Refleksi Harian 24 Juni 2015

Bacaan: 1 Samuel 19:8-17; Markus 6:45-52

Percaya Saja

Dalam kehidupan kita, percaya kepada orang lain merupakan keharusan. Sebagai bayi atau anak-anak, kita percaya bahwa orangtua kita akan selalu ada, memberikan yang kita butuhkan, menjaga dan melindungi kita. Ketika kita memiliki pasangan, kita percaya bahwa ia mengasihi kita, akan selalu ada buat kita, setia, dan lain sebagainya. Kita percaya bahwa sahabat kita tidak akan membocorkan rahasia kita. Kita percaya bahwa petugas keamanan akan menjaga mobil yang kita tinggalkan di tempat parkir. Kita percaya bahwa orang yang duduk di sebelah kita di bis tidak akan mencopet kita. Namun, kepercayaan kita tidak selamanya terbukti. Jika terjadi hal demikian, kita kehilangan kepercayaan terhadap orang tertentu. Pada kasus-kasus ekstrim, mungkin kita dapat trauma sedemikian rupa sehingga kita takut bahkan pada orang yang mirip dengan orang yang mengkhianati kita tersebut.

Untuk dapat percaya kepada seseorang atau sesuatu, kita membutuhkan bukti. Dalam kehidupan sehari-hari, sejak kecil, kita belajar mengumpulkan dan menganalisa bukti-bukti yang ada di sekitar kita, yang membantu kita memutuskan apakah kita dapat percaya kepada seseorang atau sesuatu.

Lalu bagaimana jika muncul sebuah bukti yang di luar dari segala kemungkinan yang kita ketahui dalam hidup kita sebelumnya? Bagaimana kita dapat memercayai sesuatu yang di luar pemahaman kita? Bukankah itu sesuatu yang sulit? Percaya kepada Tuhan adalah perkara yang sulit seperti itu. Hanya pengalaman saja yang dapat menjadi bukti bagi kita. Namun, manusia cenderung lebih mudah mengingat bukti yang buruk daripada yang baik, sebagaimana trauma kita terhadap orang yang menggugurkan kepercayaan kita. Sekalipun kita pernah mendapatkan bukti akan kasih, perlindungan, kemahakuasaan Tuhan dalam kehidupan kita, namun begitu kita mengalami “badai” dalam kehidupan, kita menjadi seperti murid-murid Yesus yang tidak mengerti dan hatinya degil. Beruntunglah kita bahwa di saat seperti itu, Tuhan mengatakan kepada kita: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *