anak selalu menginginkan kado natal, dan bukankah kita orang dewasa juga terkadang masih terbesit ingin mendapatkan kado natal sepecial apapun bentuknya?

Pengalaman perjumpaan dengan mereka yang dalam ketiadaan dan kemiskinan secara materi, namun tak merasa kekurangan dan semua sudah cukup, membuktikan kekayaan hati, rasa syukur dan merasa cukup membuat mereka mampu menjalani hari yang berat dengan rasa sukacita, atau bahkan hari yang berat itu hanya perspektif orang-orang yang mengunjungi mereka, bagi mereka semua hari adalah hari sukacita karena mereka jalani dengan iman yang sederhana, Tuhan selalu ada dan bersama dengan mereka.

Jika anda melihat gambar tentang realita kehidupan yang serba terbatas itu.
Jika anda melihat wajah anak-anak panti asuhan yang tak nampak sedih dengan ketiadaan mereka. Jika anda diperhadapkan dengan seseorang yang dalam ketiadaan dan kemiskinan namun ia dapat berkata “tak minta kado natal, semua sudah ada” Masih adakah kado natal istimewa, barang atau apapun itu yang anda harapkan? Kenapa ga mencoba meminta kepada Tuhan kado natal “hati yang merasa cukup”

Selamat Natal 2017, kiranya sukacita dan damai sejahtera menyertai kita semua, dan rasa cukup memenuhi sanubari kita.

Pdt. Florida Rambu

(GKI Ngagel- Surabaya)

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *