Pesan Pastoral BPMS GKI Untuk Natal 2016

“Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Lukas 2:11)

Yang kami kasihi seluruh anggota jemaat dan simpatisan GKI,
Berbagai peristiwa mengerikan pada beberapa tahun belakangan ini menoreh rasa pesimis terhadap masa depan bangsa dan masa depan dunia. Konflik intra dan antar agama di berbagai belahan dunia karena radikalisme agama dan nafsu pada kekuasaan semakin sengit. Manusia yang terluka, mati dan terpaksa melarikan diri ke berbagai negara mencapai puluhan jutaan orang. Orang membangun ‘tembok pembatas’ dalam pikiran. Dunia dipilah, dikontraskan! Polaristik! Hasilnya: Sudan tercabik menjadi dua. Nigeria hancur berantakan. Irak dan Suriah menjadi arena pembantaian manusia.Orang pun semakin pesimis ketika Amerika Serikat, negara ‘embahnya’ demokrasi, memilih Donald Trump, sebagai Presiden selanjutnya. Padahal Trump adalah tokoh yang mengampanyekan anti Islam, anti orang asing, dan hanya berpikir eksklusif demi Amerika Serikat. Dunia macam apa yang kita miliki nanti?

Indonesia pun terkena imbasnya! Radikalisme agama makin menguat. Aksi terorisme makin brutal. Rasa kebangsaan yang mengikat dan mempersatukan rakyat Indonesia mengendur. Selfishness dan egoisme etnik dan agama membuncah. Orang semakin beragama, tetapi semakin eksklusif. Semakin spiritual, tetapi semakin membenci pada yang berbeda. Orang tidak tahu mau bilang apa, atau mau berbuat apa. Semua kuatir, tetapi semua penuh prasangka. Tidak tersisa rasa percaya. Tak ada sinergi! Kita sadar bahwa bangsa dan dunia ini mengidap epidemi sangat berbahaya yaitu defisit cinta! Keluarga pecah, gereja retak, agama terbelah, bangsa tercabik, dunia mengalami kehancuran karena kita semua mengalami defisit cinta. Dalam kondisi seperti itulah kita merayakan Natal, hari kelahiran Yesus Kristus, Tuhan kita. Dan berefleksi dari kondisi tersebut, perkenankan kami menyampaikan beberapa hal berikut ini untuk kita renungkan bersama.

  1. Natal adalah ketika Yesus, Sang Juru Selamat, lahir di dunia, di tengah-tengah persoalan dan tantangan yang berat seperti di atas. Kelahiran dan kehadiran Yesus menunjukkan bahwa Allah sangat mengasihi dunia ini. Kasih tanpa kehadiran dan keterlibatan adalah kasih palsu yang mengumbar janji tanpa bukti. Yesus menunjukkan kasih-Nya dengan lahir, hadir dan berkarya di tengah umat manusia dan dunia. Allah dalam kasih-Nya yang berlimpah hadir dalam dunia yang sedang mengalami defisit cinta. Inilah pengharapan! Pengharapan yang menguatkan kita untuk tidak boleh terjatuh pada keputusasaan. Sebab Sang Juru Selamat telah lahir dan hadir. Ia mengasihi kita. Ia melibatkan diri dalam seluruh persoalan kita. Tidak hanya tidak putus asa, peristiwa natal malah mendorong kita, bersama dengan pemerintah dan seluruh masyarakat Indonesia, untuk serius dengan dunia ini. Kita tidak boleh mengabaikan dunia dan bangsa dengan segala persoalan dan tantangannya.
  2. Dalam peristiwa Natal, Allah dalam Yesus sudah hadir. Oleh karena itu, kita jangan menyembah ilah-ilah lain. Jabatan, pangkat, kekayaan, agama, gereja, etnik, bisa menjadi ilah baru yang memperbudak kita. Ilah-ilah baru itu bisa mengikis kemanusiaan kita. Bisa mendorong kita mengeksploitasi dan menindas sesama. Sebagai GKI, kita harus mewartakan bahwa kita bersandar hanya pada Allah dalam Yesus yang lahir di tengah kita. Di dalam Yesus, kita ingin menjadi berkat dan pelayan bagi kemanusiaan. Di dalam Yesus kita tidak akan pernah terpuruk dalam keputusasaan. Yesus andalan kita. Hanya Yesus Sumber Pengharapan kita!
  3. Dalam peristiwa Natal Allah menunjukkan bahwa Dia tidak mengisolasi diri-Nya, ketika manusia menghadapi aneka pergumulan. Allah justru menghampiri dunia ini. Dia hadir untuk melawan segala bentuk penindasan dan ketidakadilan yang menghancurkan manusia dan kemanusiaannya. Allah hadir untuk menyatakan cinta kasih-Nya bagi siapa pun, orang kaya dan orang miskin, penguasa dan rakyat jelata, bagi segala bangsa, etnik dan agama.
  4. Peristiwa Natal mendorong kita untuk tidak memusuhi dunia, tidak memusuhi siapa pun, dan pada saat yang sama mendorong kita untuk menjadi “juruselamat” bagi siapapun. Sebab kelahiran Yesus menunjukkan bahwa Allah tidak melihat siapa pun sebagai musuh yang harus dibinasakan. Yesus hadir dengan cinta kepada dan dalam solidaritas dengan seluruh umat manusia dalam kepelbagaiannya, dalam pergumulan beratnya. Yesus melihat kita dan dunia ini sebagai sahabat, bahkan saudara yang perlu diselamatkan. Karena itu kita harus menjadi pelopor dalam menebarkan benih keadilan, perdamaian, cinta dan persaudaraan untuk memperkuat modal sosial yangmemampukan kita bersinergi demi kemajuan bangsa. Kita harus membangun solidaritas dengansesama. Kita harus menanamkan spirit cinta dan spirit melayani agar kita saling menjadi ‘juruselamat’ bagi siapa pun. Dan ini hanya bisa dilakukan dengan optimal dalam sinergi dengan seluruh elemen bangsa lainnya.

Akhirnya, kami mengucapkan: Selamat Hari Natal 2016 dan Tahun Baru 2017. Kita berdoa agar spirit Natal menguasai kita sehingga GKI menjadi bagian yang signifikan dalam upaya menghadirkan kebaikan, keadilan, dan perdamaian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Badan Pekerja Majelis Sinode GEREJA KRISTEN INDONESIA,

 

Pdt. Budi Cahyono Sugeng                                        Pdt. Arliyanus Larosa

Ketua Umum                                                                Sekretaris Umum

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *