Refleksi Mingguan – 17 Mei 2015

Tema : DIKUDUSKAN DALAM KEBENARAN FIRMAN

Bacaan I : Kisah Para Rasul 1:15-17, 21-26

Antar Bacaan : Mazmur 1

Bacaan II : I Yohanes 5:9-13

Bacaan III : Yohanes 17:6-19

Dr. Ben Witherington III seorang pakar PB dari Amerika Serikat dalam sebuah bukunya menyatakan

bahwa di Amerika orang hidup di tengah budaya yang kental dengan sosok Yesus namun buta

Alkitab. Yesus adalah nama yang sangat terkenal, tapi sangat sedikit orang Amerika yang memahami

Alkitab. Di tengah kondisi seperti ini teori “ngawur” (kata yang digunakan Ben) apapun tentang

Yesus dan para pengikut perdana-Nya diterima sebagai pengetahuan oleh sebagian masyarakat.

GKI (khususnya di SW Jabar) sedang digiatkan Laporan Kehidupan dan Kinerja Jemaat. Inti utama

dari LKKJ adalah mencatatkan/mendatakan seluruh aktifitas umat dalam sebuah jemaat melalui data

angka. Menyorot data sementara yang ada (khususnya di lingkup GKI Klasis Jakarta Utara- GKI SW

Jabar) ditemukan data kehadiran umat pada kegiatan Pemahaman Alkitab dengan jumlah yang

sangat sedikit dibandingkan jumlah anggota jemaat dewasa yang ada. Kelihatannya kegiatan

Pemahaman Alkitab (PA) kurang diminati. Komentar umum yang sering disampaikan adalah bahwa

kegiatan PA terlalu serius, metodenya kurang menarik. Umat merasa hanya memerlukan hal-hal

yang praktis untuk kebutuhan sehari-hari dan PA dinilai kurang menjawab kebutuhan tsb.

Mengapa kegiatan Pemahaman Alkitab kurang diminati?

Apakah kita masih menyediakan waktu khusus untuk mempelajari Alkitab secara pribadi atau

kelompok ?

Apakah arti Firman bagi kita?

Injil Yohanes menerangkan bahwa Yesus adalah Firman. Yohanes 1:1 : Pada mulanya adalah Firman

Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ayat 14: Firman itu telah

menjadi manusia dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya yaitu kemuliaan

yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

Firman yang dimaksud oleh Injil Yohanes di sini adalah Yesus Kristus. Karya Yesus di dunia ini

merupakan wujud dari karya Allah. Yesus telah menyatakan kehadiran Allah melalui hidup-Nya.

Itulah pekerjaan yang sudah dilakukan-Nya (ayat 6)

Firman itu tidak berhenti hanya pada waktu Yesus ada dalam dunia. Yesus telah mempersiapkan

para murid-Nya untuk menghadirkan karya Allah dalam diri-Nya. Karena itu doa Yesus dalam Yoh.

17:19…Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya merekapun dikuduskan dalam kebenaran.

Apa arti doa Yesus ini?

Pertama, Yesus tidak mendoakan agar para murid agar para murid diambil dari dalam dunia

melainkan mereka di utus ke dalam dunia ini. Yesus tidak mengajarkan para murid untuk

mengisolasikan diri dari kehidupan sehari-hari melainkan memperlengkapi mereka untuk dapat

menjalankan tugas mereka dalam dunia.

Kedua, kata yang dipakai untuk menguduskan adalah hagiazein berasal dari kata hagios. LAI

menerjemahkan kata hagios dengan kata kudus. Kata hagiazein berarti:

1.Memisahkan (mengasingkan) untuk suatu tugas khusus. Kata ini lebih menunjukkan maksud dan

tujuan pemisahan. Yeremia dikuduskan untuk suatu tugas. Musa menahbiskan dan menguduskan

Harun juga untuk suatu tugas.

2. Hagiazein berarti juga melengkapi seseorang dengan mutu akal budi dan hati serta sifat yang

diperlukan bagi tugas itu.

Jika para murid dikuduskan itu berarti para murid dipisahkan serta diperlengkapi untuk

melaksanakan tugas sebagi murid Kristus di tengah dunia ini.

Lalu bagaimana dengan gereja masa kini, umat kristiani pada zaman kini dengan segala pergumulan

dunia saat ini?

Gereja masa kini berada pada situasi dunia yang sangat berat. Umat Tuhan diberikan banyak pilihan

dunia. Dalam begitu banyak pilihan umat membutuhkan perlengkapan khusus agar dapat

membedakan mana pilihan yang sesuai dengan kehendak Allah dan yang tidak.

Martin Luther mengatakan sola scriptura mengingatkan umat Tuhan untuk kembali kepada Alkitab.

Tidak terbantahkan bahwa pengenalan kita kepada Yesus Kristus yang adalah Firman yang menjadi

manusia bersumber dari Alkitab. Kita juga meyakini Alkitab adalah Firman Allah. Yesus mengatakan

manusia hidup bukan saja dari roti yang dimakan setiap hari melainkan dari setiap Firman yang

keluar dari mulut Allah (Matius 4:4).

GKI meyakini kebenaran dan kesaksian Alkitab yaitu kebenaran dan kesaksian sentralnya tentang

Kristus dan Kerajaan-Nya, melampaui ruang da waktu. Lebih lanjut lagi dikatakan bahwa kebenaran

dan kesaksian itu bukan hanya berlaku dalam budaya dan sejarah di mana ia dituliskan, tetapi

berlaku juga bagi kita dalam budaya dan sejarah kita, kini dan di sini.

Pemazmur dalam Mazmur 1 meyakini bahwa mereka yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan dan yang

merenungkannya siang dan malam seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air. Ia akan berbuah

pada musimnya dan tidak layu daunnya. Dengan kata lain pemazmur bersaksi bahwa jika umat

Tuhan hid dalam Firman Tuhan maka hidup yang dihasilkannya adalah hidup yang berbuah, yang

produktif. Dengan kata lain itulah yang Tuhan kehendaki. Senada dengan sabda Yesus dalam Yoh.

15:5 …barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku

kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Hidup berbuah itulah yang menjadi misi hidup Paulus Dalam

Filipi 1:22 …jika aku harus hidup di dunia ini, ituberarti bagiku bekerja memberi buah…

Pemazmur meyakini Firmanmu itu adalah pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku (Mazmur

119:105). Bagi pemazmur kebutuhan akan pelita itu mutlak. Baginya tanpa pelita ia tidak mungkin

dapat berjalan. Tanpa pelita kakinya terantuk dan tergelincir. Tanpa pelita ia salah arah. Begitulah ia

mengartikan bagaimana kebutuhan akan pelita itu amat besar sebagaimana kebutuhan akan firman

Tuhan dalam hidupnya.

Firman Tuhan dipahami oleh pemazmur sebagai taurat Tuhan. Ia senantiasa membacanya berulang-

ulang dan merenungkannya. Membaca Taurat tidak sama dengan membaca koran atau majalah.

Membaca Taurat membutuhkan perenungan untuk menemukan apa yang Tuhan kehendaki dalam

hidup si pembaca.

Jika pemazmur menjadikan Firman Tuhan sebagai kebutuhan utama bagaimana dengan kita?

Apakah sola scriptura masih menjadi moto hidup kita sebagai umat Tuhan pada masa kini?

Pdt.Ellisabeth Hasikin

Khotbah Minggu di GKI Kepa Duri-Jakarta Barat.

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *