Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu

Efesus 4:31

Serdadu-serdadu Portugal yang berlayar ke Asia Tenggara tahun 1500-an terkesima menyaksikan orang-orang Melayu marah. Mereka melampiaskan kemarahan dengan cara destruktif, anarkis, dan fatalistis. Duarte Barbosa dalam buku Amuco (1518) menulis, ”Orang-orang ’amuco’ berlarian ke seluruh penjuru merusak semua benda dan membunuhi tiap orang yang ditemui.” Dua dekade kemudian, para pendatang Inggris menyaksikan fenomena ”amock”. Di kamus bahasa Inggris, ”to run amock” artinya orang membunuhi siapa pun untuk balas dendam yang didahului ritual mabuk-mabukan. Kata ”amock” itu lalu berubah jadi ”amok”. (Budiarto Shambazy dalam Harian Kompas, 7/2/2009)

Alkitab tidak mengatakan bahwa kita tidak boleh marah, tetapi dikatakan supaya kita mengelola kemarahan dengan baik. Amarah tidak terkendali hanya akan menghancurkan hati dan relasi. Paulus mengingatkan kita bahwa kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah tidak pada tempatnya bercokol lama-lama dalam diri. Seperti sampah, hal-hal demikian harus dibuang. Saat amarah menerpa hati, kita dapat menggunakan hikmat Allah untuk mengenali penyebab kemarahan itu. Pengampunan dan pendamaian jauh lebih berguna ketimbang perseteruan dan pertikaian yang biasanya selalu berlanjut dengan balas membalas membentuk lingkaran kekerasan.

Youth, amuk massa selalu dimulai dari amarah yang tidak terkendali. Seperti api kecil yang dapat membakar seluruh hutan, kemarahan yang tidak terkelola dengan baik hanya akan menyebabkan kerusakan dan kebencian yang tidak lagi menggunakan akal sehat dan hati nurani. Waspadalah Youth! Ngapain nyimpen “sampah-sampah” dalam hati kita?

Langkah-langkah apakah yang akan Anda lakukan saat Anda menjadi marah?

Pdt. Essy Eisen

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *