Refleksi Mingguan – 7 Juni 2015

 

IMAN, OBAT ANTI TAWAR HATI

I Sam. 8:4-20; Maz.138; II Kor. 4:13-15:1; Mar.3:20-35

Film Shaolin, yang dibintangi antara lain oleh aktor Andy Lau, Jackie Chan dan Nicholas Tse,

menceritakan kepemimpinan seorang Jenderal besar yang diperankan oleh Andy Lau. Sang jenderal

yang saat itu sedang berjaya, sanggup melakukan apa pun kepada siapa pun yang menentangnya.

Bahkan, siapa saja yang lari darinya dan bersembunyi di biara atas gunung, termasuk Biksu pimpinan

biara pun tak lepas dari kekejamannya, dibunuh tanpa belas kasihan. Singkat cerita, suatu hari anak

buah sang jenderal mengkhianatinya, menyebabkan kematian anak perempuan tunggalnya, sedang

istrinya meninggalkannya dengan penuh penyesalan dan tuduhan terhadap dirinya sebagai

penyebab hilangnya nyawa sang puteri. Dalam keadaan tawar hati, tak berpengharapan, putus asa,

kehilangan: teman, anak buah, tahta, harta, dan keluarga, ke manakah sang jenderal melarikan diri

dari angkara murka anak buahnya yang hendak membalas dendam atas kebengisannya dulu? Ya….ia

menuju ke atas gunung, ke biara! Tempat dirinya pernah mengejar musuhnya yang bersembunyi dan

tanpa ampun membunuhnya, termasuk membunuh Biksu tua pimpinan biara yang melindungi

buruannya!

Samuel sebagai Imam Tuhan yang saat itu beranjak tua, mengalami penolakan oleh bangsa Israel

yang dipimpinnya. Apalagi kedua puteranya tidak menunjukkan sikap kepemimpinan dengan takut

akan Tuhan. Puteranya ditolak, dirinya sebagai pemimpin juga ditolak, karena Israel meminta

seorang raja seperti bangsa-banga lain di sekitar Israel saat itu. Tentu tidak mudah baginya

menerima perlakuan bangsa Israel, karena ia sudah ada di Bait Allah dan belajar menjadi pemimpin

sejak masa kanak-kanak. Namun Tuhan mengingatkan Samuel, bahwa bukan dirinya yang ditolak,

tapi Israel menolak Tuhan – pemimpin yang tak kelihatan itu. Dalam siatuasi tertolak, Samuel

sebagai pemimpin memilih datang dan berbicara kepada Tuhan.

Paulus dalam II Korintus 4:16, mengajak umat untuk tidak tawar hati. Bahkan di saat manusia

lahiriah merosot – saat usia menapaki senja. Ketika kita beriman kepada Tuhan, maka usia boleh tua

namun manusia batiniah (hati manusia) dibaharui dari sehari ke sehari. Beriman kepada Tuhan,

menghantar setiap umat percaya untuk menjalani pergumulan hidup di dunia ini dengan penuh

pengharapan. Sehingga dalam segala situasi, kita dapat mengatasi permasalahan ketika apa yang

menjadi harapan tidak berjalan beriringan dengan kenyataan hidup kita.

Tawar hati, bisa menghinggapi siapa saja, dalam status dan fungsi sosial apa pun. Bahkan dalam

segala usia, dari yang muda pun Samuel yang berusia senja. Dan di saat tawar hati yang berakibat

putus asa, manusia membutuhkan waktu untuk retreat, mundur dari segala hiruk pikuk dunia untuk

mengenali kembali diri dan tugas panggilannya di tengah dunia. Pilihan untuk tawar hati memang

beragam, seperti: sensitif karena merasa ditolak, galau, keinginan bunuh diri, perasaan bersalah

yang berlebihan dan selanjutnya. Apakah dengan tawar hati, lalu masalah akan selesai? Tentu saja

tidak. Tawar hati adalah masa ketika pengharapan dan kenyataan tidak berjalan beriringan. Dan di

lubuk hati manusia yang terdalam, kita diingatkan akan hubungan diri dengan penciptaNya.

Bagaimana iman kita kepadaTuhan, dapat menyambut masalah yang menderanya? Kita perlu terus

bergumul dalam iman kepada Tuhan, sehingga dapat memahami maksud Tuhan dalam kehidupan

kita. Mari bergumul bersama Tuhan. (Pdt. Untari Setyowati)

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *