Persembahan 1000 lilin dari Kota Surabaya

(Sebuah Refleksi Tentang Makna Kebersamaan)

SINODEGKI.ORG – Mendengar dan menonton aksi 1000 lilin di berbagai kota, menyisakan satu pertanyaan “ Surabaya kapan?”  Pertanyaan itu segera berakhir ketika berita di media sosial begitu gencar bahwa Surabaya akan melakukan Malam 1000 Lilin untuk mendukung NKRI pada hari Jumat tanggal 13 Mei 2017, pk.18.30 di Monumen Tugu Pahlawan.

Tak butuh waktu lama untuk berpikir, kami saling berkoordinasi satu dengan lainnya untuk turut mendukung acara tersebut, grup-grup wa menjadi sarana untuk meneruskan berita. Saya meneruskan berita ke grup penatua dan komisi, kami janjian untuk berkumpul bersama di gereja untuk berangkat bersama. Tak sulit untuk mengumpulkan jemaat, dan ternyata bukan hanya GKI Ngagel,  hal yang sama juga dilakukan oleh GKI lainnya di Surabaya, yang terbukti lewat perjumpaan kami di lokasi, rombongan GKI; Kutisari, Residen Sudirman, Merisi Indah, Sulung, Pregolan Bunder, Manyar, Darmo Satelit, Citraland, Jemursari, Pondok Tjandra Indah, ikut menyemarakkan malam 1000 lilin demi mendukung NKRI.

Ketika tiba di lokasi, orang berbaju dominan merah tumpah ruah di depan kantor gubernur Jawa Timur, yang bersebrangan dengan monumen Tugu Pahlawan. Aroma kebersamaan dan cinta negeri begitu semerbak, anggota jemaat dengan rela membawa lilin lebih, dan ketika berjumpa dengan mereka yang tak membawa lilin, dengan senang hati diberikan meski tak saling kenal, bukan hanya kami, banyak orang yang melakukan hal yang sama.  Pk.18.30  acara dimulai, lagu “Ibu Pertiwi” dikumandangkan sebagai lagu pembukaan, bak paduan suara rakyat,  semua bernyanyi, seolah sedang meratap dan bertanya mengapa saat ini kita mudah terpecah, begitu beratnya kenyataan Indonesia, sehingga Ibu Pertiwi pun ikut bersedih. Bersamaan dengan itu, lilin-lilin dinyalakan sebagai simbol perjuangan rakyat Indonesia untuk melawan kegelapan yaitu ketidak adilan, kejahatan, perpecahan, dan yang paling berbahaya adalah ketika kenyataan bahwa Indonesia itu terdiri dari suku, agama dan ras yang beragam, yang menjadi identitas Indonesia, dengan mudahnya dianggap sebagai musuh bersama oleh kelompok anti kebhinekaan. Malam itu, tak ada lagi pertanyaan dari mana, apa suku atau agamamu,  semua terikat dalam sebuah ikatan bersama yang bernama Indonesia. Kami Indonesia!!

Lagu Garuda Pancasila, Indonesia Raya dinyanyikan  dan doa-doapun dinaikkan, para tokoh agama; Islam,Kristen,Katholik, Hindu, Budha, Konghucu, semuanya secara bergantian menaikkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Yang menarik adalah, di malam 1000 lilin Surabaya, insiden justru berubah menjadi berkah.  Soundsystem yang tidak dipersiapkan dengan baik membuat tak semua orang dapat mendengar apa yang sedang disampaikan. Hanya sayu-sayu terdengar ada doa yang dipanjatkan. Mereka yang berada jauh dari podium bisa jadi tak mendengar dan tidak tahu bahwa doa sedang berlangsung, sehingga mereka mengisinya dengan menyanyikan beberapa lagu kebangsaan. Di titik inilah saya merasa, ini bukan hanya malam seribu lilin, ini ibadah akbar anak negeri.  Ada doa yang sayu-sayu terdengar, diiringi lagu kebangsaan yang terdengar, seolah sedang mengguncang sorga agar sang Pencipta tetap menjaga dan menolong negeri yang sedang dikacaukan oleh mereka kaum intoleran! Setelah doa selesai,  lagu-lagu kebangsaan terus dikumandangkan. Puisi dibacakan.  Tak ada orasi yang begitu menggelegar, yang ada hanyalah pengakuan iman anak negeri yang terucap lewat SUMPAH PEMUDA.

Ibadah akbar, jika saya boleh menyebutnya demikian, ditutup dengan kembali menyanyikan Indonesia Raya, semua berjalan terasa begitu singkat, meski sebenarnya, masih ada energi yang penuh untuk bisa bertahan dan berkumpul bersama, hawa panas kota Surabaya serasa ikut membakar semangat arek arek Suroboyo yang masih ingin bertahan dalam kebersamaan itu, tetapi panitia dengan sangat baik dan ramah menyampaikan kita harus segera mengakhiri kegiatan ini, karena telah 2 jam menutup jalan, dan menggangu pengguna jalan. Kita harus segera kembali.  Nasehat itu seperti sebuah pengutusan, kita berkumpul untuk berdoa dan bernyanyi bersama, mengikrarkan pengakuan iman itu penting, tetapi kerja nyata kita dalam kehidupan selanjutnya juga merupakan kelanjutan ibadah kita. Kita tidak boleh merugikan orang lain, itulah semangat kebersamaan, semangat kesatuan NKRI.

Acara bubar, namun masih banyak yang ingin berfoto, ada yang membawa spanduk bertuliskan mendukung NKRI, dengan senang hati mereka meminjamkan spanduk itu dipakai oleh kelompok lain yang ingin memakainya untuk foto bersama.  Semua sukacita, semua menjalani dalam rasa damai, seolah ingin menunjukkan inilah Indonesia yang asli,beragam namun tetap bisa hidup bersama, berbagi, saling menolong, saling menghargai. Semua saling menjaga kebersihan, memungut sampah, dan bahkan saling menyapa satu dengan lainnya, tertawa dan gembira bersama.

Pertanyaannya, apa artinya bagi kita sebagai gereja masa kini? Kita tidak bisa lagi menjadi mayoritas diam, lalu menyerahkan semua masalah negeri ini hanya kepada pemerintah atau pihak berwajib, kita rakyat Indonesia, harus bersama-sama menjaga Indonesia, apalagi kita adalah Gereja Kristen Indonesia, kepedihan Indonesia adalah kepedihan kita, kesusahan Indonesia adalah kesusahan kita, kemenangan, kejayaan, kesejahteraan Indonesia adalah milik kita juga, karena kita adalah Indonesia. Sudah waktunya kita bukan hanya menjadi gereja yang memberi, yang selalu cepat hadir bagi mereka yang membutuhkan, yang terkena bencana, tetapi kita harus bisa menjadi gereja yang berdialog dengan pihak lain, yang mendengar,yang menghargai dan belajar dari mereka yang ada disekitar kita, itulah cara kita untuk menjaga keutuhan negeri ini, menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Akhirnya, di tengah bangsa yang sedang terancam bahaya politik indentitas, Gereja Kristen Indonesia harus menularkan semangat perdamaian, memelihara kebersamaan, memperjuangkan keadilan, menghadirkan pengharapan, meneruskan cita-cita para pendiri bangsa, menjaga rancangan Tuhan atas negeri ini, negeri yang beragam suku dan budaya. Karena kita semua punya tugas negara : menjaga Bhineka Tunggal Ika.

 

Pdt. Florida Rambu

(GKI Ngagel Surabaya)

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *