PO-BOX

Ilustrasi PO-BOX. Foto: www.expatechodubai.com

Pdt. Darwin Darmawan,

Dalam bahasa Sunda gaul, kata PO-BOX adalah kependekan dari di-poyok (ejek, cemooh, rendahkan) tapi di-lebok(makan). Artinya, setelah seseorang mengejek, merendahkan, mencemooh tapi orang itu malah menikmati sesuatu dari yang dia rendahkan itu.

Keluarga Yefta melakukannya. Karena Yefta lahir dari seorang perempuan sundal, ia diusir oleh keluarganya. Akibat pengusiran itu, Yefta hidup bersama orang-orang yang dianggap sampah masyarakat. Alkitab mencatat, “maka larilah Yefta dari saudara-saudaranya itu dan diam di tanah Tob; di sana berkumpullah kepadanya petualang-petualang yang pergi merampok bersama-sama dengan dia”(Hak 11:3).

Setelah direndahkan dan diusir, Yefta ternyata dipanggil ketika orang Israel kesulitan. Mereka menderita karena diperangi bani Amon. Mereka datang kepada Yefta dan berkata:”Mari, jadilah panglima kami dan biarlah kita berperang melawan bani Amon.”( Hak 11:6). Yefta tidak mau. Dia berkata, bukankah dirinya dibenci dan diusir lalu kenapa sekarang dia dipanggil? Melalui dialog akhirnya Yefta bersedia menjadi pemimpin mereka, berperang melawan bani Amon.

Ketika akhirnya menang perang, Yefta kemudian diangkat menjadi kepala dan panglima mereka. Menariknya, Yefta tidak lalu sombong. Ia membawa semua yang dia alami kepada Tuhan (Hak 11:11). Artinya, Yefta bersyukur dan menjalani tanggung jawabnya di bawah pimpinan Tuhan.

Beberapa waktu lalu, saya mendengar seorang PNS yang benci kepada pemerintah. Setiap hari, dia menggerutu tentang bobroknya pemerintah. Tapi dia tidak sadar kalau menikmati gaji dari pemerintah. Ada juga ormas yang getol ingin mengganti demokrasi Pancasila dengan ideologi lain. Sayangnya ormas itu tidak sadar bahwa demokrasi Pancasila-lah yang selama ini memungkinkan mereka hidup dan bebas berpendapat.

Kita perlu menjalani kehidupan bersama dengan fair. Tidak boleh kita po-box, me-moyok(merendahkan, mencemooh, menghina) tetapi me-lebok-nya(memakan atau menikmatinya).

Termasuk kalau Saudara tidak suka dengan presiden atau gubernur tertentu. Saudara punya hak demokratis untuk bersikap seperti itu. Tapi berdemokrasi jugalah dengan dewasa! Bagaimana wujudnya? Jangan nyinyir, menghina dan merendahkannya. Jangan penuhi ruang medsos dengan kebencian dan sikap yang seakan-akan demokratis namun kekanak-kanakan. Silahkan kritik dengan sopan dan berdasar. Nanti ketika pemilihan, pilihlah pribadi yang sesuai aspirasi Saudara!

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *