Refleksi Tulang Bawang

SINODEGKI.ORG – Menyambut raja Salman

1 Maret 2017, sejak jam 10.30  ribuan warga Bogor antusias menyambut kedatangan raja Salman.  Ada anak-anak sampai orang dewasa.  Sebagian besar mereka adalah siswa sekolah.  Mulai SD sampai SMA. Mereka memegang bendera Arab Saudi dan Indonesia. Hampir semua terlihat gembira. Ada yang tertawa-tawa, ada yang memerhatikan bendera yang ada di tangan mereka, ada yang bercanda dengan kawannya. Sebagian ada yang mengernyitkan mata, menahan terik mentari yang cukup menyengat panasnya.  Ada juga yang matanya terlihat kosong memandang ke satu arah, sementara tangannya mengibar-ngibarkan bendera.

Mereka menanti cukup lama. Raja Salman baru tiba sekitar jam 2. Namun itu tidak mengurangi antusiasme mereka. Beberapa menit sebelum raja Salman tiba, mereka dikuasai perasaan gembira dan bangga. Ada yang semakin lebar senyumnya. Ada yang semakin cepat mengerakkan tangannya mengibarkan bendera, ada yang loncat-loncat sambil tertawa. Entah  apa yang membuat mereka  terlihat gembira. Mungkin mereka merasa bangga dan bahagia, karena ikut menjadi tuan rumah yang menyambut tamu negara.

Beberapa saat sebelum raja Salman tiba,  hujan turun dengan derasnya. Angin juga bertiup kencang. Karena tidak membawa payung, sebagian besar dari mereka basah kuyup. Awalnya sebagian besar dari mereka kelihatan bingung, ingin mencari tempat berteduh. Tetapi itu urung dilakukan. Selain karena tidak ada tempat berteduh di pinggir jalan, sepertinya mereka ingin tetap menyambut tamu negara. Jadi mereka tetap berdiri di pinggir jalan.

Penantian sekitar 3 jam terbayar lunas, ketika iring-iringan rombongan Presiden dan Raja melewati mereka. Beberapa pejabat pemerintah membuka kaca, melambaikan tangan dan tersenyum  ke arah mereka, di beberapa titik sebelum memasuki Istana negara. Setelah rombongan masuk, sebagian besar mereka tetap bertahan di luar istana. Mereka tetap tersenyum, mengibar-ngibarkan bendera, walau Presiden Jokowi, raja Salman dan rombongan sudah tidak memerhatikan mereka. Setelah cukup puas memandang ke dalam istana, mereka pun kembali ke rumah.

Karena berdiri di bawah terik mentari dan hujan yang deras dalam jangka waktu yang cukup lama, di antara para siswa ada yang pusing, batuk-batuk atau merasa tidak enak badan. Mungkin  saja esok harinya mereka tidak bersekolah. Sebagian dari mereka yang tidak punya sepatu atau seragam cadangan, pasti kebingungan bagaimana bersekolah esok harinya, sebab sepatu atau seragam mereka basah semua.  Tapi itu semua tidak membuat mereka mengeluh. Keponakan saya salah satunya. Walau ia merasa tidak enak badan, ia merasa senang dan bangga sebab bisa berperan serta menyambut tamu negara.

Cinta rakyat yang  bertepuk sebelah tangan

Sambutan terhadap raja Saudi Arabia memang meriah. Bukan saja ribuan orang berdiri di pinggir jalan untuk menyambutnya. Satu minggu sebelum kedatangan beliau, pemerintah kota Bogor sibuk berbenah. Beberapa taman yang belum ada pohon atau bunga, disulap secara cepat menjadi taman yang enak dilihat. Beberapa titik yang terlihat jelek ditutup dengan tulisan besar welcome to Bogor, the most loveable city. Keramah-tamahan ini tentu saja baik adanya. Budaya Timur memang sangat menghormati tamu yang berkunjung ke rumah kita. Hanya saja, keramaha tamahan tersebut dibangun di atas kepura-puraan dan pengorbanan banyak orang.

Di atas kepura-puraan, sebab sebelum raja Salman datang, taman-taman yang jelek tidak terurus. Bagian-bagian jalan yang kotor, tidak dibersihkan. Pohon-pohon yang rindang dan tidak enakdipandang karena dahannya menjulang ke jalan dibiarkan seperti itu. Baru ketika ada tamu negara, pemerintah sibuk berbenah. Kita maklum jika ingin memberi kesan bahwa negara kita itu rapi dan enak dipandang. Kita juga mengerti, membuat tamu senang itu baik. Tetapi akan jauh lebih baik kalau pemerintah membuat taman, jalan dan lingkungan baik juga walau tidak ada tamu yang melihatnya. Jangan sampai pemerintah berbenah hanya demi menyenangkan pihak luar. Kalau itu yang terjadi berarti pemerintah senang membangun sesuatu di atas sesuatu yang palsu.  Seakan-akan baik ternyata tidak baik. Seakan-akan bagus ternyata tidak bagus. Seakan-akan rapi ternyata tidak rapi.

Di atas pengorbanan banyak orang, sebab raja Salman yang terkesan dengan sambutan masyarakat Indonesia yang hangat dan ramah, adalah buah dari anak-anak sekolah yang berkorban. Mereka berdiri berjam-jam, kepanasan lalu kehujanan.  Mereka bukan saja kecapean tetapi beberapa merasa  tidak enak badan.  Anak-anak itu adalah gambaran rakyat kebanyakan. Mereka siap berkorban untuk kepentingan yang lebih besar dari diri mereka. Mereka melakukannya dengan gembira. Mereka puas kalau bisa berbuat sesuatu untuk  bangsa, sesuatu yang mereka bayangkan sebagai hal yang lebih besar dari diri mereka.  Ya, mereka menyintai bangsa.

Sayangnya, cinta rakyat kepada bangsa acapkali bertepuk sebelah tangan. Pemerintah yang diberikan kepercayaan untuk memajukan bangsa, tidak jarang mengorbankan rakyat sederhana,  demi kemajuan, pembangunan, kesejahteraan.  Dalam perjalanan bangsa ini, kemajuan dan pembangunan acapkali dibangun di atas keringat, air mata, penderitaan  bahkan kematian rakyat-rakyat sederhana.  Tengoklah konflik-konflik agraria atau di sekitar pertambangan di beberapa tempat di Indonesia. Rakyat sederhana sering kehilangan haknya atas tanah, tempat tinggal , kesehatan, karena korporasi yang tidak pernah puas memburu rente. Dalam keadaan demikian, pemerintah lebih berpihak kepada korporasi dibandingkan rakyat sederhana.

Masyarakat Tulang Bawang contohnya. Sebagai transmigran di tahun 80 an, mereka memiliki hak atas tanah untuk hidup dan sumber mata pencaharian. Tetapi tanah tersebut diambil secara manipulatif dan paksa oleh pemodal yang berkelindan dengan penguasa.  Selama puluhan tahun mereka berjuang menuntut hak mereka dikembalikan. Tetapi, selama itu juga mereka menemukan jalan buntu. Mereka bukan saja menerima kekerasan verbal dan fisik. Beberapa di antara mereka bahkan ada yang dipenjara dan meninggal dunia. Mereka sudah mengadukan hal ini ke pemerintah. Mulai dari bupati, gubernur, menteri bahkan Presiden. Tetapi hingga saat ini keadilan tak kunjung didapatkan. Baru-baru ini, beberapa orang yang mendampingi perjuangan mereka, ditangkap dan dikriminalisasi. Mereka dituntut oleh jaksa 3 tahun penjara. Hari ini, hakim memutuskan mereka dihukum rata-rata 2 tahun penjara.

(jangan) Membangun di atas derita rakyat

Di tengah gencar-gencarnya pemerintah Indonesia membangun , mata batin kita perlu jernih melihat, apakah pembangunan tersebut mengorbankan hak-hak dasar rakyat sederhana? Apakah pembangunan tersebut sungguh-sungguh ditujukkan untuk menyejahterakan mereka? Apakah pembangunan infrastruktur yang sedang digenjot besar-besaran, dilakukan untuk keperluan orang sederhana seperti para petani di Tulang Bawang atau demi memburu rente, yang sering menjadi tuhan baru untuk masyarakat modern? Apakah mereka yang menyintai bangsanya, tidak sekedar dijadikan penonton kegembiraan atau objek dari proyek-proyek  pembangunan dan kemajuan bangsa, seperti para siswa yang menyambut  kedatangan tamu negara?

Terhadap pemerintahan Jokowi  masyarakat sederhana seperti para petani Tulang Bawang menaruh harap. Itu sebab, 1 Maret 2017 lalu, bertepatan dengan kehadiran raja Salman, mereka menceritakan perjuangan dan harapan mereka ke Bapak Usep, salah satu staf  di kantor Staf Kepresidenan. Bapak Usep berjanji akan menyampaikan hal  tersebut ke kepala KSP, Bapak Teten Masduki. Semoga- demikian harapan Bapak Usep yang menjadi harapan para petani juga- perjuangan kawan-kawan petani di Tulang Bawang sampai ke Presiden Jokowi.

Mengapa perlu didengar Presiden Jokowi? Sebab mereka percaya, Jokowi bukan pemimpin yang membangun di atas air mata dan derita rakyat sederhana seperti mereka. Mereka percaya, Jokowi adalah orang yang berhati tulus, baik dan sederhana, yang orientasi kepemimpinannya untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia, termasuk rakyat sederhana seperti mereka. Mereka percaya, Jokowi adalah pemimpin yang berani menegakkan keadilan, termasuk jika itu harus menghantam para pemilik modal dan pemburu rente yang bisnisnya tidak jujur.

Apakah kepercayaan mereka benar? Waktu yang bisa menjawab itu. (Darwin Darmawan)

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *