Pilihlah Pada hari ini, kepada siapa kamu akan beribadah!

Pdt. Ronny Nathanael,

Hidup adalah urusan menetapkan pilihan-pilihan. Ada hal-hal yang dapat kita pilih berdasarkan selera kita. Kita memilih ice cream rasa coklat karena memang kita sukanya rasa coklat. Orang lain mungkin sukanya rasa yang berbeda, strawberi, vanila, durian, dsb. Semua itu baik-baik saja. Untuk urusan ice cream tidak masalah bahwa pilihan kita berbeda dengan pilihan orang lain. Tidak ada urusan benar atau salah. Jadi, ada hal-hal yang dapat kita pilih berdasarkan selera kita dan itu OK-OK saja.

Ada lagi hal yang bisa kita pilih berdasarkan opini, pendapat umum, trend. Misalnya model rambut, model pakaian. Dulu ketika Putri Diana menikah dengan Pangeran Charles, ada begitu banyak perempuan yang tergila-gila dengan model rambut Lady Di, lalu memotong atau menata rambut ala Lady Di. Pilihan itu ya oke juga. Artinya sekalipun mungkin sebenarnya kurang cocok dengan postur tubuh, dengan raut wajah tapi kalau ada yang memaksa menata rambut ala Lady Di ya boleh-boleh saja. Paling ya akan ditertawakan orang. Tapi oke, karena toh tidak ada urusan dengan dosa kalau orang pilih model rambut seperti itu.

Tapi ada hal-hal dalam hidup ini yang tidak boleh dipilih berdasarkan selera atau opini. Yaitu urusan pilihan kita akan beribadah kepada siapa. Kata ibadah dalam bahasa asli Perjanjian Lama pada dasarnya berarti mengabdi, menghambakan diri. Jadi beribadah lebih dari sekedar urusan hadir dalam kebaktian. Ia adalah urusan siapa atau apa yang kita pilih untuk kita jadikan sebagai TUAN atas kehidupan kita, kehidupan keluarga kita. Kepada siapa kita mau mengabdi, menghambakan diri kita.

Yosua menantang umat Israel untuk menetapkan pilihan mereka. “Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; …… Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” (Yos 24:15).

Tantangan ini sekarang juga diperhadapkan kepada kita dan keluarga kita. “Pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; materi, kedudukan, kekuasaan, pemuasan kenikmatan duniawi-jasmani, teknologi, atau …” Kiranya dengan hikmat Tuhan, bersama Yosua kita bisa menegaskan komitmen kita: “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN yang kami kenal di dalam Yesus Kristus!”

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *