Pesan Pastoral BPMS GKI dalam rangka Penyelenggaran PEMILU LEGISLATIF 2014

“Dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur”
(Lukas 6 : 44)

Atas nama Majelis Sinode Gereja Kristen Indonesia, kami, Badan Pekerja Majelis Sinode GEREJA KRISTEN INDONESIA (BPMS GKI), menyampaikan salam sejahtera kepada seluruh anggota dan simpatisan GKI dari Batam sampai Bali. Terpujilah Allah, Bapa Tuhan Kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala hikmat dan kekuatan.

Kita patut mengucap syukur kepada Tuhan karena pada tahun 2014 ini bangsa kita akan menyelenggarakan dua (2) Pemilihan Umum. Pertama, Pemilu Legislatif pada tanggal 9 April 2014. Kedua, Pemilu Presiden pada 9 Juli 2014. Pada Pemilu Legislatif, kita akan memilih anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR),
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) tingkat Propinsi, dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) tingkat Kabupaten/Kota. Adanya Pemilu menunjukkan bahwa sebagian besar komponen bangsa kita sangat menjunjung tinggi demokrasi sebagai sistem politik yang terbaik bagi bangsa yang plural ini. Sehubungan dengan adanya Pemilu sebagai pesta demokrasi ini, kami akan menyampaikan beberapa catatan penting sebagai berikut.

Catatan Pertama, Kita bersyukur bahwa bangsa kita telah memilih demokrasi sebagai sistem politik yang mengatur kehidupan bangsa dan negara kita. Dengan memilih Demokrasi berarti kita menolak sistem politik otoritarian, baik sekuler maupun atas dasar agama apa pun. Demokrasi memungkinkan adanya mekanisme kontrol terhadap para pejabat publik di segala tingkatan, dan juga kontrol terhadap rakyat yang berpotensi menciptakan situasi anarkis. Demokrasi adalah sistem politik yang mengandalkan penegakan hukum, menjunjung tinggi kesetaraan setiap warga negara, dan memberikan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Pemilu merupakan momen yang sangat penting demi penguatan demokrasi kita dan demi tegaknya Pancasila dan UUD 1945 sebagai konstitusi bangsa. Pemilu merupakan momen penting demi masa depan bangsa kita. Oleh karena itu, sebagai warga negara Indonesia, segenap warga dan simpatisan GKI terpanggil untuk berpartisipasi secara cerdas dan penuh hikmat dalam proses politik, termasuk melalui Pemilu ini, demi kebaikan, keadilan, dan kesejahteraan bangsa.

Keengganan berpartisipasi dalam proses transformasi politik bangsa dan juga pada Pemilu ini akan menutup peluang kita untuk menjadi garam dan terang bagi bangsa ini. Politik itu sesuatu yang serius. Oleh karena itu, Alkitab memberitakan betapa Allah berkiprah dalam politik. Allah mengutus Musa ke Mesir untuk membebaskan bangsa Israel dari politik penindasan Raja Firaun. Allah melakukan pemakzulan terhadap Raja Saul dan menggantinya dengan Daud. Allah juga menyuruh nabi Natan menegur keras Raja Daud ketika sang raja dengan sewenang-wenang merebut istri prajuritnya sendiri. Masih banyak contoh lainnya dalam Alkitab yang menunjukkan bahwa Allah pun berpolitik. Tetapi, politik Allah adalah politik kemanusiaan: politik pembelaan terhadap siapa pun yang tertindas dan yang mengalami ketidakadilan. Politik Allah bukanlah politik demi kekuasaan dan demi keuntungan materi. Oleh karena itu, kita harus berpartisipasi demi persitiwa politik yang menegakkan kemanusiaan. Apatisme pada politik hanya akan memberi ruang bagi aktor-aktor politik kotor yang doyan menyalahgunakan kekuasaannya untuk menindas dan memberlakukan ketidakadilan pada rakyat, demi memuaskan syahwat kekuasaannya.

Catatan Kedua, gunakanlah hak pilih Anda dan jangan tidak menggunakannya, atau jangan menjadi ‘golput’! Sebab, ketika Anda tidak menggunakan hak pilih, maka suara Anda bisa dimanipulasi dan disalahgunakan untuk memenangkan calon lainnya. Ketika Anda memilih, pilihlah secara bertanggung jawab dengan menggunakan beberapa kriteria yang kami harapkan bisa menolong Anda dalam menjatuhkan pilihan.

Kriteria Pertama, pilihlah calon legislatif atau partai yang jujur! Kejujuran itu penting karena rekam jejak anggota legislatif dalam kasus korupsi periode ini sangat memrihatinkan. Lembaga Tranparansi Indonesia menempatkan Parlemen sebagai salah satu institusi negara yang terkorup. Oleh karena itu, pilihlah calon legislatif yang bukan koruptor atau terindikasi korupsi.

Kriteria Kedua, jadilah pemilih cerdas dengan memilih calon legislatif yang cerdas! Kecerdasan itu penting karena persoalan bangsa dan negara ini cukup pelik. Tanpa kecerdasan yang memadai, seorang anggota legislatif hanya menerima fasilitas uang rakyat secara gratis, tanpa kontribusi apa pun. Sayangnya, partai politik sering menunjuk calon legislatif untuk mewakili partainya hanya karena dia populer, tetapi tanpa memperhitungkan kemampuan dan kecerdasannya. Kepentingan mendapatkan suara untuk partai lebih diutamakan daripada kepentingan rakyat. Oleh karena itu kita harus memilih secara cerdas dan kritis.

Kriteria Ketiga, pilihlah calon legislatif atau partai yang mau bekerja keras demi rakyat. Pilihan ini penting mengingat pada periode ini banyak anggota legislatif yang sering absen dari rapat-rapat penting atau, bila hadir, hanya tidur di ruang sidang. Kita tidak membutuhkan anggota legislatif yang doyan tidur sambil menikmati fasilitas uang rakyat. Celakanya hampir 90% politisi ini mencalonkan diri untuk kembali menjadi anggota legislatif periode mendatang. Kita jangan mengulang kesalahan dengan memilih kembali mereka yang memiliki kecenderungan santai, tidak mau bekerja keras untuk kesejahteraan rakyat.

Kriteria Keempat, pilihlah mereka yang bersungguh-sungguh ingin mengabdi pada rakyat, dan bukan yang memanfaatkan posisi untuk menginjak dan memanipulasi kepentingan rakyat. Kecenderungan mendapatkan posisi politik lalu melupakan rakyat tampak dari hasil survai yang dilakukan oleh Formappi yang menyatakan bahwa 93% rakyat Indonesia tidak merasa bahwa anggota legislatif periode sekarang mewakili kepentingan dan kebutuhan mereka. Survai ini menunjukkan betapa kecewanya rakyat terhadap para wakilnya. Hasil survai ini mengingatkan kita pada kata-kata Lord Acton yang menyindir pedas para politisi. Ia mengatakan bahwa politisi hanya membutuhkan rakyat pada saat Pemilu. Setelah Pemilu, rakyat kembali terlupakan.

Kriteria Kelima, pilihlah calon legislatif atau partai yang nasionalis, berwawasan kebangsaan dan memiliki komitmen teguh untuk melaksanakan konstitusi bangsa! Kita mesti ingat pada kecenderungan calon legislatif, politisi maupun partai yang mengangkat isu-isu sektarian dan primordial etnik dan agama demi mendapatkan suara dari konstituen. Mereka tidak peduli bahwa isu seperti itu akan menciptakan konflik dan ketegangan di dalam masyarakat yang plural ini dan berpotensi menghancurkan bangsa. Oleh karena itu, tugas kita adalah memilih calon legislatif dan partai yang mampu menjaga ke-Bhineka Tunggal Ika-an bangsa kita.

Firman Tuhan mengatakan: “ … Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur” (Luk. 6:44). Dengan menggunakan lima kriteria di atas , kami harap Anda akan lebih mudah memilih calon legislatif atau partai mana pun. Tetapi, memilih calon legislatif hanya karena dia sesama warga segereja, seagama atau karena merupakan anggota keluarga padahal mereka tidak memenuhi kelima kriteria di atas, merupakan pilihan yang tidak bertanggung jawab. Itulah sebabnya, pilihan kita adalah pilihan demi kebaikan bangsa dan agar bangsa ini dapat memuliakan Allah.

Catatan Ketiga, setiap anggota dan simpatisan GKI sebaiknya mendukung dan mendoakan secara moral dan spiritual setiap warga GKI yang pada tahun ini mencalonkan diri sebagai calon anggota Dewan Perwakilan Daerah atau sebagai calon legislatif pada tingkat mana pun. Para calon ini harus dimotivasi agar mereka memiliki wawasan yang luas dan ketaatan yang sungguh terhadap nilai-nilai kristiani dan konstitusi bangsa, serta tidak menggunakan politik uang atau tidak menebarkan janji-janji palsu. Kompetisi dengan menggunakan cara-cara yang vulgar dan yang tidak kristiani harus mereka hindari. Mereka harus ditolong agar bila terpilih mereka akan menjadi negarawan yang sungguh-sungguh mengabdi dan memperjuangkan kepentingan rakyat. Sebaliknya, bila tidak terpilih mereka bisa menerimanya dengan hati yang tenang dan damai.

Catatan Terakhir, kami mengingatkan agar kompleks gereja dan/atau tempat ibadah tidak digunakan oleh siapa pun untuk menjadi arena kampanye. Penempelan poster, spanduk atau khotbah yang menggiring pada salah satu calon atau salah satu partai berpotensi besar memecah belah persekutuan jemaat. Oleh karena itu, peran Majelis Jemaat untuk menertibkan ini sangat dibutuhkan. Sebagai Majelis Jemaat, termasuk sebagai gembala jemaat, kita berada di atas kepentingan partai dan calon legislatif mana pun. Tetapi sebagai warga negara, Anda memiliki hak yang harus dilaksanakan secara bertanggung jawab, tanpa harus melibatkan institusi gereja.

Demikianlah pesan pastoral ini. Seraya mengucap syukur kepada Allah Bapa, Tuhan kita Yesus Kristus, kami mendoakan agar Pemilu Legislatif ini berjalan dengan damai, tertib, jujur dan adil. Kami juga berdoa agar penyelenggara Pemilu dapat melaksanakan tugasnya dengan kejujuran dan integritas. Kami berdoa agar partisipasi Anda semua dalam Pemilu dan dalam proses politik di Indonesia ini akan menghasilkan transformasi positif bagi kehidupan yang lebih baik bagi semua.

Jakarta 18 Maret 2014
Badan Pekerja Majelis Sinode
GEREJA KRISTEN INDONESIA,

Pdt. Royandi Tanudjaya
Ketua Umum

Pdt. Arliyanus Larosa
Sekretaris Umum

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *