Refleksi Minggu 29 Maret 2015

MEMBERI MAKNA PADA DERITA

Yesaya50:4-9a, Mazmur 118:1-2, 19-29, Filipi 2:5-11, Yohanes 12:12-16

Derita adalah hal yg bisa dialami oleh siapa saja. Manusia cenderung menghindari derita. Bahkan menganggap hal duniawi(kekayaan, jabatan) bisa menghindarkan diri dari derita. Namun, benarkah? Tak seorangpun bisa menghindarinya. Yang bisa kita lakukan adalah: bagaimana kita menghadapi penderitaan itu?
Yesus adalah guru dan teladan bagi kita; Dialah batu penjuru.

Minggu ini adalah minggu yg paradoks. Di satu sisi perayaan sukacita menyambut sang Raja dengan gegap gempita”Hosana…..!!!” Adalah teriak sukacita Yerusalem. Raja yg membawa Damai Sejahtera telah datang. Namun sekaligus Minggu Sengsara. Minggu yg penuh dgn pergumulan, dan Yesus tahu: Dia akan menghadapi kematian.

Namun, mengetahui itu semua, Yesus tetap tegar. Dia memilih utk menghadapinya dengan taat dan setia. Dia tidak malu, Dia tidak menghindar. Dia menjalani dgn percaya bahwa Allah Bapa-Nya pasti memberikan penyertaan. Dan bukankah iti yg dinyatakan oleh Paulus dalam ayat 9-11. Kepada-Nya diberi kemuliaan dan hormat.
Bagaimana dgn kita? Apakah kita menjalani derita, pergumulan, dukacita sbg seorang murid yg mau belajar: menjalaninya(berproses) utk taat dan setia, sambil terus percaya: Tuhan sumber kekuatan dan pertolongan kita.

(Pdt. Agus Wijaya)

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *